Bapas Tanjungpandan Libatkan Klien Kelola Lahan Tidur untuk Ketahanan Pangan
Suara Pecari, Belitung – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Tanjungpandan kembali menunjukkan inovasi dalam pembinaan klien pemasyarakatan. Melalui program pemanfaatan lahan tidur di lingkungan kantor, Bapas Tanjungpandan tidak hanya mengoptimalkan aset yang sebelumnya tidak produktif, tetapi juga membekali klien dengan keterampilan bercocok tanam yang bernilai ekonomi. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026 ini merupakan bagian dari program pembimbingan kemandirian sekaligus dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang digagas pemerintah.
Latar Belakang Program: Mengubah Lahan Tidur menjadi Lahan Produktif
Lahan tidur yang dimaksud adalah area kosong di sekitar kantor Bapas yang selama ini tidak termanfaatkan. Melihat potensi tersebut, pihak Bapas berinisiatif mengajak klien pemasyarakatan untuk mengelola lahan tersebut menjadi kebun sayuran. Langkah ini sejalan dengan Instruksi Presiden tentang percepatan ketahanan pangan dan program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Dengan memanfaatkan lahan yang ada, Bapas tidak perlu mengeluarkan biaya sewa atau pembelian lahan baru, sehingga program ini sangat efisien dan berkelanjutan.
Kronologi Kegiatan: Dari Bersih Lahan hingga Panen
Kegiatan dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan apel pagi dan arahan dari Kepala Sub Seksi Bimbingan Klien Dewasa, M. Yeyen Purbasari. Selanjutnya, klien bersama petugas Bapas bergotong royong membersihkan lahan dari rumput liar dan sampah. Proses dilanjutkan dengan menggemburkan tanah menggunakan cangkul dan alat sederhana, kemudian membuat bedengan-bedengan untuk tempat penanaman. Bibit bayam dan kangkung yang telah disiapkan ditanam dengan jarak yang teratur. Klien juga diajarkan cara merawat tanaman, mulai dari penyiraman, pemupukan organik, hingga pengendalian hama secara alami. Setelah penanaman, dilakukan sesi diskusi dan evaluasi untuk memastikan pemahaman klien terhadap teknik bercocok tanam yang benar.
| Tahapan | Aktivitas | Waktu |
|---|---|---|
| 1 | Apel pagi dan arahan | 08.00 – 08.30 |
| 2 | Pembersihan lahan | 08.30 – 09.30 |
| 3 | Penggemburan tanah dan pembuatan bedengan | 09.30 – 10.30 |
| 4 | Penanaman bibit | 10.30 – 11.30 |
| 5 | Perawatan dan diskusi | 11.30 – 12.00 |
Pembimbingan Kemandirian: Lebih dari Sekadar Wajib Lapor
M. Yeyen Purbasari menegaskan bahwa pembimbingan kepada klien pemasyarakatan tidak hanya terbatas pada kewajiban wajib lapor. Melalui kegiatan seperti ini, klien diajak untuk mengembangkan etos kerja, tanggung jawab, dan keterampilan hidup yang dapat langsung diterapkan setelah kembali ke masyarakat. “Pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif merupakan bentuk pembimbingan kemandirian yang diharapkan dapat menumbuhkan etos kerja, tanggung jawab, serta keterampilan yang bermanfaat setelah klien kembali ke masyarakat,” ujar Yeyen. Program ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan melalui optimalisasi potensi yang dimiliki satuan kerja pemasyarakatan.
Dampak bagi Klien: Keterampilan Baru dan Rasa Percaya Diri
Salah seorang klien berinisial RK mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Selain menjalankan wajib lapor, dirinya juga memperoleh pengetahuan tentang cara mengolah lahan dan menanam sayuran. “Saya mendapatkan keterampilan baru yang bisa dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat. Kegiatan ini membuat saya lebih percaya diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih produktif,” ujarnya. Pengakuan RK menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada aspek keterampilan, tetapi juga pada aspek psikologis klien, seperti peningkatan rasa percaya diri dan optimisme.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah
Program pemanfaatan lahan tidur ini memiliki implikasi luas. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan kebun sayuran di lingkungan Bapas dapat menjadi contoh pemanfaatan lahan kosong yang produktif. Sayuran yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi klien dan petugas, bahkan berpotensi dijual untuk menambah pemasukan. Bagi pemerintah, program ini mendukung target ketahanan pangan nasional dengan cara yang inovatif dan melibatkan partisipasi aktif dari klien pemasyarakatan. Ke depannya, Bapas Tanjungpandan berencana memperluas jenis tanaman dan melibatkan lebih banyak klien dalam program serupa.
- Mengurangi angka pengangguran dengan membekali klien keterampilan kerja.
- Menurunkan potensi residivisme melalui pembinaan yang holistik.
- Mengoptimalkan aset lahan tidur milik negara.
- Mendukung program ketahanan pangan secara nyata di tingkat lokal.
Penutup: Langkah Kecil dengan Dampak Besar
Inisiatif Bapas Tanjungpandan mengubah lahan tidur menjadi ladang produktif adalah bukti bahwa pembinaan pemasyarakatan bisa berjalan seiring dengan pembangunan nasional. Di balik bedengan sayuran yang tertata rapi, terdapat proses transformasi klien menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan siap berkontribusi. Program ini mengingatkan kita bahwa setiap jengkal tanah yang tidak terurus memiliki potensi, sama seperti setiap klien yang dibina memiliki kesempatan untuk berubah. Dengan sinergi antara petugas, klien, dan dukungan pemerintah, Bapas Tanjungpandan telah menorehkan cerita sukses yang layak ditiru oleh unit pemasyarakatan lainnya di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










