Suhu Ekstrem Landa Indonesia: Dari Embun Beku di Merbabu hingga Panas Menyengat di Jakarta
Suara Pecari, Fenomena suhu ekstrem tengah melanda sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan Juli 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya variasi suhu yang signifikan, mulai dari suhu dingin membeku di puncak Gunung Merbabu hingga panas menyengat di Jakarta. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Di puncak Gunung Merbabu, suhu udara tercatat mencapai minus 1 derajat Celsius pada Sabtu (10/7/2026) dini hari. Fenomena embun beku atau embun upas menyelimuti kawasan tersebut, menyebabkan rumput dan dedaunan tertutup lapisan es tipis. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau para pendaki untuk mewaspadai hipotermia. Kepala Humas BTNGMb, Dian Saraswati, menyatakan bahwa kondisi dingin ekstrem ini dipicu oleh fenomena bediding yang lazim terjadi pada puncak musim kemarau di kawasan pegunungan. Suhu di Pos Sabana 1 tercatat 6 derajat Celsius pada pukul 20.00 WIB, namun anjlok drastis menjadi -1 derajat Celsius pada pukul 05.30 WIB keesokan harinya.
Sementara itu, di Jakarta, BMKG memprediksi cuaca cerah hingga berawan dengan suhu mencapai 35 derajat Celsius pada Selasa (14/7/2026). Tingkat kelembapan udara berkisar antara 35 hingga 81 persen. Suhu panas ini diperkirakan akan bertahan hingga beberapa hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap terhidrasi dan menghindari paparan sinar matahari langsung pada siang hari.
Perbedaan suhu yang ekstrem antara luar ruangan dan ruangan ber-AC juga dapat memicu masalah kesehatan, terutama pada kulit. Dokter kulit dari American Academy of Dermatology Association mengingatkan bahwa suhu panas dapat meningkatkan produksi minyak dan bakteri yang menyumbat pori-pori, sehingga memicu jerawat. Selain itu, perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi. Disarankan untuk menggunakan produk non-comedogenic, rutin membersihkan wajah, dan memakai tabir surya.
Fenomena suhu ekstrem ini juga mendorong masyarakat untuk mencari alternatif pendingin ruangan yang hemat energi. Air cooler atau pendingin evaporatif menjadi pilihan populer karena mampu menurunkan suhu udara hingga 11 derajat Celsius di wilayah kering. Alat ini bekerja dengan prinsip penguapan air dan hanya mengonsumsi seperempat energi dibandingkan AC konvensional.
BMKG memperkirakan kondisi suhu dingin di pegunungan seperti Merbabu akan berlangsung hingga September 2026, sementara suhu panas di perkotaan diprediksi terus terjadi sepanjang musim kemarau. Masyarakat diharapkan selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan.
Kesimpulannya, variasi suhu yang ekstrem di Indonesia saat ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat. Baik suhu dingin yang berpotensi menyebabkan hipotermia maupun suhu panas yang dapat memicu gangguan kulit, keduanya memerlukan penanganan yang tepat. Dengan memahami karakteristik cuaca dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, dampak negatif dari suhu ekstrem dapat diminimalkan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










