Vaksin HPV Diperluas untuk Laki‑Laki, Efektivitas Terbukti Turunkan Infeksi dan Lesi Prakanker
Suara Pecari – 21 April 2026 | Jakarta, 21 April 2026 – Kementerian Kesehatan resmi meluncurkan program vaksinasi HPV bagi laki‑laki di seluruh Indonesia, melengkapi program yang sebelumnya difokuskan pada perempuan.
Kebijakan ini didukung oleh data terbaru yang menunjukkan bahwa vaksin HPV dapat menurunkan tingkat infeksi serta lesi prakanker pada kedua gender.
Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, menegaskan bahwa virus HPV tidak mengenal batas jenis kelamin dan dapat menyebar melalui kontak kulit sekaligus hubungan seksual.
Menurutnya, sebagian besar infeksi terjadi tanpa gejala, sehingga vaksinasi menjadi langkah preventif utama sebelum sel berubah menjadi lesi prakanker.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan vaksin HPV akan diberikan secara nasional kepada anak laki‑laki usia 10–11 tahun dan 15–16 tahun, serta rencana perluasan ke kelompok usia 20–21 tahun.
Menkes menekankan bahwa melibatkan laki‑laki dalam program imunisasi dapat memutus rantai penularan dan melindungi perempuan secara tidak langsung.
Program ini diharapkan meningkatkan cakupan imunisasi nasional, yang saat ini masih berfokus pada perempuan untuk pencegahan kanker serviks.
Di provinsi Maluku, Dinas Kesehatan bersama BPOM melaksanakan vaksinasi HPV secara bersamaan di kota Ambon, menandai langkah konkret implementasi kebijakan pusat.
Dr. Elna S. Anakotta, Kepala Dinas Kesehatan Maluku, menyebutkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menurunkan angka kanker serviks.
Ia menambahkan bahwa vaksinasi HPV merupakan investasi jangka panjang dalam melindungi generasi mendatang dari penyakit yang dapat dicegah.
Data dari studi klinis yang dirujuk oleh para ahli menunjukkan penurunan signifikan pada insiden infeksi HPV tipe 16 dan 18 setelah pemberian dosis lengkap vaksin.
Penurunan tersebut berdampak pada berkurangnya lesi prakanker pada area genital dan orofaring, dua lokasi utama yang berisiko berkembang menjadi kanker.
Kementerian Kesehatan menargetkan angka imunisasi HPV mencapai 80 persen pada populasi remaja sebelum 2030, sejalan dengan rencana bebas kanker leher rahim nasional.
Upaya tersebut diperkirakan akan berkontribusi pada pencapaian target WHO untuk mengurangi insiden kanker serviks sebesar 90 persen.
Pemerintah juga meningkatkan edukasi publik melalui kampanye di media sosial, sekolah, dan fasilitas kesehatan untuk mengatasi stigma seputar vaksin HPV.
Para ahli menilai bahwa keberhasilan program bergantung pada kesadaran masyarakat dan dukungan logistis dari aparat kesehatan daerah.
Dengan melibatkan laki‑laki, program ini tidak hanya melindungi individu tetapi juga menciptakan efek herd immunity yang lebih luas.
Secara keseluruhan, peluncuran vaksin HPV untuk laki‑laki menandai langkah penting dalam strategi pencegahan kanker di Indonesia, dengan harapan menurunkan beban penyakit di masa depan.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







