COO Danantara Bukan 1MDB, Risiko Pengelolaan BUMN dan Investasi Dipisah
Suara Pecari | Jakarta – Kelembagaan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia dipastikan berbeda dengan model pengelolaan investasi 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Sejak awal pembentukannya, Danantara menerapkan pemisahan yang tegas antara pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan aktivitas investasi guna meminimalkan risiko. Demikian disampaikan Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria dalam podcast Bukan Kaleng Kaleng, dikutip Jumat, 12 Juni 2026.
Menurutnya, kekhawatiran sebagian masyarakat yang membandingkan Danantara dengan 1MDB muncul karena adanya konsolidasi aset BUMN yang dibarengi dengan fungsi investasi dalam satu entitas. Namun, Dony memastikan, Danantara memiliki mekanisme dan tata kelola yang berbeda melalui pemisahan fungsi pengelolaan aset dan investasi. Ia menegaskan bahwa struktur Danantara dirancang berbeda pemilahan risiko antara pengelolaan BUMN dengan investasi.
“Dari awal mendesain Danantara, kita sudah berpikir harus terjadi pemilahan risiko antara pengelolaan BUMN dengan investasi. Karena yang namanya investasi itu bisa gagal, bisa menghasilkan,” kata Dony. Ia menjelaskan, tanpa pemisahan risiko tersebut, kegagalan investasi berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kinerja BUMN. Di mana, perusahaan pelat merah selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.
“Anda bisa bayangkan kalau kemudian kita berinvestasi dan investasinya gagal, bisa menyeret BUMN-nya. Karena itu dari awal kita sudah mendesain itu, kita pecah,” ujarnya.
Dua Pilar Danantara: Asset Management dan Investment Management
Dony mengungkapkan bahwa Danantara dibangun dengan dua pilar utama. Pilar pertama adalah Danantara Asset Management yang bertugas sebagai konsolidator sekaligus pengelola portofolio BUMN. Sementara pilar kedua adalah Danantara Investment Management yang berfungsi sebagai lengan investasi untuk menempatkan dana pada berbagai proyek produktif.
“Danantara Asset Management sebagai konsolidator BUMN-BUMN, dan Danantara Investment Management sebagai investment arm-nya,” ujarnya.
Pemisahan ini memastikan bahwa setiap pilar memiliki fokus dan tanggung jawab yang jelas, sehingga risiko investasi tidak mengganggu operasional BUMN. Dengan demikian, BUMN tetap dapat menjalankan perannya sebagai penyedia layanan publik dan penggerak ekonomi tanpa terbebani oleh fluktuasi hasil investasi.
Dividen BUMN Jadi Sumber Investasi
Lebih lanjut, Dony menegaskan bahwa dana yang digunakan untuk investasi tidak berasal dari aset pokok BUMN. Dana investasi tersebut bersumber dari dividen yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara yang berada di bawah pengelolaan Danantara Asset Management.
“Yang diinvestasikan adalah dividen. Jadi, dividen yang dihasilkan oleh Danantara Asset Management diinvestasikan untuk hal yang produktif, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,” katanya.
Karena itu, ia menilai kualitas pengelolaan BUMN menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan Danantara. Kinerja BUMN yang baik akan menghasilkan dividen lebih besar yang selanjutnya dapat digunakan untuk mendukung investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pengelolaan BUMN ini menjadi kata kunci utama untuk keberlanjutan Danantara. Kalau kita keliru mengelola BUMN-nya, Danantara-nya pasti gone. Karena kunci yang diinvestasikan adalah hasil pengelolaan BUMN-nya,” ucap Dony.
Perbandingan Struktur Danantara vs 1MDB
| Aspek | Danantara | 1MDB |
|---|---|---|
| Pemisahan risiko | Ya, pengelolaan BUMN dan investasi dipisah | Tidak, semua aset dan investasi dalam satu entitas tanpa pemisahan risiko yang jelas |
| Sumber dana investasi | Dividen dari BUMN yang dikelola | Pinjaman dan obligasi yang dijamin pemerintah |
| Struktur organisasi | Dua pilar: Asset Management dan Investment Management | Single entity dengan fungsi ganda |
| Tujuan | Mengoptimalkan aset BUMN dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi produktif | Investasi strategis dan pembangunan, namun disalahgunakan |
| Tata kelola | Transparan dan akuntabel dengan pemisahan fungsi | Opaque dan lemah, memicu skandal korupsi |
Dampak dan Implikasi bagi Perekonomian Nasional
Pemisahan risiko dalam Danantara diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Pertama, BUMN tetap menjadi pilar ekonomi yang stabil karena tidak terbebani risiko investasi yang gagal. Kedua, investasi produktif yang didanai dari dividen BUMN dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, energi, dan teknologi.
Namun, keberhasilan model ini sangat bergantung pada kualitas pengelolaan BUMN. Jika BUMN tidak dikelola secara profesional dan efisien, dividen yang dihasilkan akan rendah, sehingga dana investasi pun terbatas. Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa manajemen BUMN diisi oleh tenaga profesional yang kompeten dan bebas dari intervensi politik.
Selain itu, tata kelola Danantara sendiri harus diawasi secara ketat untuk mencegah penyalahgunaan wewenang. Meskipun pemisahan risiko sudah dirancang, pengawasan independen dan transparansi tetap menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.
Kronologi Pembentukan Danantara
- 2024: Pemerintah mengumumkan rencana pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai bagian dari reformasi BUMN.
- 2025: UU tentang Danantara disahkan, mengatur struktur dua pilar dan pemisahan risiko.
- Awal 2026: Danantara resmi beroperasi dengan Dony Oskaria sebagai COO.
- Juni 2026: Dony Oskaria memberikan klarifikasi di podcast Bukan Kaleng Kaleng, menegaskan perbedaan dengan 1MDB.
Pernyataan Dony Oskaria sekaligus menegaskan bahwa Danantara dirancang dengan sistem pemisahan risiko yang bertujuan menjaga aset dan kinerja BUMN tetap terlindungi. Sekaligus memungkinkan pengembangan investasi produktif untuk mendukung agenda pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan fondasi yang kuat, Danantara diharapkan menjadi model pengelolaan BUMN dan investasi yang inovatif dan berkelanjutan, membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi yang lebih baik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











