Hijrah Bukan Sekadar Tren, tetapi Proses Menjadi Lebih Baik
Suara Pecari | Kediri, 3 Juli 2026 – Fenomena hijrah yang kian marak di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan publik figur, telah menjadi topik perbincangan hangat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik tren perubahan penampilan dan gaya hidup yang tampak, para ulama dan akademisi mengingatkan bahwa esensi hijrah jauh lebih dalam: sebuah proses transformasi diri yang dilandasi ilmu, keikhlasan, dan istiqomah. Dosen Universitas Strada Indonesia, M. Asad Efendy, menegaskan bahwa hijrah sejati bukanlah sekadar ikut-ikutan, melainkan komitmen jangka panjang untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT.
Memahami Hijrah: Lebih dari Sekadar Simbol
Hijrah secara bahasa berarti meninggalkan atau berpindah. Dalam konteks keislaman, hijrah dimaknai sebagai perpindahan dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Fenomena hijrah yang melanda Indonesia, terutama sejak awal 2020-an, seringkali diidentikkan dengan perubahan penampilan seperti penggunaan cadar, gamis, atau jenggot, serta meninggalkan kebiasaan lama seperti musik dan hiburan. Namun, M. Asad Efendy mengingatkan bahwa perubahan lahiriah tanpa dibarengi perubahan batiniah hanya akan menjadi tren sesaat.
Lima Landasan Hijrah yang Kokoh
Dalam pernyataannya kepada RRI pada Kamis, 2 Juli 2026, M. Asad Efendy memaparkan lima hal krusial yang harus diperhatikan agar hijrah tidak sekadar menjadi tren, melainkan proses yang istiqomah dan berdampak nyata. Kelima landasan tersebut dapat disajikan dalam tabel berikut:
| No | Landasan | Penjelasan |
|---|---|---|
| 1 | Meluruskan Niat | Niat semata-mata karena Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau mengikuti tren. Niat yang benar menjadi fondasi seluruh langkah hijrah. |
| 2 | Membekali Diri dengan Ilmu | Ilmu syari (agama) menjadi bekal agar hijrah tidak sia-sia. Tanpa ilmu, seseorang mudah tersesat atau terjebak dalam praktik yang keliru. |
| 3 | Bertahap dan Prioritas | Fokus memperbaiki ibadah wajib terlebih dahulu, kemudian sunnah. Perubahan drastis seringkali tidak bertahan lama. |
| 4 | Menata Lingkungan Pergaulan | Lingkungan sangat memengaruhi konsistensi hijrah. Bergaul dengan orang-orang saleh membantu menjaga semangat dan keistiqomahan. |
| 5 | Memperbanyak Doa | Memohon kepada Allah agar diteguhkan hati, diberi kekuatan, dan tetap istiqomah dalam kebaikan. |
Fenomena Hijrah di Kalangan Publik Figur
Tren hijrah di Indonesia tidak lepas dari peran para selebritas, artis, dan tokoh publik yang memutuskan untuk berhijrah. Fenomena ini mendapat sorotan luas karena perubahan penampilan dan gaya hidup mereka yang kontras dengan masa lalu. Namun, M. Asad Efendy mengingatkan bahwa publik figur juga harus menjadi teladan dalam hal keilmuan dan keistiqomahan, bukan sekadar tampilan. “Jika hijrah hanya sebatas tren, maka ketika tren berganti, hijrah pun akan ditinggalkan. Padahal hijrah adalah perjalanan seumur hidup,” ujarnya.
Dampak dan Implikasi Hijrah bagi Masyarakat
Fenomena hijrah yang massif membawa dampak positif sekaligus tantangan. Di satu sisi, banyak individu yang merasakan ketenangan batin dan perbaikan akhlak. Di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang komersialisasi hijrah, seperti maraknya produk fashion muslim, kursus hijrah berbayar, dan konten media sosial yang justru menjauhkan dari esensi. M. Asad Efendy menekankan pentingnya literasi agama agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh tren yang tidak berdasar. “Hijrah yang benar adalah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan pada popularitas atau keuntungan materi,” tegasnya.
Menjadikan Hijrah sebagai Gaya Hidup Berkelanjutan
Momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H yang jatuh pada 8 Juli 2026 mendatang diharapkan menjadi titik refleksi bagi umat Islam untuk tidak hanya menjadikan hijrah sebagai simbol, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan. Menurut M. Asad Efendy, hijrah harus mencakup tiga aspek utama:
- Kesehatan Jasmani: Menjaga kebersihan, pola makan, dan olahraga sebagai bagian dari ibadah.
- Akhlak Mulia: Memperbaiki perilaku terhadap sesama, seperti jujur, amanah, dan toleran.
- Kualitas Ibadah: Meningkatkan ketakwaan melalui shalat, puasa, zakat, dan amalan sunnah lainnya.
Kronologi Perkembangan Fenomena Hijrah di Indonesia
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut kronologi singkat fenomena hijrah di Indonesia:
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 2015-2017 | Mulai muncul tren hijrah di kalangan artis, ditandai dengan perubahan penampilan dan pengajian rutin. |
| 2018-2020 | Hijrah menjadi fenomena massal, diikuti dengan maraknya konten hijrah di media sosial dan lahirnya komunitas hijrah. |
| 2021-2023 | Kritik terhadap hijrah mulai muncul, terutama terkait komersialisasi dan kurangnya kedalaman ilmu. Banyak tokoh agama mengingatkan pentingnya istiqomah. |
| 2024-2026 | Kesadaran akan hijrah sebagai proses jangka panjang semakin mengemuka. Pendidikan agama dan pembinaan berkelanjutan menjadi fokus. |
Penutup: Hijrah sebagai Perjalanan, Bukan Garis Finish
Hijrah bukanlah destinasi yang dicapai dalam semalam, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ilmu, dan dukungan lingkungan. Di tengah gemerlap tren yang silih berganti, umat Islam diajak untuk kembali pada esensi hijrah: perubahan menuju kebaikan yang konsisten dan berkelanjutan. Momentum Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena panggilan hati yang tulus kepada Sang Pencipta. Seperti pesan M. Asad Efendy, “Hijrah yang benar akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat. Jangan biarkan tren mengaburkan niat suci kita.”
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






