100 Hari Pimpin BEM Polibatam, Aidil – Luthfi Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

100 Hari Pimpin BEM Polibatam, Aidil - Luthfi Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

Momentum Seratus Hari: Fondasi Organisasi yang Terbuka dan Kolaboratif

Suara Pecari, Batam – Seratus hari pertama kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Batam (Polibatam) menjadi titik tolak bagi Presiden Mahasiswa M. Aidil Azhar dan Wakil Presiden Mahasiswa Sulthonah Luthfi untuk meletakkan fondasi organisasi yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berdampak. Mengusung visi “Harmonis, Inklusif, dan Berdampak”, kepengurusan BEM Polibatam periode 2025-2026 tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan kegiatan mahasiswa, tetapi juga memperkuat peran mahasiswa sebagai mitra pembangunan melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, alumni, dan masyarakat. Dalam laporan 100 hari kerjanya, BEM Polibatam mencatat sejumlah program prioritas yang telah berjalan, mulai dari Vocation Diplomat School, transparansi anggaran organisasi, Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM), hingga pengawalan implementasi konversi SKS melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Visi “Harmonis, Inklusif, dan Berdampak”: Membangun Budaya Organisasi Sehat

Presiden Mahasiswa Polibatam, M. Aidil Azhar, menegaskan bahwa 100 hari pertama merupakan tahap membangun budaya organisasi yang sehat sekaligus membuktikan komitmen yang telah disampaikan kepada mahasiswa saat proses pemilihan. “Kami ingin membangun BEM yang bukan hanya dikenal karena program kerjanya, tetapi juga karena manfaat yang benar-benar dirasakan mahasiswa. Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, sekaligus ruang untuk melahirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Aidil. Visi ini diwujudkan melalui langkah strategis yang menyentuh berbagai aspek, mulai dari pengembangan kapasitas mahasiswa hingga transparansi tata kelola organisasi.

Program Unggulan: Vocation Diplomat School dan Konversi SKS

Salah satu langkah yang dinilai strategis adalah pengawalan konversi SKS bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi. Baginya, kebijakan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap pengalaman kepemimpinan, pengabdian, dan manajemen organisasi yang diperoleh mahasiswa di luar ruang kelas. Selain itu, melalui Vocation Diplomat School, BEM menghadirkan tokoh dari pemerintah daerah dan kalangan pelaku usaha untuk berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan, diplomasi, komunikasi, hingga pentingnya membangun jejaring profesional. “Mahasiswa vokasi tidak cukup hanya menguasai kompetensi teknis. Mereka juga perlu memiliki kemampuan membangun kolaborasi, kepemimpinan, dan komunikasi agar mampu menjadi SDM yang siap bersaing serta mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” ujarnya.

Transparansi Anggaran: Membangun Kepercayaan Mahasiswa

Aidil juga menilai transparansi anggaran yang mulai dipublikasikan melalui media sosial BEM merupakan bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang akuntabel. “Kami ingin mahasiswa mengetahui bagaimana organisasi bekerja dan mengelola anggaran. Transparansi adalah bagian dari komitmen kami untuk membangun kepercayaan dan tata kelola organisasi yang baik,” tambahnya. Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena menjadi contoh bagi organisasi mahasiswa lainnya di lingkungan Polibatam.

Wajah Baru BEM: Lebih Dekat dengan Mahasiswa dan Responsif Terhadap Isu Masyarakat

Sementara itu, Wakil Presiden Mahasiswa Sulthonah Luthfi menegaskan bahwa BEM ingin menghadirkan wajah baru organisasi kemahasiswaan yang lebih dekat dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus lebih responsif terhadap isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat. “Kami ingin mengubah cara pandang bahwa organisasi mahasiswa hanya identik dengan kegiatan seremonial atau penyelenggara acara. BEM harus mampu menjadi ruang pelayanan, pemberdayaan, advokasi, sekaligus menjadi jembatan kolaborasi antara kampus dengan berbagai pihak,” ujar Luthfi. Menurutnya, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kolaborasi yang telah dibangun bersama alumni, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan sektor industri. Salah satunya diwujudkan melalui forum diskusi mengenai pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai ruang bertukar gagasan mengenai tantangan pembangunan di Kota Batam.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan: Kolaborasi untuk Solusi Daerah

“Mahasiswa memiliki kapasitas untuk memberikan gagasan, inovasi, bahkan solusi terhadap persoalan daerah. Kami ingin BEM menjadi ruang yang mendorong lahirnya pemimpin muda yang peduli terhadap pembangunan Batam dan Kepulauan Riau,” kata Luthfi. Ia menambahkan, organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara dunia akademik dan masyarakat. Melalui berbagai program pengabdian, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Inisiatif ini sejalan dengan konsep merdeka belajar yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi di luar kelas.

Tantangan Awal dan Strategi Evaluasi

Meski demikian, BEM mengakui masih terdapat sejumlah tantangan pada awal kepengurusan, di antaranya partisipasi organisasi mahasiswa dalam beberapa kegiatan yang belum optimal akibat benturan jadwal dengan agenda masing-masing organisasi. Aidil mengatakan evaluasi tersebut akan menjadi perhatian dalam penyusunan agenda selanjutnya. “Kami akan memperkuat komunikasi dengan seluruh organisasi mahasiswa agar setiap program dapat disusun secara lebih kolaboratif. Kami percaya semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula dampak yang dapat diberikan kepada mahasiswa maupun masyarakat,” ujarnya. Untuk mengatasi tantangan ini, BEM telah menyusun kalender bersama dan mengadakan forum koordinasi rutin antarorganisasi.

Program Prioritas 100 Hari BEM Polibatam

ProgramStatusDampak
Vocation Diplomat SchoolBerjalanMeningkatkan soft skill dan jejaring mahasiswa
Transparansi AnggaranBerjalanMembangun kepercayaan dan akuntabilitas
LDKMTelah dilaksanakanMembentuk kader pemimpin masa depan
Konversi SKS (PPK Ormawa)PengawalanApresiasi terhadap aktivitas organisasi
Forum Diskusi SampahTelah dilaksanakanKontribusi pada isu lingkungan daerah

Agenda ke Depan: Polibatam Fair hingga Pengabdian Masyarakat

Ke depan, BEM Polibatam akan melanjutkan sejumlah agenda strategis, seperti Polibatam Fair, inaugurasi mahasiswa baru, penguatan kolaborasi antarorganisasi mahasiswa, serta memperluas program pengabdian kepada masyarakat. Luthfi berharap seluruh mahasiswa dapat mengambil peran dalam menciptakan perubahan positif. “Kami percaya mahasiswa bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga bagian dari penggeraknya. Ketika kampus, mahasiswa, alumni, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu berjalan bersama, maka akan lahir inovasi dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi Batam, Kepulauan Riau, dan Indonesia,” tutupnya. Dengan semangat gotong royong dan inovasi, BEM Polibatam optimis dapat menjadi katalisator perubahan yang berdampak luas bagi kemajuan daerah dan bangsa.

Seratus hari pertama ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan muda mampu menghadirkan terobosan. Bukan sekadar seremonial, tetapi langkah nyata menuju organisasi mahasiswa yang profesional, transparan, dan solutif. Polibatam kini memiliki panggung baru untuk melahirkan agen-agen perubahan yang siap berkontribusi bagi Indonesia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *