P3RI Gelar Webinar Nasional: Transformasi Humas Digital dan Sertifikasi Kompetensi sebagai Kunci Karier di Era AI

P3RI Gelar Webinar Nasional: Transformasi Humas Digital dan Sertifikasi Kompetensi sebagai Kunci Karier di Era AI

Suara Pecari, Surabaya, 15 Juli 2026 – Perhimpunan Profesional Public Relation Indonesia (P3RI) sukses menggelar webinar nasional bertajuk “Transformasi Humas Digital dalam Peningkatan Karier dengan Sertifikasi Kompetensi” secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Juli 2026. Acara ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari praktisi humas, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum yang memiliki minat tinggi terhadap perkembangan profesi kehumasan di era digital. Webinar ini menjadi momentum penting bagi para pelaku humas untuk memahami perubahan lanskap komunikasi yang semakin dipengaruhi oleh teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.

Membuka Cakrawala Baru Profesi Humas

Webinar dibuka secara resmi oleh Ketua Pengawas P3RI, Dr. Prapto Rusianto, M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan urgensi transformasi profesi humas di tengah derasnya arus digitalisasi. “Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan media sosial menuntut praktisi humas untuk terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan dan mampu bersaing di dunia kerja,” ujar Dr. Prapto Rusianto. Ia menambahkan bahwa profesi humas kini tidak lagi sekadar menjadi jembatan komunikasi antara organisasi dan publik, melainkan juga harus mampu mengelola data, menganalisis sentimen, dan merancang strategi komunikasi berbasis teknologi.

Dr. Prapto juga mengingatkan bahwa era digital membawa tantangan baru seperti penyebaran informasi palsu (hoaks), krisis reputasi yang cepat viral, dan kebutuhan akan respons yang real-time. Oleh karena itu, praktisi humas dituntut untuk memiliki literasi digital yang tinggi dan kemampuan adaptasi yang cepat.

Transformasi Humas Digital: Dari Komunikasi ke Data-Driven

Sesi utama webinar diisi oleh Dr. Bawinda Lestari, M.Psi., seorang pakar komunikasi yang memaparkan materi mengenai transformasi humas digital di era AI dan media sosial. Ia menjelaskan bahwa kompetensi humas kini tidak lagi terbatas pada kemampuan komunikasi interpersonal, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi digital, analisis data, dan strategi komunikasi berbasis bukti. “Praktisi humas harus mampu memanfaatkan teknologi digital, mengolah data komunikasi, serta membangun reputasi organisasi melalui berbagai platform digital,” kata Dr. Bawinda Lestari.

Ia memaparkan beberapa keterampilan kunci yang harus dimiliki praktisi humas masa kini:

  • Literasi Data: Kemampuan membaca, menginterpretasi, dan menggunakan data dari media sosial, survei, dan alat analitik untuk merancang strategi komunikasi.
  • Penguasaan AI: Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk otomatisasi tugas rutin, seperti penjadwalan konten, analisis sentimen, dan chatbot layanan publik.
  • Manajemen Krisis Digital: Kemampuan merespons isu secara cepat dan tepat di platform digital, termasuk penanganan berita negatif yang menyebar luas.
  • Storytelling Visual: Mengemas pesan dalam format video, infografis, dan konten interaktif yang menarik perhatian audiens digital.

Dr. Bawinda juga menyoroti tren terbaru di industri humas, seperti penggunaan AI generatif untuk menulis siaran pers, personalisasi konten berdasarkan segmentasi audiens, dan pemanfaatan big data untuk memprediksi isu yang berpotensi menjadi krisis. Menurutnya, praktisi humas yang tidak mau beradaptasi akan tertinggal dan kehilangan relevansi.

Sertifikasi Kompetensi: Jembatan Menuju Profesionalisme

Materi selanjutnya disampaikan oleh Direktur LSP Public Relation Nusantara, Dr. Totok Wahyu Abadi, M.Si. Ia memperkenalkan berbagai skema sertifikasi kompetensi yang dapat diikuti oleh para praktisi humas. Dr. Totok menjelaskan bahwa LSP Public Relation Nusantara saat ini memiliki 27 skema sertifikasi kompetensi secara tatap muka (on-site) dan lima skema Sertifikasi Jarak Jauh (SJJ). “Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing, profesionalisme, dan pengakuan kompetensi bagi praktisi humas,” ujar Dr. Totok Wahyu Abadi.

Berikut adalah rincian skema sertifikasi yang ditawarkan:

Jenis SkemaJumlah SkemaMetode
Sertifikasi Tatap Muka (On-site)27Pelatihan dan uji kompetensi langsung
Sertifikasi Jarak Jauh (SJJ)5Daring melalui platform e-learning

Beberapa skema sertifikasi yang paling diminati antara lain: Manajemen Humas Digital, Public Relations Officer, dan Social Media Specialist. Dr. Totok menekankan bahwa sertifikasi ini diakui secara nasional oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan menjadi nilai tambah bagi karier praktisi humas, baik di sektor pemerintah, swasta, maupun organisasi non-profit.

Diskusi Interaktif: Antusiasme Peserta Tinggi

Diskusi yang dipandu oleh moderator Syafril Riza, S.E., M.M. berlangsung interaktif. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari peluang karier di bidang humas digital, cara memanfaatkan AI secara etis, hingga mekanisme pendaftaran sertifikasi. Salah satu peserta, Rina dari Jakarta, bertanya tentang bagaimana praktisi humas dapat membedakan antara informasi yang valid dan hoaks di media sosial. Dr. Bawinda Lestari menjawab bahwa literasi digital menjadi kunci, dan praktisi humas harus mampu menggunakan alat verifikasi fakta serta membangun jaringan dengan pihak berwenang.

Pertanyaan lain datang dari Andi, mahasiswa Ilmu Komunikasi di Surabaya, yang menanyakan prospek kerja bagi lulusan baru di era AI. Dr. Totok Wahyu Abadi menyarankan agar mahasiswa segera mengikuti program sertifikasi sejak dini untuk meningkatkan daya saing. “Sertifikasi bukan hanya untuk yang sudah bekerja, tetapi juga untuk calon praktisi humas yang ingin memiliki keunggulan kompetitif saat melamar kerja,” ujarnya.

Dampak dan Implikasi bagi Industri Humas Indonesia

Webinar ini memberikan dampak signifikan bagi peserta, terutama dalam hal pemahaman tentang pentingnya transformasi digital dan sertifikasi. Bagi industri, acara ini menjadi sinyal bahwa profesi humas di Indonesia sedang bertransformasi menuju standar global. P3RI berharap ke depannya semakin banyak praktisi humas yang tersertifikasi, sehingga kualitas komunikasi organisasi di Indonesia meningkat.

Implikasi lain adalah munculnya kebutuhan akan kurikulum pendidikan yang lebih relevan di perguruan tinggi. Fakultas Ilmu Komunikasi diharapkan mulai mengintegrasikan mata kuliah tentang AI, analisis data, dan manajemen media sosial ke dalam program studinya. Selain itu, perusahaan dan lembaga pemerintah perlu mendorong pegawai humasnya untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi agar mampu menghadapi tantangan era digital.

Penutup: Langkah Nyata Menuju Profesionalisme Humas Digital

Webinar yang berlangsung selama tiga jam ini ditutup dengan sesi foto bersama secara virtual dan pengumuman mengenai penerbitan e-sertifikat bagi seluruh peserta. Melalui kegiatan ini, P3RI berhasil menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi humas digital di Indonesia. Para peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga motivasi untuk terus belajar dan beradaptasi. Di era di mana AI dan media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi, sertifikasi kompetensi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap praktisi humas yang ingin kariernya terus melesat. P3RI pun berencana menggelar webinar serupa secara berkala, dengan topik yang lebih spesifik, seperti penggunaan AI dalam krisis komunikasi dan strategi personal branding di LinkedIn.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *