Presiden Peru Tunda Pembelian Jet F-16, Dua Menteri Mundur, Uang Muka Rp 7,9 Triliun Dibayar
Suara Pecari – 25 April 2026 | Presiden Peru Jose Maria Balcazar menunda keputusan pembelian 24 unit jet tempur F-16 Block 70 dari Lockheed Martin, yang bernilai sekitar 3,5 miliar dolar atau Rp 60 triliun. Penundaan itu diumumkan pada Rabu 22 April 2026, memicu reaksi keras di kalangan menteri senior.
Menteri Pertahanan Carlos Diaz dan Menteri Luar Negeri Hugo de Zela mengundurkan diri dari jabatan masing-masing sebagai bentuk protes terhadap kebijakan presiden. Kedua pejabat menyatakan bahwa keputusan strategis di bidang keamanan nasional harus melalui konsensus yang lebih luas.
Dalam pernyataannya, Diaz menegaskan, “Keputusan strategis di bidang keamanan nasional tidak dapat dipaksakan tanpa melibatkan semua pemangku kepentingan.” De Zela menambahkan, “Kami mengundurkan diri demi menjaga integritas kebijakan pertahanan negara.”
Meskipun terjadi pergolakan politik, pemerintah tetap melanjutkan pembayaran uang muka sebesar 462 juta dolar AS atau sekitar Rp 7,9 triliun kepada Lockheed Martin. Pembayaran ini dianggap sebagai komitmen kontraktual meski pesawat belum dikirim.
Jet F-16 yang dibeli diperkirakan akan tiba di ibu kota Lima pada tahun 2029 atau 2030, setelah proses produksi dan uji coba selesai. Penyerahan akhir diperkirakan akan menambah kemampuan udara militer Peru secara signifikan.
Keputusan Balcazar untuk menunda pembelian muncul setelah ia menjabat pada Februari 2026 menggantikan presiden yang dimakzulkan oleh Kongres. Masa jabatan sementara Balcazar dijadwalkan berakhir pada Juli 2026 ketika pemilihan presiden definitif akan dilaksanakan.
Beberapa pengamat menilai penundaan ini mencerminkan tekanan domestik yang menolak pembelian pesawat sebagai simbol kedekatan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Kritikus menuduh bahwa transaksi senilai Rp 60 triliun bisa menjadi beban fiskal bagi negara yang sedang berusaha mengendalikan defisit.
Di sisi lain, pendukung pembelian berargumen bahwa modernisasi armada udara diperlukan untuk mengamankan wilayah perbatasan yang sering menjadi titik konflik dengan kelompok bersenjata. Mereka menilai F-16 Block 70 sebagai platform paling mutakhir yang dapat meningkatkan interoperabilitas dengan sekutu regional.
Reuters melaporkan bahwa pemerintah Peru berencana menunda keputusan akhir pembelian kepada pemimpin terpilih berikutnya, memberi ruang bagi pemerintahan baru untuk menilai kembali prioritas pertahanan. Langkah ini memperpanjang proses negosiasi yang sebelumnya diprediksi selesai dalam beberapa bulan.
Sementara itu, Lockheed Martin menyatakan komitmennya untuk memenuhi semua persyaratan kontrak dan mengirimkan jet sesuai jadwal yang disepakati. Perusahaan juga menegaskan bahwa pembayaran uang muka tidak mengubah haknya atas produksi dan pengiriman.
Situasi politik dalam negeri Peru kini semakin rumit, dengan oposisi menuntut transparansi penuh atas penggunaan dana publik sebesar Rp 7,9 triliun. Badan antikorupsi negara dijadwalkan melakukan audit independen terhadap seluruh proses pembelian.
Pemerintah menegaskan bahwa penundaan tidak memengaruhi keamanan nasional, namun menunggu kepastian politik sebelum mengikat diri pada komitmen militer jangka panjang. Presiden Balcazar menambahkan, “Keputusan akhir akan diambil setelah pemerintahan baru terbentuk dan kebijakan dapat dipertimbangkan secara menyeluruh.”
Keputusan ini menandai babak baru dalam kebijakan pertahanan Peru, di mana faktor politik, ekonomi, dan keamanan saling berinteraksi. Dampaknya terhadap hubungan Peru dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain di kawasan masih menjadi sorotan para analis.
Dengan uang muka yang telah dibayarkan, kontrak tetap mengikat secara hukum, namun realisasi pengiriman jet masih tergantung pada keputusan politik mendatang. Situasi ini menegaskan bahwa pembelian alutsista besar tidak dapat dipisahkan dari dinamika pemerintahan yang berubah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







