Fadly Alberto Hadapi Sanksi Berat PSSI, Tetap Tekad Bela Timnas Indonesia
Suara Pecari – 23 April 2026 | Fadly Alberto Hengga, penyerang sayap Bhayangkara FC U-20, kini berada di bawah ancaman sanksi berat dari Komite Disiplin PSSI setelah aksi tendangan keras yang terjadi pada laga Elite Pro Academy (EPA) U-20.
Insiden terjadi pada 19 April 2026 di Stadion Citarum, Semarang, saat Bhayangkara FC melawan Dewa United dalam pertandingan yang sangat ketat.
Fadly melancarkan tendangan yang menyerang pemain lawan, Rakha Nurkholis, setelah serangkaian keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya.
Keputusan wasit Fero Arsanto, termasuk pengesahan gol kedua Dewa United, memicu kemarahan pemain Bhayangkara dan menjadi pemicu utama konfrontasi.
PSSI menegaskan bahwa kasus ini telah masuk ke Komite Disiplin dan akan ditangani sesuai Kode Disiplin 2025, dengan kemungkinan larangan bermain lebih dari satu tahun.
Exco PSSI Kairul Anwar menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap tindakan kasar, terlepas dari status pemain, dan proses penyelidikan akan melibatkan semua pihak terkait.
Pelatih Timnas U-20, Nova Arianto, telah mencoret Fadly dari skuad yang akan berangkat ke Piala AFF U-19 2026, mengindikasikan konsekuensi langsung atas perilaku tersebut.
Fadly mengakui bahwa tindakannya tidak dapat diterima, menyebut kejadian itu sebagai pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Dia menambahkan bahwa insiden tersebut menjadi pelajaran berharga dan berjanji akan melakukan evaluasi total untuk memperbaiki diri.
Meskipun dihukum, Fadly menegaskan tekadnya untuk tetap mengejar karier profesional dan harapan dapat kembali membela Timnas Indonesia di masa depan.
Klub Bhayangkara FC dan Dewa United telah menempuh jalur mediasi di Dewa United Arena, Tangerang, pada 22 April 2026, menghasilkan kesepakatan damai tanpa melibatkan proses hukum.
Manajemen Bhayangkara menyatakan dukungan moral kepada pemain muda tersebut, sambil menekankan pentingnya kontrol emosi di lapangan.
Fadly, yang berusia 17 tahun dan berasal dari Bojonegoro, sebelumnya dikenal karena penampilan impresif di Piala Dunia U-17 serta perjuangan dari latar belakang keluarga sederhana.
Insiden ini menodai reputasinya yang sedang naik daun, namun dia berharap dapat memulihkan citra melalui kerja keras dan perilaku sportif.
PSSI menegaskan bahwa proses disiplin tidak memandang nama besar, dan setiap pelanggaran akan dikenakan sanksi setimpal.
Pertemuan Komite Disiplin dijadwalkan dalam minggu-minggu mendatang, dengan keputusan final diperkirakan akan diumumkan sebelum akhir Mei 2026.
Jika dijatuhkan larangan bermain jangka panjang, Fadly berisiko kehilangan fase penting dalam perkembangan kariernya di usia muda.
Beberapa pengamat menilai kasus ini sebagai peringatan bagi seluruh pemain muda agar menahan emosi ketika menghadapi tekanan kompetisi.
Disiplin dalam sepak bola usia dini kini menjadi fokus utama, mengingat dampak jangka panjang terhadap integritas kompetisi.
Fadly menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa tekadnya untuk kembali ke tim nasional tidak akan luntur, meski harus melewati proses rehabilitasi.
Situasi ini menandai titik kritis dalam perjalanan kariernya, di mana keputusan disiplin PSSI akan menentukan arah masa depannya di dunia sepak bola.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







