Harga TBS Sawit di Bengkulu Utara Turun Tipis: Dampak dan Upaya Stabilisasi
Suara Pecari, Bengkulu Utara – Memasuki awal Juli 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat pabrik di Kabupaten Bengkulu Utara mengalami penurunan tipis sebesar Rp20 per kilogram. Meski penurunan ini tergolong kecil, fluktuasi harga tetap menjadi perhatian serius mengingat mayoritas masyarakat di daerah ini menggantungkan hidup pada komoditas sawit.
Penurunan Harga dan Data Terkini
PLT Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Hardiantoni, mengonfirmasi bahwa berdasarkan data harga TBS tertinggi di tingkat pabrik saat ini mencapai Rp2.920 per kilogram, sedangkan harga terendah Rp2.810 per kilogram. “Untuk harga tandan buah segar kelapa sawit saat ini sedikit turun. Turunnya itu 20 rupiah per kilogram,” ujarnya kepada RRI, Senin (6/7/2026). Penurunan ini terjadi setelah periode stabil sebelumnya, dan menjadi pengingat akan volatilitas pasar sawit.
Berikut adalah daftar harga TBS di sembilan pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Bengkulu Utara per 2 Juli 2026:
| Nama Pabrik | Harga (Rp/kg) |
|---|---|
| PT Berkat Bumi Sawit | 2.860 |
| PT Mitra Puding Mas | 2.830 |
| PT Sandabi Indah Lestari A | 2.920 |
| PT Sandabi Indah Lestari B | 2.860 |
| PT Bumi Anugrah Sawit | 2.810 |
| PT Sandabi Indah Lestari Ketahun | 2.920 |
| PT Agricinal | 2.900 |
| PT Alno Agro Utama | 2.900 |
| PT Sawit Mulia | 2.880 |
Dari data di atas, terlihat bahwa harga antar pabrik bervariasi, dengan selisih mencapai Rp110 per kilogram antara harga tertinggi dan terendah. Variasi ini seringkali dipengaruhi oleh kualitas TBS, jarak tempuh, dan kebijakan masing-masing pabrik.
Penyebab dan Konteks Penurunan
Penurunan harga TBS ini terjadi di tengah dinamika pasar global minyak sawit mentah (CPO). Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit oleh Dinas Perkebunan, fluktuasi harga CPO di pasar internasional kerap menjadi pemicu utama perubahan harga di tingkat petani. Selain itu, faktor musiman seperti peningkatan produksi TBS pada periode tertentu juga dapat menekan harga.
Hardiantoni menegaskan bahwa naik turun harga adalah hal yang biasa karena mengikuti perkembangan pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan sekecil apapun berdampak langsung pada pendapatan petani, terutama bagi mereka yang memiliki lahan sempit dan bergantung sepenuhnya pada sawit.
Dampak bagi Petani dan Upaya Dinas Perkebunan
Penurunan harga Rp20 per kilogram mungkin tampak tidak signifikan, namun bagi petani dengan produksi rata-rata 1 ton per hektare per bulan, penurunan ini berarti kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp20.000 per hektare. Jika dikalikan dengan ribuan hektare lahan sawit di Bengkulu Utara, dampak kumulatifnya cukup besar.
Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara tidak tinggal diam. Mereka mengimbau seluruh pabrik kelapa sawit untuk tetap membeli TBS dari petani sesuai dengan harga penetapan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu. Berdasarkan penetapan harga provinsi, untuk tanaman sawit usia produktif, harganya ditetapkan sebesar Rp3.465 per kilogram. Angka ini jauh di atas harga aktual di pabrik saat ini, yang berkisar Rp2.810–Rp2.920 per kilogram.
“Harga jual tandan buah kelapa sawit memang hanya turun sedikit, tapi itu juga berpengaruh. Makanya kami selalu mengimbau kepada pabrik untuk membeli tandan buah segar kelapa sawit sesuai dengan harga yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi,” kata Hardiantoni. Namun, realisasi di lapangan seringkali berbeda karena harga penetapan merupakan harga acuan yang belum tentu diikuti semua pabrik, terutama jika kondisi pasar tidak mendukung.
Dinas Perkebunan berencana terus memantau perkembangan harga beli di tingkat pabrik dan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan pelaksanaan harga penetapan berjalan baik. “Kita akan terus pantau perkembangan harga beli sawit di tingkat pabrik. Kami juga akan berkoordinasi dengan seluruh pabrik kelapa sawit agar realisasi harga penetapan berjalan dengan baik,” ucapnya.
Implikasi bagi Industri Sawit Bengkulu Utara
Bengkulu Utara merupakan salah satu sentra produksi sawit di Provinsi Bengkulu. Dengan luas lahan perkebunan sawit yang terus bertambah, komoditas ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Penurunan harga TBS, meski tipis, dapat memicu efek domino:
- Penurunan Daya Beli Petani: Pendapatan petani berkurang, yang berimbas pada konsumsi rumah tangga dan sektor usaha kecil di sekitar perkebunan.
- Potensi Alih Fungsi Lahan: Jika harga terus tertekan, petani mungkin beralih ke komoditas lain atau menjual lahannya, mengancam keberlanjutan industri sawit.
- Ketidakstabilan Sosial: Ketidakpuasan petani dapat memicu protes atau tuntutan kepada pemerintah daerah dan pabrik.
Di sisi lain, penurunan harga juga dapat menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas TBS agar tetap kompetitif. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat memperkuat program pendampingan dan akses pasar bagi petani.
Kronologi Singkat Peristiwa
Berikut adalah kronologi terkait penurunan harga TBS di Bengkulu Utara:
- Senin, 6 Juli 2026: PLT Kepala Dinas Perkebunan Hardiantoni mengumumkan penurunan harga TBS sebesar Rp20/kg melalui wawancara dengan RRI.
- Selasa, 7 Juli 2026: Data harga TBS per 2 Juli 2026 dirilis dan mulai beredar di kalangan petani dan pemangku kepentingan.
- Selanjutnya: Dinas Perkebunan akan melakukan monitoring dan koordinasi dengan pabrik-pabrik untuk memastikan kepatuhan terhadap harga penetapan provinsi.
Penutup
Penurunan tipis harga TBS di Bengkulu Utara menjadi pengingat bahwa industri sawit tetap rentan terhadap gejolak pasar. Meski hanya Rp20 per kilogram, dampaknya terasa langsung oleh ribuan petani yang mengandalkan komoditas ini. Dinas Perkebunan telah mengambil langkah proaktif dengan mengimbau pabrik untuk mematuhi harga penetapan, namun efektivitasnya masih perlu dipantau. Ke depan, sinergi antara pemerintah, pabrik, dan petani menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani sawit di Bengkulu Utara.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










