Rupiah Catat Rekor Terburuk, Nilai Tukar Turun ke Rp 17.192 per Dolar AS
Suara Pecari – 18 April 2026 | Rupiah resmi ditutup pada level Rp 17.192 per dolar AS, mencatat nilai terendah dalam sejarah sejak kemerdekaan. Penurunan ini menandai rekor terburuk nilai tukar mata uang nasional.
Data resmi Bank Indonesia menunjukkan bahwa nilai tukar melemah hampir 0,2 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan eksternal yang memengaruhi pasar global.
Pengamat pasar menilai bahwa faktor utama adalah penguatan dolar AS yang didorong oleh kebijakan moneter ketat di Amerika. Suku bunga yang lebih tinggi menarik aliran modal ke aset berbasis dolar.
Di dalam negeri, defisit neraca berjalan yang melebar menambah beban pada cadangan devisa. Cadangan yang menurun memperlemah kemampuan BI untuk menstabilkan rupiah.
Pemerintah mengklaim telah menyiapkan paket kebijakan untuk menahan tekanan nilai tukar. Upaya tersebut mencakup penyesuaian tarif impor dan dukungan likuiditas bagi sektor yang terdampak.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyatakan bahwa kebijakan fiskal akan difokuskan pada pengendalian defisit dan memperkuat cadangan devisa. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam reformasi struktural.
Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan intervensi pasar bila diperlukan. Kebijakan suku bunga dan penjualan devisa menjadi instrumen utama dalam menjaga kestabilan.
Investor asing menanggapi melemahnya rupiah dengan sikap hati-hati, mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi. Hal ini berpotensi menurunkan aliran modal masuk ke pasar domestik.
Analisis ekonomi menyoroti bahwa inflasi pangan dan energi dapat memperburuk beban rumah tangga. Kenaikan harga barang impor akibat nilai tukar lemah menambah tekanan pada daya beli.
Meskipun situasi saat ini menantang, para ahli memperkirakan bahwa rupiah dapat stabil kembali dalam jangka menengah bila kebijakan makroekonomi berjalan konsisten. Mereka menekankan perlunya reformasi struktural jangka panjang.
Pada minggu berikutnya, pasar diproyeksikan akan menguji level Rp 17.200 per dolar AS. Jika tekanan berlanjut, otoritas mungkin harus mempertimbangkan langkah tambahan.
Secara keseluruhan, rupiah berada pada posisi paling lemah dalam sejarah, menuntut koordinasi kebijakan yang solid antara fiskal dan moneter. Pengawasan berkelanjutan dan tindakan tepat waktu menjadi kunci pemulihan nilai tukar.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







