Sering Bilang “Em”? Ini Penyebab dan Cara Menguranginya
Suara Pecari, Bengkulu – Kebiasaan mengucapkan “em”, “eee”, atau jeda ragu saat berbicara bukanlah fenomena langka. Dalam istilah komunikasi, suara-suara ini disebut filler words — kata atau bunyi yang tidak memiliki makna tambahan dan digunakan untuk mengisi jeda ketika otak sedang memproses informasi. Meskipun wajar, penggunaan berlebihan dapat mengurangi kredibilitas dan kejelasan pesan. Artikel ini mengupas tuntas penyebab, dampak, dan strategi mengurangi kebiasaan tersebut, berdasarkan riset dan wawancara dengan pakar komunikasi.
Apa Itu Filler Words?
Filler words adalah suara atau kata yang disisipkan secara spontan saat seseorang ragu, berpikir, atau gugup. Contoh umum dalam bahasa Indonesia: “em”, “eee”, “jadi”, “gitu”, “apa ya”, dan “anu”. Dalam bahasa Inggris dikenal “um”, “uh”, “like”, “you know”. Menurut Toastmasters International, filler words tidak memiliki kontribusi makna dan sering kali mengganggu alur bicara. Namun, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sesekali justru membantu pendengar memproses informasi — selama tidak berlebihan.
Data Penggunaan Filler Words
Sebuah studi dari Universitas Stanford (2025) menemukan bahwa rata-rata orang dewasa mengucapkan filler words sebanyak 5-10 kali per menit dalam percakapan informal. Angka ini naik menjadi 15-20 kali per menit saat berbicara di depan umum. Data tersebut menunjukkan betapa lazimnya kebiasaan ini.
| Situasi | Rata-rata Filler Words per Menit |
|---|---|
| Percakapan santai dengan teman | 5-10 |
| Rapat kerja | 8-12 |
| Presentasi publik | 15-20 |
| Wawancara kerja | 10-18 |
Penyebab Sering Bilang “Em”
Ada beberapa faktor yang memicu penggunaan filler words secara berulang:
- Kebiasaan bawah sadar: Otak membutuhkan waktu untuk merangkai kata. Jeda yang diisi suara adalah respons alami.
- Gugup dan kurang persiapan: Saat cemas, kita cenderung bicara lebih cepat dan menggunakan filler sebagai pengisi kekosongan.
- Kurang penguasaan topik: Jika tidak yakin dengan materi, kita lebih sering ragu dan mengulang “em”.
- Pengaruh budaya dan lingkungan: Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang di sekitar juga menggunakan filler, sehingga menjadi norma.
Dampak Penggunaan Filler Words Berlebihan
Meskipun natural, penggunaan filler words yang berlebihan dapat menimbulkan konsekuensi negatif:
- Mengurangi kejelasan: Pesan menjadi terpotong-potong dan sulit diikuti.
- Menurunkan kredibilitas: Pendengar mungkin menganggap pembicara tidak kompeten atau kurang persiapan.
- Mengganggu ritme bicara: Filler membuat presentasi terdengar lambat dan membosankan.
- Menyulitkan pemahaman bagi non-penutur asli: Jika audiens bukan penutur asli bahasa yang digunakan, filler membingungkan.
Cara Efektif Mengurangi Filler Words
Berita baiknya, kebiasaan ini bisa dilatih. Berikut strategi dari para ahli:
- Sadari kebiasaan: Rekam percakapan atau presentasi, lalu hitung jumlah filler. Kesadaran adalah langkah pertama.
- Latih jeda diam: Ganti “em” dengan hening selama 1-2 detik. Awalnya terasa canggung, tapi efektif.
- Perlambat tempo bicara: Bicara lebih lambat memberi waktu otak untuk berpikir tanpa perlu filler.
- Gunakan bahasa tubuh: Angkat tangan, pandang sekeliling, atau tersenyum saat berpikir — ini mengalihkan perhatian dari jeda.
- Persiapan matang: Kuasai materi dan latih presentasi berulang kali.
- Minta umpan balik: Ajak teman atau mentor untuk memberi tahu setiap kali Anda berkata “em”.
Perbandingan Filler Words di Berbagai Bahasa
Menariknya, filler words ada di hampir semua bahasa. Berikut beberapa contoh:
| Bahasa | Filler Words Umum |
|---|---|
| Indonesia | em, eee, jadi, gitu, apa ya |
| Inggris | um, uh, like, you know |
| Jepang | eeto, ano, maa |
| Spanyol | este, o sea, eh |
Perspektif Ahli: Psikolinguistik
Dr. Nina Rahmawati, psikolinguistik dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa filler words adalah bagian dari proses kognitif. “Otak kita membutuhkan jeda untuk merencanakan ucapan. Filler adalah mekanisme alami, tapi kita bisa melatih otak untuk menggunakan jeda diam sebagai gantinya,” ujarnya. Risetnya menunjukkan bahwa setelah 3 minggu latihan sadar, frekuensi filler menurun hingga 40%.
Dampak pada Karier dan Hubungan Sosial
Dalam dunia profesional, kemampuan bicara yang bersih dan lugas meningkatkan kesan kompeten. Survei LinkedIn (2026) mengungkapkan bahwa 78% perekrut menganggap pengurangan filler words sebagai indikator kepercayaan diri. Sementara dalam hubungan sosial, komunikasi yang jelas mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat ikatan.
Penutup: Dari Kebiasaan Menjadi Keahlian
Kebiasaan mengucapkan “em” bukanlah dosa besar, namun jika terus dibiarkan dapat menjadi batu sandungan dalam komunikasi. Dengan memahami penyebab dan melatih teknik sederhana, siapa pun dapat mengubah jeda ragu menjadi momen percaya diri. Ingat, diam yang terencana lebih kuat daripada suara yang tidak berarti. Mulailah hari ini dengan merekam percakapan Anda sendiri — dan temukan seberapa sering “em” muncul. Kesadaran adalah awal perubahan. (Seto Aji, wartawan senior)
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










