Pengawasan CCTV di Kampus Malang Ditingkatkan Menyambut UTBK SNBT 2026

Mohammad Islam
Pengawasan CCTV di Kampus Malang Ditingkatkan Menyambut UTBK SNBT 2026

Suara Pecari – 22 April 2026 | Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Brawijaya (UB) memperketat pengawasan dengan mengoptimalkan sistem CCTV menjelang pelaksanaan UTBK SNBT 2026.

Ratusan ruang ujian di dua kampus tersebut dipasangi kamera pengawas untuk memantau kepatuhan prosedur selama enam hari ujian.

Rektor UM, Prof. Hariyono, menyatakan bahwa 1.300 komputer akan beroperasi dalam dua sesi harian, sementara kamera CCTV dinonaktifkan di ruangan tertentu untuk melindungi kerahasiaan soal.

Keputusan menonaktifkan CCTV di beberapa ruang diambil atas rekomendasi panitia pusat agar tidak terjadi kebocoran materi ujian.

Wakil Rektor I UM, Ibrahim Bafadal, menambahkan bahwa 67 ruang ujian telah disiapkan dengan infrastruktur lengkap, termasuk jaringan yang terisolasi.

Di UB, 1.540 komputer serta 67 ruang ujian tersebar di 16 fakultas dilengkapi dengan CCTV, UPS, dan genset untuk menghindari gangguan listrik.

Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, Wakil Rektor Bidang Akademik UB, menegaskan bahwa semua kamera berfungsi penuh dan terhubung ke pusat kontrol keamanan kampus.

Pengawasan dilakukan secara kombinasi antara petugas lapangan dan sistem teknologi, termasuk metal detector dan pengecekan aksesori peserta.

UTBK SNBT 2026 menarik 19.640 peserta di UM dan 16.225 peserta di UB, dengan total pendaftar mencapai lebih dari 66.000 di UB saja.

Selama sesi pertama di UB, sekitar 40 peserta tidak hadir, namun tingkat kehadiran mencapai 97,4 persen.

Panitia pusat menekankan pentingnya integritas ujian, sehingga pengawasan CCTV menjadi komponen krusial dalam mencegah kecurangan.

Setiap ruang ujian dilengkapi dengan kamera yang memantau gerakan peserta, pengawas, serta peralatan teknis secara real time.

Tim IT kampus berperan mengawasi rekaman dan mengamankan jaringan agar tidak dapat diakses dari luar.

Selain keamanan, kampus juga memprioritaskan aksesibilitas bagi peserta difabel dengan menyediakan ruang khusus yang dilengkapi CCTV yang dapat diatur sudut pandangnya.

UM menyiapkan 11 peserta difabel, sementara UB mencatat 13 peserta difabel dengan kebutuhan khusus.

Fasilitas pendampingan difabel di UM mencakup ruangan di lantai satu yang mudah diakses, serta petugas khusus yang terlatih.

Di UB, ruang khusus difabel dilengkapi dengan perangkat bantu visual dan audio serta kamera yang memudahkan pengawasan jarak jauh.

Penggunaan CCTV juga mendukung koordinasi antara pengawas, teknisi, dan tim monitoring yang berjumlah 455 personel di UB.

Tim monitoring dan evaluasi sembilan orang di UB bertugas memeriksa rekaman secara berkala untuk mengidentifikasi potensi pelanggaran.

Seluruh sistem CCTV di kedua kampus terintegrasi dengan pusat data yang dapat diakses oleh otoritas pendidikan daerah.

Panitia pusat memastikan bahwa semua data rekaman disimpan minimal 30 hari dan hanya dapat diakses oleh personel berwenang.

Penggunaan CCTV di UM dan UB juga membantu mengurangi kebutuhan intervensi fisik, sehingga proses pemeriksaan menjadi lebih efisien.

Teknologi ini memungkinkan pengawasan 24 jam selama periode ujian, termasuk sesi pagi dan siang yang masing-masing menampung ribuan peserta.

Keamanan listrik menjadi prioritas, sehingga UPS dan genset dipasang di setiap titik CCTV untuk menjamin tidak terputusnya aliran video.

Pengujian pra-implementasi dilakukan seminggu sebelum ujian, memastikan semua kamera berfungsi dan jaringan stabil.

Jika ada gangguan, tim teknis siap melakukan perbaikan dalam waktu lima menit untuk meminimalisir dampak pada pengawasan.

Penggunaan CCTV juga mempermudah proses verifikasi identitas peserta melalui rekaman wajah yang dicocokkan dengan data registrasi.

Hal ini mengurangi risiko penggunaan identitas palsu atau bantuan tidak sah selama ujian.

Panitia pusat menilai bahwa kombinasi pengawasan fisik dan digital meningkatkan kepercayaan publik terhadap integritas UTBK.

Selain itu, data CCTV dapat menjadi bukti penting bila terjadi sengketa atau laporan kecurangan di kemudian hari.

Dengan persiapan intensif, kedua universitas berharap proses UTBK SNBT 2026 berjalan lancar tanpa insiden keamanan.

Keberhasilan pengawasan ini diharapkan menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain dalam menyelenggarakan ujian berskala besar.

Seluruh pihak menutup persiapan dengan harapan peserta dapat fokus pada ujian dan memperoleh hasil yang adil.

Tinggalkan Balasan