HUT Ke-77 Desa Sumbertangkil, Wabup Malang Tegaskan Budaya Jadi Pilar Pembangunan
Suara Pecari, Malang – Kekuatan tradisi, kelestarian budaya, serta solidnya kepedulian sosial menjadi fondasi utama dalam membawa masyarakat ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati (Wabup) Malang saat menghadiri pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-77 Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Sabtu (5/7/2026) malam. Bertempat di lapangan olahraga desa setempat, kehadiran orang nomor dua di Pemkab Malang ini disambut antusias oleh warga yang memadati lokasi acara.
Wayang Kulit: Media Refleksi Spiritual dan Kebersamaan
Pagelaran wayang kulit yang digelar bukan sekadar hiburan rakyat. Dalam sambutannya, Wabup Malang menggarisbawahi bahwa ritual Bersih Desa bukan sekadar rutinitas adat tahunan yang diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari itu, momentum ini merupakan ruang refleksi spiritual untuk memperkuat rasa syukur kepada sang pencipta. “Tradisi bersih desa juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan, memperkokoh semangat gotong royong, sekaligus mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah desa tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kekuatan budaya, kebersamaan, dan kepedulian sosial,” tutur Wakil Bupati Malang.
Wayang kulit sendiri dipilih sebagai medium karena sarat akan nilai filosofis. Cerita yang diangkat kerap mengandung pesan moral tentang kepemimpinan, keadilan, dan harmoni sosial. Dalam konteks Desa Sumbertangkil, pagelaran ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga, memperkuat ikatan komunal yang telah terjalin puluhan tahun.
Budaya sebagai Modal Sosial Pembangunan
Apresiasi tinggi juga diberikan kepada seluruh warga Desa Sumbertangkil yang dinilai sukses merawat warisan leluhur di tengah arus modernisasi. Pemkab Malang meyakini, keharmonisan dan rasa gotong royong yang lahir dari rahim budaya adalah modal sosial yang tak ternilai harganya. “Pemerintah Kabupaten Malang meyakini bahwa budaya merupakan modal sosial yang sangat penting dalam pembangunan. Ketika masyarakat hidup rukun, saling membantu, dan mempunyai rasa memiliki terhadap desanya, maka pembangunan akan berjalan lebih baik,” jelas Wakil Bupati Malang.
Pernyataan ini sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Di banyak daerah, kegagalan pembangunan seringkali disebabkan oleh lemahnya kohesi sosial. Desa Sumbertangkil menjadi contoh bagaimana tradisi dapat menjadi perekat yang memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Tabel: Perbandingan Indikator Pembangunan Desa dengan dan tanpa Modal Budaya Kuat
| Indikator | Desa dengan Modal Budaya Kuat | Desa dengan Modal Budaya Lemah |
|---|---|---|
| Tingkat Partisipasi Masyarakat | Tinggi (80-90%) | Rendah (30-40%) |
| Konflik Sosial | Jarang | Sering |
| Keberhasilan Program Pemerintah | Mudah diimplementasikan | Sering terhambat |
| Tingkat Kesejahteraan (rata-rata) | Meningkat signifikan | Stagnan |
Menjaga Alam dan Mengelola Potensi Lokal
Menutup arahannya, Wabup Malang mengingatkan masyarakat untuk terus menjaga kelestarian alam serta bijak dalam mengelola potensi bumi Tirtoyudo yang melimpah. Sebagai bentuk timbal balik, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menyokong stimulus ekonomi di tingkat desa. “Pemerintah Kabupaten Malang akan terus hadir mendukung pembangunan desa melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, UMKM dan Pariwisata Desa,” pungkas Wakil Bupati Malang.
Desa Sumbertangkil sendiri memiliki potensi alam yang besar, mulai dari pertanian, perkebunan, hingga wisata alam. Dengan menjaga kelestarian lingkungan, desa ini dapat mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan. Beberapa program yang sudah berjalan antara lain:
- Pengembangan desa wisata berbasis budaya dan alam.
- Pelatihan UMKM bagi ibu-ibu PKK untuk mengolah hasil bumi menjadi produk bernilai tambah.
- Program bank sampah untuk mengurangi limbah dan meningkatkan kesadaran lingkungan.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Pernyataan Wabup Malang ini membawa dampak positif bagi masyarakat Desa Sumbertangkil. Pertama, pengakuan terhadap peran budaya dapat meningkatkan rasa bangga dan memiliki warga terhadap tradisi mereka. Kedua, komitmen pemerintah untuk mendukung ekonomi lokal melalui UMKM dan pariwisata desa diharapkan mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Ketiga, penekanan pada gotong royong dapat memperkuat solidaritas sosial, yang pada gilirannya memudahkan pelaksanaan program-program pembangunan.
Bagi pemerintah daerah, pesan ini menjadi pedoman dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan menjadikan budaya sebagai pilar, pembangunan tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada penguatan karakter dan identitas masyarakat.
Penutup Naratif
Di bawah gemerlap lampu panggung wayang, ribuan warga Desa Sumbertangkil larut dalam kisah yang dibawakan dalang. Namun, lebih dari sekadar tontonan, malam itu menjadi penegasan bahwa masa depan desa tidak bisa dilepaskan dari akar budayanya. Pesan Wabup Malang menggema: kemajuan sejati lahir dari harmoni antara tradisi dan modernitas, antara gotong royong dan inovasi. Desa Sumbertangkil, dengan usianya yang ke-77, telah membuktikan bahwa budaya bukanlah penghalang pembangunan, melainkan fondasi yang kokoh untuk melangkah maju. Kini, tantangannya adalah menjaga api semangat itu tetap menyala di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










