Waspada Siomay Campuran Ikan Sapu-Sapu, Kenali Ciri dan Risikonya bagi Kesehatan

ilustrasi siomai dari ikan sapu sapu (gambar: sonora.id)

Jakarta – Para pencinta siomay diimbau lebih waspada menyusul kembali mencuatnya isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan campuran dalam pembuatan siomay. Praktik ini dikhawatirkan dilakukan oleh oknum pedagang untuk menekan biaya produksi karena harga bahan baku yang jauh lebih murah dibandingkan ikan tenggiri.

Perbedaan harga yang signifikan menjadi salah satu alasan utama. Daging ikan sapu-sapu dapat dibeli sekitar Rp17.000 per kilogram, sementara harga ikan tenggiri segar bisa mencapai Rp135.000 per kilogram.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran adanya campuran bahan ikan yang tidak semestinya pada produk siomay yang dijual di pasaran.

Ciri-Ciri Siomay yang Diduga Mengandung Ikan Sapu-Sapu

Masyarakat dapat mengenali beberapa tanda yang patut dicurigai pada siomay yang kemungkinan menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan campuran.

1. Warna daging kusam dan cenderung gelap
Daging ikan sapu-sapu umumnya memiliki warna lebih gelap dibandingkan daging ikan tenggiri. Siomay yang dibuat dari ikan ini biasanya tampak kusam dengan warna abu-abu gelap hingga kehitaman.

Sebaliknya, siomay yang menggunakan ikan tenggiri biasanya berwarna putih pucat dengan sedikit semburat abu-abu alami.

Namun demikian, konsumen juga perlu berhati-hati jika menemukan siomay yang tampak terlalu putih, karena kemungkinan adanya bahan tambahan tertentu untuk memutihkan warna.

2. Aroma amis yang tidak wajar
Siomay berbahan ikan segar biasanya memiliki aroma khas ikan yang tidak terlalu menyengat.

Sebaliknya, siomay yang menggunakan ikan sapu-sapu—terutama dari perairan tercemar—sering kali memiliki bau amis yang lebih kuat disertai aroma yang terasa janggal.

3. Harga jauh lebih murah
Harga yang terlalu murah juga patut menjadi perhatian. Dalam banyak kasus, selisih harga bahan baku yang signifikan dapat memicu praktik pencampuran ikan yang kualitasnya lebih rendah.

Meski tidak selalu demikian, konsumen disarankan untuk tetap berhati-hati terhadap produk yang dijual dengan harga tidak wajar.

Risiko Kesehatan dari Ikan Sapu-Sapu

Secara biologis, ikan sapu-sapu sebenarnya bukan ikan beracun. Namun, risiko kesehatan muncul dari lingkungan tempat ikan tersebut hidup.

Ikan sapu-sapu, yang secara ilmiah dikenal sebagai Hypostomus plecostomus, sering ditemukan hidup di sungai-sungai perkotaan yang tercemar limbah.

Di wilayah Jakarta misalnya, ikan ini banyak ditemukan di perairan seperti Sungai Ciliwung yang diketahui mengandung berbagai polutan.

Sebagai ikan pemakan dasar, ikan sapu-sapu mengonsumsi alga serta material organik di dasar perairan. Proses ini membuat tubuh ikan berpotensi mengakumulasi logam berat seperti merkuri.

Paparan logam berat tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan apabila masuk ke tubuh manusia secara terus-menerus, mulai dari gangguan fungsi hati hingga risiko penyakit kronis.

Pentingnya Konsumen Lebih Selektif

Kasus dugaan penggunaan ikan sapu-sapu pada produk olahan seperti siomay menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih makanan.

Konsumen disarankan memperhatikan warna, aroma, dan kualitas makanan sebelum membeli. Selain itu, memilih pedagang yang terpercaya dan memiliki reputasi baik dapat menjadi langkah penting untuk menghindari risiko kesehatan.

Kewaspadaan konsumen dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan praktik penggunaan bahan pangan yang tidak layak konsumsi di pasaran.

Tinggalkan Balasan