Epidemiolog Ingatkan Risiko Hantavirus di Lingkungan Kumuh dan Rawan Banjir
Daftar Isi
Suarapecari.com – Masyarakat belakangan ramai membicarakan hantavirus setelah muncul pemberitaan kasus infeksi di luar negeri. Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa virus ini sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia. Keberadaan hantavirus bahkan telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan hingga kini masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berjudul Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging Minggu Epidemiologi ke-17 Tahun 2026, tercatat sebanyak 23 kasus hantavirus terkonfirmasi sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatra Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Meski sama-sama disebabkan oleh hantavirus, jenis yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus yang ramai dibicarakan pada kapal pesiar di luar negeri. Di Indonesia, kasus yang ditemukan merupakan jenis Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome, sedangkan kasus di luar negeri banyak dikaitkan dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai risiko hantavirus bagi populasi umum di Indonesia saat ini masih tergolong rendah. Namun demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia memiliki sejumlah faktor yang mendukung penyebaran penyakit tersebut.
Menurut Dicky, tingginya populasi tikus atau rodensia, banjir musiman, sanitasi perkotaan yang belum optimal, hingga aktivitas padat di kawasan pelabuhan dan pergudangan menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan hantavirus.
“Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus meliputi petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, serta petani,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir maupun mereka yang sering berada di lingkungan tertutup, kotor, dan terinfestasi tikus juga termasuk kelompok rentan terpapar virus tersebut.
Gejala Mirip Penyakit Lain
Penanganan hantavirus di Indonesia dinilai memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya karena penyakit ini kerap tidak terdiagnosis atau underdiagnosed. Gejalanya sering menyerupai penyakit lain seperti Leptospirosis, Demam Berdarah Dengue, hingga pneumonia berat.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga sesak napas, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan sanitasi buruk dan banyak tikus.
Meski demikian, Dicky mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi ancaman hantavirus. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah utama pencegahan.
Masyarakat juga diimbau menyimpan makanan dengan baik, menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area kotor, serta menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus.
Terlebih saat musim hujan maupun banjir, warga disarankan tidak bersentuhan langsung dengan air kotor dan menggunakan alat pelindung untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, atau gangguan pernapasan setelah terpapar lingkungan yang tidak higienis, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







