Penguatan Perempuan dan UMKM: Kunci Penggerak Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan

Penguatan Perempuan dan UMKM: Kunci Penggerak Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan

Perempuan dan UMKM: Pilar Ekonomi Daerah yang Terlupakan

Suara Pecari, Medan – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan, Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana Bursah menekankan pentingnya penguatan kapasitas perempuan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak bisa hanya bertumpu pada investasi infrastruktur atau modal asing. Justru, sumber daya manusia – khususnya perempuan – memiliki peran strategis karena bersentuhan langsung dengan keluarga dan masyarakat. “Ketika kapasitas perempuan meningkat, dampaknya akan menjalar pada produktivitas keluarga hingga penguatan ekonomi daerah,” ujar Sri Meliyana dalam acara Women Program bertema ‘Penguatan Peran Perempuan dalam Meningkatkan Daya Saing Daerah’ yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu, 5 Juli 2026.

Pernyataan ini muncul di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks. Banyak daerah di Indonesia masih bergantung pada sektor ekstraktif atau bantuan pusat. Padahal, potensi ekonomi kerakyatan – terutama UMKM yang mayoritas dikelola perempuan – belum tergarap optimal. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja. Namun, kontribusi perempuan dalam UMKM masih sering terabaikan. Padahal, menurut studi International Finance Corporation (IFC), usaha yang dimiliki perempuan cenderung lebih stabil dan memiliki tingkat pengembalian pinjaman yang lebih tinggi.

Peningkatan Kapasitas: Lebih dari Sekadar Pelatihan

Sri Meliyana, yang juga menjabat Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lahat, menggarisbawahi bahwa pemberdayaan perempuan harus diarahkan pada peningkatan keterampilan, pengetahuan, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi. “Ekonomi yang kuat membutuhkan manusia yang sehat dan produktif. Karena itu, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan sumber daya manusia,” tegasnya. Integrasi antara kesehatan dan ekonomi ini menjadi kunci. Seorang ibu yang sehat secara fisik dan mental akan lebih mampu mengelola usaha, mendidik anak, dan berkontribusi pada komunitas.

Dalam praktiknya, peningkatan kapasitas tidak hanya berarti pelatihan menjahit atau memasak. Perempuan perlu dibekali literasi digital, akses ke platform e-commerce, dan pemahaman tentang manajemen keuangan. Contoh sukses terlihat dari program ‘Perempuan Berdaya’ di Kabupaten Deli Serdang yang melatih ibu-ibu pembatik untuk memasarkan produk melalui marketplace. Hasilnya, pendapatan peserta meningkat rata-rata 40% dalam enam bulan. Ketua TP PKK Kabupaten Deli Serdang, Jelita Siregar, menambahkan, “Keberhasilan pembangunan daerah tidak terlepas dari keterlibatan aktif kaum perempuan. Penguatan kapasitas ini perlu didukung melalui strategi bersama antardaerah.” Kolaborasi antarpemerintah daerah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi menjadi prasyarat agar program pemberdayaan berkelanjutan.

UMKM Perempuan: Kekuatan Lokal yang Mendunia

Pada kesempatan yang sama, pendiri Langgam Batik, Rafika Johani, berbagi pengalaman. Menurutnya, UMKM yang dikelola perempuan memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi daerah, asalkan mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar. “Batik bukan hanya kain, tapi identitas budaya. Ketika perempuan pengrajin batik bisa mengikuti tren dan memanfaatkan digital marketing, produk mereka bisa tembus pasar global,” ujarnya. Langgam Batik sendiri telah berhasil mengekspor produk ke Malaysia dan Jepang dengan omzet tahunan mencapai Rp5 miliar. Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan desain dan pemasaran yang diberikan oleh perguruan tinggi setempat.

AspekSebelum PemberdayaanSetelah Pemberdayaan
Pendapatan Rata-rataRp 1,5 juta/bulanRp 2,5 juta/bulan
Akses Teknologi20%75%
Jangkauan PasarLokalNasional & Ekspor

Selain itu, akses pembiayaan tetap menjadi tantangan. Direktur Commercial Banking Bank Tabungan Negara (BTN), Hermita, menegaskan bahwa peluang pembiayaan bagi UMKM dengan prospek usaha yang baik tetap terbuka. Namun, pelaku usaha perlu terus meningkatkan kualitas pengelolaan bisnis serta memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi untuk memanfaatkan hasil riset dan inovasi teknologi. “Kami tidak hanya memberikan kredit, tapi juga pendampingan agar bisnisnya naik kelas,” kata Hermita. BTN, misalnya, memiliki program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga rendah yang khusus ditujukan untuk perempuan pengusaha.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah

Penguatan perempuan dan UMKM membawa dampak berantai. Pertama, secara ekonomi, meningkatnya pendapatan keluarga akan mendorong konsumsi lokal dan memperkuat pasar domestik. Kedua, secara sosial, perempuan yang berdaya cenderung lebih aktif dalam pengambilan keputusan keluarga dan komunitas, sehingga kesetaraan gender semakin terwujud. Ketiga, bagi pemerintah daerah, keberhasilan program pemberdayaan akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan mengurangi angka kemiskinan. Sri Meliyana menekankan, “Jika perempuan semakin sehat, berpengetahuan, produktif, dan memiliki akses terhadap kegiatan ekonomi, maka keluarga akan semakin kuat. Dari keluarga yang kuat itulah ekonomi daerah dapat tumbuh lebih berkelanjutan.”

Namun, tantangan masih ada. Rendahnya partisipasi perempuan dalam sektor formal, kesenjangan akses teknologi, dan norma budaya yang membatasi peran perempuan di beberapa daerah perlu diatasi. Pemerintah harus memastikan bahwa program pemberdayaan tidak hanya bersifat seremonial. Perlu ada monitoring dan evaluasi yang ketat, serta insentif bagi daerah yang berhasil mengimplementasikan program secara nyata. Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga penting untuk menghasilkan riset terapan yang sesuai kebutuhan UMKM lokal.

Penutup: Dari Keluarga Kuat Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur megah, seringkali kita lupa bahwa fondasi ekonomi sejati ada pada unit terkecil masyarakat: keluarga. Penguatan perempuan dan UMKM bukan sekadar program populis, melainkan investasi jangka panjang yang hasilnya akan dinikmati generasi mendatang. Seperti yang disampaikan Sri Meliyana, ekonomi yang kuat membutuhkan manusia yang sehat dan produktif. Maka, sudah saatnya pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memberikan perhatian serius pada pemberdayaan perempuan dan UMKM. Dengan begitu, ekonomi daerah tidak hanya tumbuh, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan – dari keluarga kuat, untuk Indonesia maju.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *