Menperin RI Tak Lagi Cari Pembeli Bahan Mentah, tapi Mitra Bangun Industri
Suara Pecari, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mencari pembeli bahan mentah, melainkan mengajak negara mitra untuk membangun industri bersama melalui investasi, hilirisasi, dan transfer teknologi. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Innoprom 2026 di Ekaterinburg, Rusia, pada Selasa, 9 Juli 2026. Menurut Agus, transformasi industri menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai target sebagai salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045.
Latar Belakang Transformasi Industri Indonesia
Indonesia telah lama dikenal sebagai pemasok bahan mentah global, terutama sumber daya alam seperti nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Namun, kebijakan hilirisasi yang digalakkan sejak beberapa tahun terakhir mengubah paradigma tersebut. Pemerintah kini mendorong pengolahan di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan daya saing internasional. Agus menyebutkan bahwa sektor manufaktur menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pada kuartal I 2026, industri manufaktur tumbuh 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen. Sektor ini menyumbang hampir seperlima produk domestik bruto (PDB), lebih dari 83 persen nilai ekspor nasional, serta menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
Data Kinerja Industri Manufaktur Indonesia
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan Manufaktur Q1 2026 | 5,04% |
| Pertumbuhan Manufaktur Q1 2025 | 4,55% |
| Kontribusi terhadap PDB | Hampir 20% |
| Kontribusi terhadap Ekspor | >83% |
| Tenaga Kerja Terserap | >20 juta orang |
Hubungan Ekonomi Indonesia-Rusia: Dari Perdagangan ke Kemitraan Industri
Agus menilai hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia memiliki fondasi yang kuat untuk ditingkatkan. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai USD 4,8 miliar pada 2025, naik 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Rusia tumbuh 7,5 persen menjadi USD 1,8 miliar. Struktur perdagangan kedua negara saling melengkapi, dengan Indonesia mengekspor karet, kopi, alas kaki, elektronik, dan bahan kimia, sementara Rusia memasok pupuk, baja, serealia, dan produk dirgantara.
Namun, Agus menekankan bahwa hubungan dagang tersebut perlu ditingkatkan menjadi kemitraan industri yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Salah satu peluang terbesar berada pada sektor hilirisasi mineral. Indonesia menawarkan kerja sama investasi mulai dari pembangunan smelter, fasilitas pemurnian, hingga industri bahan baku baterai. Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, serta sumber daya bauksit, timah, dan tembaga, Indonesia menjadi mitra strategis dalam pengembangan industri kendaraan listrik dan baterai.
Peluang Kerja Sama di Berbagai Sektor
- Mineral dan Baterai: Investasi smelter, pemurnian, dan bahan baku baterai untuk kendaraan listrik.
- Manufaktur: Kolaborasi di bidang otomotif, elektronik, tekstil, dan perkapalan.
- Energi dan Petrokimia: Pengembangan energi baru terbarukan dan produk petrokimia.
- Makanan Halal, Kosmetik, Farmasi: Perusahaan Indonesia dapat memanfaatkan Rusia sebagai pintu masuk ke pasar Eurasia.
Dampak dan Implikasi bagi Indonesia
Transformasi dari penjual bahan mentah menjadi mitra industri memiliki dampak luas. Pertama, hilirisasi meningkatkan nilai tambah ekspor, mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas. Kedua, investasi asing langsung (FDI) di sektor manufaktur menciptakan lapangan kerja berkualitas dan transfer teknologi. Ketiga, kemitraan jangka panjang dengan negara seperti Rusia memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Sebaliknya, bagi Rusia, kerja sama ini membuka akses ke pasar ASEAN yang berpenduduk lebih dari 700 juta jiwa.
Agus menegaskan bahwa hubungan investasi akan menciptakan keterikatan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan sekadar transaksi perdagangan. “Hasil yang ingin kita capai bukan hanya dokumen kerja sama, tetapi investasi yang terealisasi, usaha patungan yang terbentuk, serta industri yang benar-benar dibangun bersama,” tutur Agus.
Kronologi dan Langkah Selanjutnya
Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Innoprom 2026 menjadi ajang promosi dan negosiasi awal. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan kawasan industri di berbagai daerah untuk memfasilitasi investasi. Langkah selanjutnya adalah tindak lanjut konkret melalui pertemuan bilateral, penandatanganan MoU, dan realisasi proyek. Dengan komitmen kuat dari kedua pihak, kemitraan ini diharapkan menjadi model kerja sama Selatan-Selatan yang saling menguntungkan.
Indonesia tidak lagi menjadi negara yang sekadar menjual sumber daya alam mentah. Dengan visi Indonesia Emas 2045, transformasi industri menjadi prioritas utama. Melalui kemitraan dengan Rusia dan negara lain, Indonesia siap menjadi kekuatan manufaktur global yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










