Keluarga Benteng Pertama Tanamkan Moderasi Beragama pada Anak Sejak Dini

Keluarga Benteng Pertama Tanamkan Moderasi Beragama pada Anak Sejak Dini

Suara Pecari, Sungailiat – Pendidikan karakter di lingkungan keluarga menjadi fondasi utama dalam membentuk anak yang mampu menghargai perbedaan dan hidup berdampingan di tengah masyarakat majemuk. Hal ini disampaikan oleh Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB), Herza, dalam acara Beranda Asta Cita Pro 1 RRI Sungailiat, Selasa 14 Juli 2026. Menurut Herza, keluarga adalah lingkungan pertama tempat anak mengenal nilai-nilai kehidupan, termasuk moderasi beragama.

Pentingnya Keteladanan Orang Tua

Herza menekankan bahwa sikap saling menghormati terhadap perbedaan suku, agama, budaya, maupun latar belakang sosial harus diajarkan sejak dini melalui keteladanan orang tua. “Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar di rumah. Jika orang tua menunjukkan sikap toleran, anak akan meniru hal tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keluarga berfungsi sebagai benteng utama agar anak tidak “gagap” menghadapi keberagaman di kemudian hari.

Pembiasaan sikap terbuka dan saling menghargai di rumah akan membuat anak siap berinteraksi di lingkungan yang beragam. Herza juga menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. “Moderasi beragama adalah menjalankan agama dengan baik sekaligus menghormati hak orang lain dalam menjalankan keyakinannya,” jelasnya.

Dampak Positif bagi Generasi Muda

Pendapat senada disampaikan oleh Rima, seorang pendengar Pro 1 RRI Sungailiat. Menurutnya, anak yang sejak kecil diajarkan menghormati teman tanpa membedakan suku maupun agama akan lebih mudah membangun pergaulan yang sehat dan menjauhi perilaku intoleran. “Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak yang terbiasa dengan keberagaman lebih mudah beradaptasi dan memiliki empati yang tinggi,” ungkap Rima.

Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa kasus intoleransi di kalangan pelajar masih terjadi di beberapa daerah. Oleh karena itu, peran keluarga menjadi semakin krusial dalam menanamkan nilai-nilai moderasi sejak dini.

AspekPeran KeluargaDampak pada Anak
KeteladananOrang tua menunjukkan sikap toleranAnak meniru sikap positif
PembiasaanMembiasakan menghargai perbedaanAnak terbiasa dengan keberagaman
PendidikanMengajarkan moderasi beragamaAnak memahami esensi toleransi

Langkah Konkret yang Bisa Dilakukan Keluarga

  • Memberikan contoh langsung dalam interaksi sehari-hari, seperti menyapa tetangga yang berbeda agama.
  • Mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang melibatkan berbagai latar belakang.
  • Membacakan buku cerita yang mengangkat tema keberagaman dan toleransi.
  • Mendiskusikan perbedaan dengan cara yang positif dan edukatif.

Harapan untuk Masa Depan

Herza berharap, dengan peran aktif keluarga, nilai-nilai moderasi beragama dapat tertanam kuat pada generasi muda. Tujuannya agar anak tumbuh tidak hanya religius, tetapi juga inklusif dan bebas dari sikap diskriminatif serta rasis. “Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi pribadi yang menghargai perbedaan, karena itulah modal utama untuk membangun bangsa yang harmonis,” pungkasnya.

Di tengah tantangan global seperti radikalisme dan intoleransi, pendidikan moderasi beragama di keluarga menjadi benteng yang tak tergantikan. Dengan dimulai dari rumah, generasi penerus dapat menjadi agen perdamaian yang membawa perubahan positif bagi masyarakat luas.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *