Potensi Ekonomi Kurban 2026 Diperkirakan Mencapai Rp26,89 Triliun

Potensi Ekonomi Kurban 2026 Diperkirakan Mencapai Rp26,89 Triliun

Suara Pecari | Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi dari kegiatan kurban nasional pada tahun 2026 dapat mencapai Rp26,89 triliun. Angka ini didapat dari estimasi sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban yang diperkirakan akan menyembelih total 1,59 juta ekor hewan kurban.

Perincian dari estimasi tersebut mencakup 493,18 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing atau domba. Dari jumlah hewan kurban ini, diperkirakan potensi distribusi daging yang dihasilkan mencapai 99,29 ribu ton. Tira Mutiara, peneliti dari IDEAS, menjelaskan bahwa estimasi ini menggunakan pendekatan yang mempertimbangkan jumlah penduduk Muslim dengan pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan.

Dia menambahkan, simulasi juga memperhitungkan preferensi masyarakat terhadap jenis dan bobot hewan kurban, termasuk opsi patungan dalam membeli sapi. Meskipun proyeksi ekonomi kurban 2026 menunjukkan angka yang tinggi, terdapat penurunan dari tahun sebelumnya, yang mencapai Rp27,10 triliun.

Baca juga:

Penurunan ini diprediksi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban dan preferensi masyarakat yang beralih dari hewan berbobot besar. IDEAS mencatat bahwa jumlah sapi kurban diperkirakan akan turun sekitar 10,17 ribu ekor, sementara kambing dan domba akan berkurang sekitar 3,43 ribu ekor dibandingkan tahun lalu.

Tira menambahkan, perubahan ini merupakan penyesuaian perilaku konsumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang menantang. Masyarakat cenderung memilih hewan kurban dengan harga yang lebih terjangkau, terlihat dari meningkatnya permintaan untuk kambing dan domba dengan bobot lebih kecil.

Baca juga:

Kendati demikian, IDEAS menegaskan bahwa ibadah kurban tetap memegang peranan sosial yang signifikan, terutama dalam memperluas akses terhadap konsumsi protein hewani bagi masyarakat yang kurang mampu. Namun, distribusi daging kurban masih dinilai tidak merata di seluruh Indonesia.

Dari total 514 kabupaten dan kota, terdapat 163 daerah yang mengalami defisit parah dengan tingkat kecukupan distribusi di bawah 20 persen. Sementara itu, surplus daging kurban paling banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan di Jawa, dengan Jakarta Utara mencatat surplus sekitar 3.879,25 ton.

Baca juga:

Di sisi lain, Lampung Timur menjadi salah satu daerah dengan defisit tertinggi, mencapai 473,60 ton, dengan tingkat kecukupan distribusi hanya 3,50 persen. IDEAS menyarankan bahwa strategi kurban nasional ke depan perlu lebih fokus pada tata kelola distribusi agar lebih merata.

Hal ini mencakup pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan fasilitas pemotongan yang terstandar, serta penguatan koordinasi antar lembaga untuk memastikan distribusi daging kurban lebih efektif. Dengan pengelolaan yang lebih baik, potensi ekonomi kurban dapat berperan sebagai instrumen pemerataan pangan sekaligus memperkuat solidaritas sosial di masyarakat.

Baca juga:

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan