Protes Pabrik Drone di Leicester oleh Aktivis Pro-Palestina Geruduk Elbit Systems

Protes Pabrik Drone di Leicester oleh Aktivis Pro-Palestina Geruduk Elbit Systems

Suara Pecari | Kelompok aktivis pro-Palestina People Against Genocide menyerbu pabrik drone milik perusahaan Israel, Elbit Systems, yang berlokasi di Leicester pada Jumat 24 April 2026. Enam orang ditangkap polisi setelah tindakan mereka dianggap merusak properti.

Para demonstran memasuki gedung melalui atap, memanfaatkan celah keamanan untuk menurunkan diri ke dalam fasilitas produksi. Sesampainya di dalam, mereka menebar cat semprot berisi slogan pro-Palestina.

Tulisan ‘Free Palestine’ dan ‘Shut Elbit Down’ muncul di dinding dan atap pabrik, menegaskan penolakan mereka terhadap pasokan drone ke Israel. Slogan lain seperti ‘Intifada Revolution’ juga terlihat di area tersebut.

People Against Genocide mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa aksi tersebut adalah bentuk tindakan langsung untuk menghentikan perdagangan senjata antara Inggris dan Israel. Mereka menambahkan, ‘Kami tidak akan tinggal diam sementara drone kami digunakan untuk menindas warga Palestina.’

Pihak kepolisian Leicester mengonfirmasi penangkapan enam aktivis dan menyatakan siap menindak setiap perusakan properti. Namun, polisi menegaskan hak warga untuk melakukan protes damai tetap dijunjung.

Dalam penjelasannya, kepolisian menambahkan bahwa mereka akan menindak tegas siapa pun yang melanggar hukum, sambil tetap menghormati kebebasan bersuara. Polisi juga meminta agar demonstran tidak mengancam keselamatan publik.

Elbit Systems dikenal sebagai pemasok utama drone militer untuk Angkatan Darat Israel, dengan perkiraan sekitar 85 persen unit yang digunakan di medan konflik. Pabrik di Leicester memproduksi komponen kritis yang kemudian diekspor ke Israel.

Protes terhadap pabrik tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun, dengan kelompok-kelompok pro-Palestina sebelumnya menuntut penutupan fasilitas itu. Mereka menilai kerja sama militer antara Inggris dan Israel sebagai faktor pendukung operasi militer di Gaza.

Pemerintah Inggris belum mengumumkan rencana penutupan pabrik, namun menolak menanggapi secara terbuka tekanan dari kelompok aktivis. Sementara itu, video aksi diunggah ke media sosial, memicu reaksi beragam dari publik yang mendukung maupun mengecam metode yang dipilih.

Kondisi saat ini menunjukkan ketegangan antara kebijakan pertahanan Inggris dan tuntutan masyarakat internasional terkait konflik Palestina-Israel. Aksi protes ini menambah tekanan pada pemerintah untuk meninjau ulang hubungan militer dengan Israel.

Tinggalkan Balasan