Pemprov Jatim Gandeng Persagi dan Kementerian UMKM Tingkatkan Kualitas MBG
Kolaborasi Strategis untuk Program Makan Bergizi Gratis
Suara Pecari, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil langkah maju dengan menggandeng Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Kementerian UMKM dalam upaya meningkatkan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kolaborasi ini tidak hanya menyasar aspek gizi dan keamanan pangan, tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM dalam rantai pasok. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menegaskan pentingnya peran ahli gizi dalam memastikan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat memenuhi standar kesehatan. “Program besar ini wajib melibatkan ahli gizi. Kami menunggu masukan dari para akademisi, praktisi, dan pakar mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pengelolaan makanan bergizi,” kata Adhy saat Temu Ilmiah Nasional Persagi di Surabaya.
Peran Ahli Gizi dalam MBG
Keterlibatan Persagi diharapkan membawa dampak signifikan pada kualitas gizi makanan yang disediakan. Ahli gizi akan terlibat dalam penyusunan menu, pengawasan proses produksi, hingga evaluasi dampak kesehatan. Langkah ini sejalan dengan standar nasional gizi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Dengan adanya pendampingan dari para profesional, risiko kekurangan gizi atau kelebihan zat tertentu dapat diminimalkan. Selain itu, edukasi mengenai pola makan sehat juga akan diberikan kepada penerima manfaat dan keluarga mereka.
Pemberdayaan UMKM melalui Program Nutripreneur
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Adha Damanik, mengapresiasi pelaksanaan MBG di Jawa Timur yang dinilai berhasil melibatkan berbagai sektor. “Saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas upaya luar biasa sehingga Program Makan Bergizi Gratis berjalan baik, termasuk dalam pelibatan UMKM pada rantai pasoknya,” ujarnya. Program MBG telah menggerakkan sektor pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, perdagangan pasar, hingga UMKM. Untuk memperkuat peran UMKM, Kementerian UMKM meluncurkan tiga langkah utama menciptakan Nutripreneur sebagai penopang usaha kecil yang terlibat dalam MBG.
- Penguatan Program Inkubator: Pelatihan, pendampingan, dan perluasan akses usaha untuk melahirkan wirausaha unggulan di bidang pangan bergizi.
- Pendataan Pelaku UMKM: Melalui platform SAPA UMKM, pemerintah memetakan pelaku usaha dan membuka akses layanan yang lebih inklusif.
- Perluasan Jejaring Inkubator: Kolaborasi dengan perguruan tinggi, politeknik kesehatan, dan institusi pendidikan yang fokus pada gizi dan kesehatan masyarakat.
Dampak Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan dampak ganda. Di satu sisi, generasi muda penerima MBG mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, sehingga mendukung pertumbuhan fisik dan kognitif. Di sisi lain, UMKM yang terlibat mendapatkan kesempatan untuk berkembang, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan. Menurut data Kementerian UMKM, keterlibatan UMKM dalam MBG di Jawa Timur telah melibatkan lebih dari 5.000 pelaku usaha mikro dan kecil. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perluasan program.
| Sektor | Jumlah Pelaku UMKM Terlibat | Jenis Kontribusi |
|---|---|---|
| Pertanian | 1.200 | Pemasok sayur dan buah |
| Peternakan | 800 | Pemasok telur dan daging |
| Perikanan | 600 | Pemasok ikan segar |
| Kuliner | 2.400 | Penyedia makanan jadi |
Kronologi dan Langkah Selanjutnya
Program MBG di Jawa Timur dimulai pada awal tahun 2025 dan terus mengalami evaluasi. Pada Juni 2026, dilakukan Temu Ilmiah Nasional Persagi yang menjadi momentum penguatan kolaborasi. Pemerintah provinsi bersama Persagi dan Kementerian UMKM kemudian merumuskan langkah-langkah konkret, termasuk pembentukan tim ahli gizi di setiap kabupaten/kota serta pengembangan platform digital untuk memantau kualitas makanan. Selanjutnya, pada Juli 2026, dijadwalkan pelatihan massal bagi UMKM mitra MBG tentang keamanan pangan dan gizi.
Implikasi bagi Masa Depan
Kolaborasi ini menjadi model bagi daerah lain dalam mengintegrasikan program gizi dengan pemberdayaan ekonomi. Jika berhasil, MBG tidak hanya menjadi program bantuan sosial, tetapi juga investasi jangka panjang dalam sumber daya manusia dan ekonomi lokal. Tantangan ke depan termasuk memastikan konsistensi kualitas di seluruh rantai pasok, serta mengedukasi masyarakat agar meneruskan pola makan sehat di rumah. Namun, dengan dukungan para ahli dan komitmen pemerintah, optimisme terhadap masa depan MBG di Jawa Timur semakin kuat.
Di tengah upaya pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan peningkatan kualitas hidup, langkah Pemprov Jatim menggandeng Persagi dan Kementerian UMKM adalah sinyal positif. Program MBG yang berkualitas akan melahirkan generasi sehat dan cerdas, sementara UMKM yang kuat akan menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Inilah sinergi yang patut dicontoh dan dikembangkan lebih luas.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










