Skandal Korupsi MBG Makin Panas: Pengumpulan Data Dihentikan, Febrie Adriansyah dan Don Ritto Terjerat
Suara Pecari, Kasus dugaan korupsi proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memanas setelah pengumpulan data di daerah dihentikan secara mendadak. Langkah ini memicu kecurigaan publik dan mendapat kritik keras dari Komisi Kejaksaan RI. Di sisi lain, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah bersama pengusaha Don Ritto resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Penghentian pengumpulan data korupsi MBG tertuang dalam surat perintah Direktur Penyidikan pada Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, yang berlaku sejak Jumat (10/7/2026). Komisioner Komisi Kejaksaan RI, Nurrohman, menegaskan bahwa langkah tersebut menjadi ujian kredibilitas institusi kejaksaan. “Proses hukum harus dijalankan secara profesional, transparan, dan akuntabel tanpa pandang bulu,” ujarnya, Selasa (14/7/2026). Kejagung beralasan penghentian karena batas waktu pengumpulan data telah berakhir, namun publik menilai keputusan itu mendadak dan berpotensi menghambat penyidikan.
Sementara itu, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Zaenur Rohman, menyoroti pelimpahan perkara Febrie dari Polri ke Kejagung. Ia menilai tindakan itu tidak memiliki dasar hukum dan rawan konflik kepentingan. “Yang memiliki dasar hukum untuk mengambil alih perkara pada tahap penyidikan hanyalah KPK,” tegas Zaenur. Ia juga meragukan independensi Kejagung karena melibatkan mantan petinggi institusi tersebut.
Dalam perkembangan terbaru, pengacara Don Ritto, Handika Hanggowongso, membantah uang miliaran rupiah yang disita dari Kafe de’Clan Signature dan money changer di Cipete berasal dari korupsi. Menurutnya, dana tersebut merupakan kerja sama bisnis pembangunan pelabuhan di Kalimantan Timur. “(Uang) Itu adalah untuk kerjasama membangun kawasan pelabuhan dengan seorang pengusaha,” kata Handika, Rabu (15/7/2026). Ia juga mengungkap sosok Ferry “Boboho” Hongkiriwang yang disebut sebagai tukang catut nama petinggi Kejagung, namun membantah adanya aliran dana dari Febrie ke Don Ritto melalui Ferry.
Kasus ini juga menyita perhatian karena penyitaan aset fantastis, termasuk uang tunai ratusan miliar rupiah dan 74 kilogram emas. Publik pun mengaitkannya dengan film-film Korea seperti The Hunt, Project Y, dan The Pirates: The Last Royal Treasure yang mengangkat tema keserakahan terhadap emas. Meski demikian, praktik korupsi di dunia nyata jauh lebih berdampak, mengorbankan kesejahteraan masyarakat luas.
Di tengah polemik, Komisi Kejaksaan memperingatkan Kejagung agar tetap independen. Kasus dugaan korupsi MBG dan keterlibatan Febrie Adriansyah menjadi ujian serius bagi penegakan hukum di Indonesia. Masyarakat menanti transparansi dan keadilan dalam pengusutan perkara ini.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










