Menilik Tugu Sejarah di Depan RRI Surabaya: Saksi Bisu Pertempuran Berdarah 1945

Menilik Tugu Sejarah di Depan RRI Surabaya: Saksi Bisu Pertempuran Berdarah 1945

Suara Pecari | Di tengah hiruk-pikuk Jalan Pemuda Surabaya, sebuah tugu marmer kecil berdiri kokoh di depan gedung RRI Surabaya. Sering terlewat oleh para pengguna jalan yang sibuk, monumen ini menyimpan kisah kelam sekaligus heroik dari masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Bukan sekadar hiasan, tugu ini adalah saksi bisu pertempuran sengit yang menjadi cikal bakal peristiwa 10 November 1945.

Lokasi Strategis yang Diperebutkan

Gedung yang kini menjadi markas Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya dulunya bernama Gedung Radio Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini berfungsi sebagai pusat komunikasi dan propaganda. Setelah proklamasi kemerdekaan, gedung tersebut dikuasai oleh para pemuda dan pejuang Indonesia. Namun, ketika pasukan Sekutu di bawah komando Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945, gedung ini menjadi salah satu sasaran utama mereka. Pasukan Inggris menduduki gedung tersebut pada 28 Oktober 1945, dengan dalih melucuti senjata tentara Jepang. Tindakan ini memicu kemarahan arek-arek Suroboyo dan para pejuang yang tidak rela pusat komunikasi dikuasai asing.

Kronologi Pertempuran 28-30 Oktober 1945

Tanggal Peristiwa
28 Oktober 1945 Pasukan Inggris menduduki Gedung Radio Surabaya. Rakyat dan pejuang mulai mengepung gedung.
29 Oktober 1945 Pertempuran sengit terjadi. Gedung dibakar habis oleh rakyat. Tidak ada pasukan Inggris yang selamat.
30 Oktober 1945 Genjatan senjata disepakati, namun ketegangan terus meningkat hingga puncaknya pada 10 November 1945.

Prasasti pada tugu mencatat momen krusial tersebut: “Karena fungsinya yang penting maka Gedung Radio Surabaya ini diduduki oleh pasukan Jenderal Mallaby, pada pertempuran 28-30 Oktober 1945 banyak korban rakyat jatuh, tanggal 29 Oktober 1945 gedung dibakar habis dan tidak seorangpun pasukan Inggris disini lolos dari kemarahan rakyat.” Versi bahasa Inggrisnya menambahkan: “…The building was totally burned down with untold casualties among the Indonesian people and none of Mallabys forces was kept alive.”

Dampak dan Implikasi Pertempuran

Pertempuran di Gedung Radio Surabaya bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian konflik yang memuncak pada Pertempuran 10 November 1945. Beberapa dampak penting dari peristiwa ini antara lain:

  • Korban Jiwa: Ratusan rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran ini, sementara seluruh pasukan Inggris di gedung tersebut tewas.
  • Pemicu Perlawanan: Keberhasilan rakyat membumihanguskan gedung menjadi simbol perlawanan dan membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk terus berjuang.
  • Perubahan Strategi Inggris: Kematian pasukan Mallaby membuat Inggris mengerahkan pasukan besar-besaran, yang berujung pada ultimatum 10 November 1945.
  • Warisan Sejarah: Monumen ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan fasilitas penyiaran saat ini dibayar dengan harga mahal.

Transformasi Gedung Radio Surabaya Menjadi RRI

Setelah peristiwa 1945, gedung yang hancur dibangun kembali dan diresmikan sebagai studio RRI Surabaya pada tahun 1950-an. Kini, gedung tersebut tampil modern dengan dinding kaca biru yang mencerminkan kemajuan kota metropolitan. Kontras antara masa lalu yang kelam dan masa kini yang gemilang menjadi pelajaran berharga. Tugu peringatan di depannya menjadi jembatan antara dua zaman, mengajak setiap orang yang melintas untuk merenung sejenak.

Makna Tugu bagi Generasi Muda

Di era digital yang serba cepat, monumen semacam ini kerap dianggap usang. Namun, justru di sinilah letak pentingnya. Tugu tersebut mengajarkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan dan pengorbanan. Bagi generasi muda yang akrab dengan media sosial, tugu ini bisa menjadi pengingat untuk tidak melupakan sejarah. Seperti kata Bung Karno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” (Jasmerah).

Penutup Naratif

Ketika malam tiba dan lampu-lampu kota Surabaya mulai menyala, tugu di depan RRI itu tetap berdiri tenang. Ia tidak berbicara, namun prasastinya berteriak lantang: jangan lupakan kami yang telah gugur. Bagi Anda yang melintas di Jalan Pemuda, luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan meresapi. Sebab, di balik batu marmer itu tersimpan nyawa dan semangat yang tak pernah padam.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan