Kekeringan Meluas di Dasarian II Juli 2026, 9 Provinsi Masuk Status Siaga
Suara Pecari, Memasuki dasarian II Juli 2026, ancaman kekeringan meteorologis semakin nyata di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bahwa sebanyak 9 provinsi telah masuk kategori siaga kekeringan, sementara lebih dari 16 ribu jiwa terdampak krisis air bersih di beberapa daerah. Fenomena El Nino yang aktif turut memperkuat musim kemarau, namun potensi hujan belum sepenuhnya hilang.
Berdasarkan data BMKG, pada dasarian I Juli 2026, sebanyak 60,5 persen wilayah Indonesia atau setara 432 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Angka ini meningkat 11,6 persen dibanding dasarian sebelumnya. Indeks El Nino di region Nino3.4 tercatat +1,88, menegaskan bahwa fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah telah aktif dan berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan bahwa kekeringan telah meluas di sejumlah daerah. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sedikitnya 3.148 kepala keluarga atau 10.407 jiwa terdampak di empat desa di Kecamatan Kemalang. BPBD setempat telah mendistribusikan 236 tangki air bersih setara 1.180.000 liter selama periode 15 Juni hingga 13 Juli 2026. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Banyumas dengan 1.820 KK atau 5.648 jiwa terdampak, serta Kabupaten Pemalang yang telah menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga 31 November 2026.
BMKG mencatat bahwa wilayah yang masuk kategori siaga meliputi Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, status waspada berlaku di sejumlah kabupaten/kota di 14 provinsi, termasuk Gorontalo, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan. Belum ada wilayah yang mencapai level awas (tertinggi).
Di NTT, prakiraan cuaca untuk 15 Juli 2026 menunjukkan pagi cerah berawan, siang berpotensi hujan ringan di lima wilayah, yaitu Soe, Betun, Ruteng, Borong, dan Tambolaka. Meski musim kemarau semakin dominan, BMKG mengingatkan bahwa potensi hujan belum sepenuhnya hilang karena aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby masih terpantau aktif di beberapa wilayah, memicu hujan intensitas sedang hingga lebat, seperti yang terjadi di Papua (99 mm/hari) pada 9 Juli 2026.
Penguatan periode kering juga tercermin dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), dengan 596 titik pengamatan (12,2%) pada kategori panjang (21–30 hari) dan 331 titik (6,8%) pada kategori sangat panjang (31–60 hari). Sebaran massa udara kering dari selatan Indonesia meluas hingga ke Jawa, Nusa Tenggara, dan Kalimantan bagian selatan, mempertegas penurunan potensi pembentukan awan hujan.
BNPB dan BMKG terus mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang masuk kategori siaga. Upaya distribusi air bersih dan penetapan status darurat menjadi langkah antisipatif yang telah dilakukan. Dengan kondisi El Nino yang masih bertahan, dasarian-dasarian ke depan perlu diwaspadai, meskipun potensi hujan lokal masih dapat terjadi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










