Pelatihan Koding dan AI Perkuat Kompetensi Guru SD untuk Pembelajaran Digital
Suara Pecari, BOGOR – Transformasi pendidikan digital di Indonesia mendapat dorongan signifikan melalui pelatihan intensif koding dan kecerdasan artifisial (AI) bagi guru-guru sekolah dasar. Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat Lektor (PkML) Skema Utama Berdampak Tahun 2026 menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Penguatan Kompetensi Guru dalam Koding dan AI Berbasis Scratch” di SD Negeri Bojong Kerta, Kota Bogor, pada awal Juli 2026. Kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi membekali para pendidik dengan kemampuan merancang pembelajaran digital yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan siswa di era digital.
Latar Belakang: Urgensi Literasi Digital di Sekolah Dasar
Perkembangan teknologi yang pesat menuntut adaptasi di semua lini pendidikan, terutama di jenjang sekolah dasar yang menjadi fondasi pembentukan karakter dan kompetensi anak. Namun, masih banyak guru yang belum familiar dengan konsep koding dan AI, sehingga potensi besar teknologi ini belum termanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran. Kepala Sekolah SD Negeri Bojong Kerta, Annisa Riani, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat menyambut baik inisiatif PNJ. “Materi ini sangat relevan dengan kebutuhan sekolah dalam menyiapkan pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan dekat dengan dunia digital siswa. Kami berharap guru-guru dapat mengembangkan hasil pelatihan ini menjadi kegiatan pembelajaran yang menarik di kelas,” ujarnya saat pembukaan acara.
Kronologi Pelaksanaan Pelatihan
Pelatihan berlangsung selama dua hari, dari tanggal 8 hingga 9 Juli 2026, bertempat di laboratorium komputer SD Negeri Bojong Kerta. Rangkaian kegiatan meliputi:
- Hari Pertama (8 Juli 2026): Pembukaan, pemaparan urgensi literasi koding dan AI oleh narasumber dari Program Studi Teknik Informatika PNJ. Dilanjutkan dengan pengenalan dasar Scratch, antarmuka, dan konsep blok kode. Peserta kemudian praktik membuat proyek sederhana, seperti animasi karakter dan simulasi gerakan.
- Hari Kedua (9 Juli 2026): Pendalaman materi AI secara kontekstual, termasuk cara kerja AI dalam kehidupan sehari-hari dan contoh penerapannya dalam media pembelajaran. Peserta dibagi dalam kelompok untuk mengembangkan proyek tematik, seperti kuis interaktif atau permainan edukatif. Sesi diskusi dan refleksi menutup kegiatan, diikuti evaluasi awal dan akhir untuk mengukur peningkatan pemahaman.
Materi Pelatihan: Dari Koding Dasar hingga AI Kontekstual
Pelatihan dirancang dengan pendekatan hands-on, memastikan setiap guru tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mempraktikkan langsung. Beberapa materi inti meliputi:
- Konsep Computational Thinking: Guru diajak memahami cara berpikir komputasional, yaitu kemampuan memecahkan masalah secara logis dan sistematis, yang menjadi fondasi koding.
- Pemrograman Visual Scratch: Platform Scratch digunakan karena ramah anak dan berbasis blok, memudahkan guru untuk mengajarkan koding tanpa harus menulis kode rumit. Peserta belajar menyusun instruksi, membuat animasi, dan mengintegrasikan suara serta gambar.
- Pengenalan AI untuk Anak: AI diperkenalkan secara sederhana, misalnya melalui contoh asisten virtual, rekomendasi konten, atau deteksi objek. Guru juga dibekali prinsip penggunaan AI yang aman, etis, dan sesuai usia siswa SD.
Berikut adalah tabel rincian materi dan durasi pelatihan:
| Sesi | Topik | Durasi | Metode |
|---|---|---|---|
| 1 | Urgensi Literasi Koding & AI | 60 menit | Ceramah & Diskusi |
| 2 | Dasar Scratch & Proyek Sederhana | 120 menit | Praktik Mandiri |
| 3 | AI Kontekstual & Etika | 90 menit | Studi Kasus & Diskusi |
| 4 | Proyek Kelompok Tematik | 150 menit | Praktik Kelompok |
| 5 | Refleksi & Evaluasi | 60 menit | Diskusi & Kuesioner |
Dampak dan Implikasi bagi Pendidikan Dasar
Pelatihan ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi mutu pembelajaran di SD Negeri Bojong Kerta dan sekitarnya. Beberapa implikasi positif meliputi:
- Peningkatan Kreativitas Guru: Dengan kemampuan koding dan AI, guru dapat merancang media pembelajaran yang lebih variatif, seperti animasi edukatif, simulasi interaktif, dan game pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum tematik.
- Pengembangan Computational Thinking Siswa: Sejak dini, siswa diperkenalkan dengan cara berpikir logis dan sistematis, yang merupakan keterampilan penting di abad ke-21.
- Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Sekolah Dasar: Kegiatan ini memperkuat sinergi antara PNJ sebagai institusi vokasi dengan satuan pendidikan dasar, menciptakan ekosistem literasi digital yang berkelanjutan.
- Penyiapan Generasi Melek Teknologi: Dengan membekali guru, dampaknya akan meluas ke siswa, mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang semakin digital.
Ketua Pelaksana Tim PkML PNJ, Bambang Warsuta, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk kontribusi nyata PNJ dalam memperkuat literasi digital dan kapasitas pedagogis guru. “Kami ingin koding dan kecerdasan artifisial tidak dipahami sebagai materi yang rumit, tetapi sebagai sarana untuk melatih kreativitas, logika berpikir, kolaborasi, dan pemecahan masalah,” jelasnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) PNJ atas dukungannya.
Langkah Tindak Lanjut dan Keberlanjutan
Sebagai tindak lanjut, tim PNJ mendorong para guru untuk menerapkan hasil pelatihan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Beberapa aktivitas yang direkomendasikan antara lain:
- Membuat animasi edukatif untuk menjelaskan konsep sains atau matematika.
- Merancang kuis interaktif berbasis Scratch untuk evaluasi pembelajaran.
- Mengembangkan permainan tematik yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter.
- Memperkenalkan AI melalui proyek sederhana, seperti chatbot edukasi atau deteksi gambar.
Hasil praktik peserta juga akan menjadi bahan refleksi dan pengembangan modul pembelajaran lanjutan yang dapat diakses oleh sekolah lain. PNJ berencana melakukan pendampingan secara berkala untuk memastikan implementasi berjalan efektif.
Pelatihan ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi vokasi dan sekolah dasar dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan inisiatif seperti ini, ekosistem literasi digital di Indonesia diharapkan semakin kokoh, dimulai dari jenjang pendidikan dasar. Para guru yang telah terlatih diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi rekan-rekan sejawatnya, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, langkah PNJ membekali guru SD dengan keterampilan koding dan AI adalah investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan Indonesia. Bukan hanya sekadar mengikuti tren, tetapi membangun fondasi yang kuat agar generasi muda mampu berkreasi, berinovasi, dan bersaing di era global. Semoga inisiatif serupa dapat direplikasi di berbagai daerah, sehingga tidak ada lagi kesenjangan digital dalam dunia pendidikan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










