Kenteng: Bom Kolonial yang Diubah Menjadi Penanda Salat di Pesantren Ploso, Kediri
Latar Belakang Sejarah Bom Kolonial di Kediri
Suara Pecari | Pada akhir 1940-an, ketika Republik Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya, militer Belanda melancarkan serangkaian operasi militer di Jawa Timur. Salah satu taktik yang digunakan adalah penempatan bom tak berjangka (unexploded ordnance) di daerah strategis untuk menghambat pergerakan gerilya. Salah satu bom tersebut jatuh di wilayah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Bom berukuran sedang, berongga besi tebal, dan memiliki daya ledak tinggi. Keberadaannya terdeteksi oleh warga setempat setelah suara dentuman kecil terdengar pada malam 1949, namun bom tersebut tidak meletus.
Transformasi Menjadi Kenteng: Ide Kreatif di Balik Penanda Waktu
Setelah Indonesia merdeka, bom tak meledak itu menjadi benda yang menakutkan sekaligus menarik perhatian warga. Pada awal 1950-an, para pengurus Pondok Pesantren Al‑Falah Ploso, yang dipimpin oleh KH Abdussalam Shohib, memutuskan untuk tidak membuangnya. Menurut mereka, bom itu adalah saksi bisu perjuangan bangsa dan sekaligus peluang untuk menumbuhkan nilai kreatifitas. Dengan bantuan beberapa tukang besi lokal, selongsong bom diubah menjadi sebuah alat pukul besar berwarna perak yang kemudian dikenal sebagai “kenteng”.
“Segala sesuatu itu sebenarnya netral, tinggal bagaimana kreativitas dan inovasi kita untuk memanfaatkan sesuatu,” ujar KH Abdussalam dalam sebuah wawancara di teras gubuk pesantren pada 21 Juni 2026. Kenteng kemudian dipakai sebagai penanda ritme harian santri, menggantikan gong tradisional yang biasanya dipakai di pesantren lain.
Kronologi Peristiwa
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1949‑1950 | Bom Belanda dijatuhkan di Ploso, tidak meledak karena “karomah” para masyaikh setempat. |
| 1951 | Warga menemukan bom, dibawa ke pondok pesantren Al‑Falah. |
| 1952‑1953 | Modifikasi selongsong bom menjadi kenteng oleh tukang besi dan santri. |
| 1970‑1980 | Kenteng menjadi simbol identitas pesantren, dipakai dalam ritual harian. |
| 2020‑2026 | Kenteng mendapat sorotan media nasional, dijadikan contoh kreativitas Islam di era modern. |
Peran Kenteng dalam Kehidupan Santri
Setiap hari, kenteng dipukul dengan ritme tertentu untuk menandai:
- Masuknya adzan Subuh dan panggilan sholat berjamaah.
- Berakhirnya sesi tahfizh dan pergantian kelas mengaji.
- Waktu istirahat dan makan siang.
- Pengumuman acara khusus, seperti majelis taklim atau peringatan hari besar Islam.
Suara dentuman kenteng yang khas menembus udara pagi di Ploso, membangkitkan semangat santri dan mengingatkan mereka akan sejarah panjang tanah mereka. Cerita persaingan mendapatkan giliran memukul kenteng juga menjadi bagian dari folklore pesantren, menumbuhkan rasa kebersamaan sekaligus kompetisi sehat di antara para santri.
Dampak Sosial, Budaya, dan Edukasi
Sosial: Kenteng menjadi titik pertemuan lintas generasi. Alumni yang pernah merasakan dentuman pertama kali kini kembali ke pesantren untuk memberi ceramah, menjalin jaringan sosial yang kuat. Keunikan ini juga menarik wisatawan religi yang ingin melihat artefak sejarah hidup.
Budaya: Transformasi bom menjadi kenteng menegaskan nilai “re‑use” dalam budaya Islam Indonesia, yang mengedepankan kebijaksanaan memanfaatkan apa yang ada tanpa merusak lingkungan. Praktik ini selaras dengan konsep takluf (menyulap sesuatu yang negatif menjadi positif).
Edukasi: Kenteng menjadi alat pembelajaran sejarah bagi santri. Dalam kelas sejarah lokal, guru mengaitkan suara kenteng dengan peristiwa 1949‑1950, menjelaskan konteks kolonial, dan menumbuhkan rasa kritis terhadap warisan kolonial. Selain itu, proses modifikasi kenteng menjadi studi kasus teknik metalurgi sederhana yang diajarkan dalam mata pelajaran prakarya.
Perspektif Alumni, Keluarga Besar, dan Pemerintah Daerah
Alumni Pondok Pesantren Ploso menyatakan kebanggaan mereka atas inovasi tersebut. “Kenteng bukan hanya alat, tapi simbol ketangguhan. Kami belajar bahwa sesuatu yang tampak berbahaya bisa diubah menjadi manfaat,” kata seorang alumni tahun 1990. Keluarga besar pesantren menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini melalui dokumentasi foto dan video yang kini disimpan di arsip pesantren.
Pemerintah Kabupaten Kediri, dalam rapat kerja 2025, menambahkan Kenteng Ploso ke dalam daftar warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) provinsi Jawa Timur. Dukungan ini membuka peluang pendanaan untuk perawatan kenteng dan pelatihan pembuatan alat serupa di pesantren lain.
Implikasi Ke Depan: Inovasi Berbasis Warisan
Keberhasilan Kenteng membuka dialog nasional tentang potensi mengubah barang berbahaya atau usang menjadi sarana edukatif dan religius. Beberapa pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah telah mengirim delegasi untuk mempelajari proses modifikasi, berharap dapat mengadaptasi metode serupa dengan artefak lokal masing‑masing.
Selain itu, inisiatif ini memberi contoh bagi lembaga keamanan publik dalam penanganan UXO (unexploded ordnance). Alih‑fungsi benda berbahaya menjadi aset budaya dapat mengurangi beban penjinakan serta meningkatkan kesadaran akan sejarah konflik.
Dengan menggabungkan nilai sejarah, kreativitas, dan fungsi religius, Kenteng Ploso menjadi contoh konkrit bagaimana komunitas dapat mengubah warisan kelam menjadi cahaya kebijaksanaan. Semangat ini diharapkan terus menginspirasi generasi muda, tidak hanya di Kediri, tetapi di seluruh pelosok Indonesia, untuk selalu mencari peluang transformasi dalam setiap tantangan yang datang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












