Serangan Israel Gaza Lukai Putra Negosiator Hamas, Lima Lainnya Tewas di Tengah Gencatan Senjata
Suara Pecari | Serangan udara Israel pada Rabu (6/5) menimbulkan luka serius pada Azzam Al-Hayya, putra Khalil Al-Hayya, tokoh utama negosiasi Hamas, serta menewaskan lima orang di wilayah Gaza.
Insiden terjadi di dekat kota Khan Yunis, di mana asap dan api terlihat membumbung dari tempat penampungan Gath yang menampung pengungsi Palestina.
Azzam Al-Hayya, yang merupakan anak keempat Khalil Al-Hayya, mengalami luka parah dan dirawat di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis.
Khalil Al-Hayya, pemimpin Hamas yang kini berada di pengasingan, memimpin pembicaraan tidak langsung dengan Israel mengenai masa depan wilayah tersebut.
Sumber Hamas mengonfirmasi bahwa keluarga Hayya telah menjadi target serangan Israel berulang kali, termasuk tiga putra sebelumnya yang tewas pada konflik 2008, 2014, dan serangan di Doha tahun lalu.
Pejabat Hamas Taher Al‑Nono menilai penembakan terhadap Azzam sebagai pelanggaran moral dan etika, serta menegaskan bahwa serangan tersebut justru memperkuat tekad negosiator.
Militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait serangan yang menimpa Azzam maupun korban lainnya.
Pada hari yang sama, dua serangan udara tambahan menewaskan empat warga Palestina, termasuk perwira polisi Hamas Naseem al‑Kalazani, yang tewas setelah kendaraannya diserang di kawasan al‑Mawasi.
Insiden tersebut melukai setidaknya 17 orang lain, dan militer Israel menyebut targetnya anggota Hamas tanpa menguraikan detail lebih lanjut.
Serangan-serangan ini terjadi di tengah intensifikasi operasi Israel yang menargetkan struktur pemerintahan Hamas di Gaza.
Polisi Hamas menjadi sasaran utama karena perannya dalam mempertahankan kontrol atas wilayah yang dikuasai.
Situasi kekerasan berlangsung bersamaan dengan pembicaraan damai yang digelar di Kairo, Mesir, melibatkan mediator internasional termasuk Nickolay Mladenov.
Negosiasi difokuskan pada rencana Gaza yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, yang mencakup penarikan pasukan Israel dan rekonstruksi wilayah, dengan syarat Hamas melucuti senjata.
Isu pelucutan senjata tetap menjadi hambatan utama, karena Hamas menolak membahas fase kedua sebelum Israel memenuhi kewajiban fase pertama.
Menurut tenaga medis Palestina, setidaknya 830 warga tewas sejak gencatan senjata diberlakukan, sementara Israel melaporkan empat tentaranya gugur akibat serangan militan.
Secara keseluruhan, lebih dari 72.500 warga Palestina dilaporkan tewas sejak konflik dimulai pada Oktober 2023, mayoritas merupakan warga sipil.
Putra Azzam Al‑Hayya sebelumnya selamat dari upaya pembunuhan, termasuk serangan di Doha tahun lalu yang menewaskan saudara lainnya.
Dalam wawancara sebelum laporan kematian, Khalil Al‑Hayya menuduh Israel berusaha menggagalkan upaya mediator internasional untuk melanjutkan rencana perdamaian.
Ia menegaskan bahwa serangan Israel menunjukkan keengganan pihak pendudukan untuk mematuhi gencatan senjata dan fase pertama kesepakatan.
Pejabat senior Hamas Basim Naim menyatakan bahwa Azzam meninggal akibat luka parah yang diderita pada malam Rabu (6/5).
Pernyataan tersebut disampaikan melalui Al Arabiya, menegaskan kembali tuduhan Hamas terhadap Israel.
Video internal kumparan menampilkan gambaran tempat penampungan yang terbakar setelah serangan, memperlihatkan kondisi darurat bagi ribuan pengungsi.
Selama periode yang sama, rumah sakit di Gaza melaporkan peningkatan jumlah korban luka-luka dan kebutuhan medis yang mendesak.
Organisasi Kesehatan Dunia mengingatkan akan risiko krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza.
Para mediator internasional berupaya menekan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan, meski ketegangan terus memuncak.
Pemerintah Israel menegaskan fokus pada penghancuran struktur militer Hamas, namun belum memberikan rincian operasional terbaru.
Sementara itu, warga Gaza menunggu bantuan kemanusiaan, sementara akses ke bahan medis dan makanan tetap terbatas.
Sejumlah negara mengutuk serangan terbaru, menyerukan penangguhan kekerasan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Komunitas internasional terus memantau perkembangan, dengan harapan tercapai solusi politik yang berkelanjutan.
Dengan kondisi yang semakin genting, tekanan internasional untuk menghentikan permusuhan dan melindungi warga sipil semakin kuat.
Artikel ini mencerminkan situasi dinamis di wilayah konflik, menyoroti dampak langsung pada keluarga pemimpin Hamas serta korban sipil.
Ke depan, upaya diplomatik dan bantuan kemanusiaan menjadi faktor kunci dalam mengurangi penderitaan di Gaza.
Situasi tetap tidak stabil, menuntut perhatian berkelanjutan dari semua pihak terkait.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







