Mahasiswa Soroti Pelemahan Rupiah, Kinerja Bank Indonesia Diminta Evaluasi
Suara Pecari | Jakarta – Mahasiswa Soroti Pelemahan Rupiah Kinerja Bank Indonesia Diminta Evaluasi LPP RRI menjadi sorotan utama dalam diskusi ekonomi nasional. Sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur menyuarakan keprihatinan atas terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mereka mendesak Bank Indonesia (BI) untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan moneter yang dianggap belum efektif dalam menjaga stabilitas rupiah.
Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur, Yusfan Firdaus, menyatakan bahwa publik perlu memahami pembagian kewenangan antara pemerintah dan BI dalam pengelolaan ekonomi. Pemerintah telah menjalankan kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan, namun stabilitas nilai tukar menjadi tanggung jawab BI sebagai otoritas moneter. Menurutnya, Mahasiswa Soroti Pelemahan Rupiah Kinerja Bank Indonesia Diminta Evaluasi LPP RRI sebagai bentuk kontrol publik terhadap kebijakan yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
“Bank Indonesia harus menjelaskan secara terbuka arah kebijakan yang diambil. Agar tidak menimbulkan kecurigaan dan spekulasi di tengah masyarakat,” ujar Yusfan dalam keterangan persnya, Minggu (7/6/2026). Ia menambahkan, transparansi kebijakan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik, terutama di tengah tekanan global seperti kenaikan suku bunga The Fed yang memicu aliran modal keluar.
Yusfan juga meminta BI memperkuat akuntabilitas kepada publik. Masyarakat perlu memperoleh penjelasan yang memadai mengenai langkah-langkah yang dilakukan otoritas moneter dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah. Sebagai tindak lanjut, BADKO HMI Jawa Timur berencana menggelar konsolidasi mahasiswa untuk membahas kondisi ekonomi nasional dan merumuskan langkah advokasi terkait kebijakan moneter yang dinilai perlu dievaluasi.
Kritik yang disampaikan merupakan bagian dari kontrol publik dalam sistem demokrasi. Yusfan berharap evaluasi terhadap kebijakan ekonomi dilakukan secara objektif dengan mengedepankan kepentingan nasional. Ia menegaskan bahwa Mahasiswa Soroti Pelemahan Rupiah Kinerja Bank Indonesia Diminta Evaluasi LPP RRI bukan sekadar kritik, tetapi juga upaya mendorong perbaikan tata kelola ekonomi.
Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah sepakat memperkuat sinergi fiskal dan moneter guna membentengi nilai tukar rupiah dari gejolak global. Langkah ini diambil menyusul aliran modal keluar akibat kenaikan suku bunga di pasar luar negeri. Perry menegaskan bahwa koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal terus diperkuat. “Penguatan koordinasi fiskal moneter itu terus kita lakukan, dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama. Saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Mahasiswa menilai sinergi tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang lebih responsif terhadap kondisi riil masyarakat. Pelemahan rupiah telah mendorong kenaikan harga barang impor, terutama bahan baku industri dan produk elektronik. Hal ini berdampak pada inflasi dan menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Dalam kesimpulannya, Mahasiswa Soroti Pelemahan Rupiah Kinerja Bank Indonesia Diminta Evaluasi LPP RRI menjadi momentum bagi BI untuk lebih terbuka dan akuntabel. Transparansi kebijakan dan evaluasi menyeluruh diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan publik serta menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











