Mahasiswa Unila Kembangkan Inovasi Ubah Limbah Organik Jadi Produk Bernilai

Mahasiswa Unila Kembangkan Inovasi Ubah Limbah Organik Jadi Produk Bernilai

Bandarlampung – Inovasi Mahasiswa Unila untuk Mengatasi Limbah Organik

Suara Pecari, Tim Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) berhasil mengembangkan inovasi pengolahan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi. Program ini diterapkan di Desa Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat. Inovasi tersebut memanfaatkan teknologi soluble liquid (SL), yaitu larutan dari campuran 33 jenis tanaman temu-temuan, minyak nabati, minyak hewani, dan air lindi. Teknologi ini mampu menguraikan limbah organik dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau.

Sekretaris Tim PM BEM Unila, Tri Rizki Handayani, menjelaskan bahwa teknologi ini dikembangkan untuk menjawab persoalan limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hasil pengolahan limbah kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. “Kami membawa solusi untuk mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian, perikanan, peternakan, sekaligus mendukung ekonomi masyarakat desa. Harapannya, inovasi ini dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” ujar Tri pada Rabu, 8 Juli 2026.

Produk Unggulan: Refnila dan Rafnila

Tim mahasiswa mengembangkan dua produk utama. Pertama, Refnila adalah pupuk organik cair dengan berbagai fungsi sesuai kebutuhan tanaman. Kedua, Rafnila adalah pakan dan suplemen unggas berbahan baku limbah ikan. Kedua produk ini dirancang untuk memanfaatkan limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai tambah.

Nama ProdukJenisBahan BakuFungsi
RefnilaPupuk Organik CairLimbah organik (sisa tanaman, dapur)Menyuburkan tanah, mempercepat pertumbuhan tanaman
RafnilaPakan & Suplemen UnggasLimbah ikan (kepala, tulang, jeroan)Meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan ayam

Pendampingan dan Infrastruktur Pendukung

Program ini tidak hanya memberikan produk, tetapi juga pendampingan kepada 20 pemuda karang taruna dan delapan anggota kelompok nelayan melalui pelatihan pengolahan limbah skala rumah tangga. Tim juga menyerahkan mesin pencacah sampah organik, alat press ulir, dan mesin penggiling limbah ikan untuk mendukung keberlanjutan program.

  • Mesin pencacah sampah organik: Mempercepat proses penghancuran limbah sebelum difermentasi.
  • Alat press ulir: Memisahkan cairan dan padatan hasil fermentasi.
  • Mesin penggiling limbah ikan: Menghaluskan limbah ikan menjadi bubuk untuk bahan pakan.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Inovasi ini mendorong pengembangan sistem ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Dampak langsungnya antara lain:

  • Mengurangi volume limbah organik yang dibuang ke lingkungan.
  • Menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan limbah.
  • Meningkatkan pendapatan petani dan peternak melalui penggunaan pupuk dan pakan murah.
  • Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pakan pabrikan.

Program ini juga menjadi upaya mendukung pengelolaan lingkungan dan penguatan usaha masyarakat berbasis potensi lokal. Ke depannya, diharapkan inovasi serupa dapat direplikasi di desa-desa lain di Indonesia.

Penutup

Inovasi mahasiswa Unila ini membuktikan bahwa limbah organik bukan sekadar masalah, melainkan peluang. Dengan teknologi sederhana dan partisipasi masyarakat, desa-desa dapat mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Semoga langkah ini menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkreasi dan berkolaborasi demi masa depan yang lebih hijau dan berdaya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *