Suami Bakar Istri di Banyuwangi Akibat Perselisihan Ekonomi, Kedua Korban Terluka Parah
Suara Pecari – 26 April 2026 | Seorang pria berusia 63 tahun di Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, menyalakan bensin pada tubuh istrinya yang berusia 56 tahun pada Sabtu dini hari, menyebabkan luka bakar luas pada kedua korban.
Insiden terjadi setelah pasangan berselisih pada Jumat sore terkait masalah keuangan keluarga, menurut keterangan Kapolsek Gambiran, AKP Dwi Wijayanto.
Pada pukul 16.00 WIB, pasangan dilaporkan mengalami pertengkaran yang memicu ketegangan, namun situasi memburuk pada malam harinya ketika korban sedang menunaikan salat Isya.
Sekitar pukul 23.50 WIB, pelaku menuangkan bensin ke badan istri dan menyalakannya, tindakan yang langsung memicu api menyelimuti tubuh korban.
Korban berusaha keluar rumah sambil memanggil bantuan, sementara tetangga yang mendengar teriakan segera mengalir ke lokasi untuk memadamkan api dengan air.
Setelah api di tubuh korban berhasil dipadamkan, warga menemukan sisa nyala di kamar, di mana pelaku juga terjangkit luka bakar setelah mencoba membakar dirinya dengan sisa bensin yang ada.
Kedua korban dibawa ke RSUD Genteng untuk perawatan medis; dokter menyatakan korban pertama mengalami luka bakar 100 persen, sementara pelaku menderita luka bakar sekitar 85 persen.
Laporan polisi menyebutkan rumah tangga pasangan tersebut telah tidak harmonis selama beberapa bulan, termasuk upaya pengajuan perceraian sejak Maret, namun belum ada putusan pengadilan.
Kapolsek menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan semua aspek kejadian, termasuk motif ekonomi yang diduga menjadi pemicu utama.
Pihak kepolisian mengingatkan pentingnya penyuluhan tentang penyelesaian sengketa keluarga secara damai serta akses bantuan ekonomi bagi keluarga yang mengalami kesulitan keuangan.
RSUD Genteng melaporkan bahwa perawatan luka bakar tingkat tinggi memerlukan perawatan intensif, termasuk dekonsisi, perawatan luka, dan pemantauan infeksi.
Para dokter menambahkan bahwa prognosis korban perempuan tergantung pada komplikasi lebih lanjut, mengingat tingkat luka bakar yang meluas pada seluruh tubuh.
Pelaku, yang kini berada dalam perawatan intensif, masih dapat memberikan keterangan lebih lanjut setelah kondisi medisnya stabil.
Kejadian ini menambah daftar kasus kekerasan dalam rumah tangga di Banyuwangi, yang menurut data Badan Penanggulangan Kekerasan, meningkat pada kuartal terakhir tahun ini.
Pemerintah daerah menanggapi dengan menegaskan komitmen memperkuat unit layanan sosial dan mediasi keluarga untuk mencegah insiden serupa.
Selain upaya mediasi, dinas sosial setempat mengumumkan program bantuan tunai sementara bagi keluarga yang terancam kebangkrutan akibat pandemi dan penurunan pendapatan.
Para ahli psikologi keluarga menekankan pentingnya intervensi dini ketika tanda-tanda konflik ekonomi mulai muncul, guna mencegah eskalasi menjadi kekerasan fisik.
Laporan media lokal mencatat bahwa warga setempat mengekspresikan keprihatinan mendalam atas tragedi ini, sekaligus menyerukan penegakan hukum yang tegas.
Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran bagi otoritas untuk meningkatkan koordinasi antara aparat keamanan, layanan kesehatan, dan lembaga sosial dalam menanggulangi kekerasan domestik.
Dengan penyelidikan lanjutan, diharapkan proses hukum dapat menyelesaikan kasus ini secara adil dan memberikan keadilan bagi korban serta keluarga.
Penanganan medis terus berlanjut, sementara masyarakat diharapkan meningkatkan kepedulian terhadap tanda-tanda konflik rumah tangga yang dapat berujung pada tindakan berbahaya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







