Meski Tren Berubah, Usaha Ikan Hias di Palembang Tetap Bertahan
Suara Pecari, Palembang – Di tengah gempuran tren hobi baru seperti game online, konten media sosial, dan koleksi barang digital, usaha ikan hias di Kota Palembang membuktikan diri sebagai sektor yang tangguh. Meski penjualan tidak seramai beberapa tahun lalu, para pelaku usaha tetap optimis dan terus berinovasi untuk mempertahankan eksistensi bisnis mereka. Salah satu contoh nyata adalah Mita, seorang pedagang ikan hias di kawasan Boom Baru, yang telah menjalani usaha ini selama tujuh tahun.
Perjalanan Usaha Mita: Dari Hobi Menjadi Mata Pencaharian
Berawal dari hobi memelihara ikan hias, Mita memutuskan untuk menekuni usaha ini secara serius. Kini, lapak kecilnya di Boom Baru menjadi sumber pendapatan utama keluarga. “Saya mulai dari hobi, lalu melihat peluang. Meski persaingan ada, saya yakin karena peminat ikan hias masih banyak,” ujar Mita saat ditemui, Minggu (5/7/2026). Berbagai jenis ikan hias tersedia di lapaknya, mulai dari ikan cupang, ikan koki, hingga glofish yang populer di kalangan anak muda.
Jenis Ikan Hias Paling Diminati
Dari sekian banyak jenis, ikan cupang menjadi primadona. Harganya pun terjangkau, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp25.000 per ekor. “Harga ikan sekarang masih stabil. Tidak naik, tapi juga tidak turun. Ini bagus untuk pembeli dan penjual,” tambah Mita. Selain cupang, ikan koki dan glofish juga laris, terutama di kalangan keluarga yang ingin mempercantik akuarium rumah.
| Jenis Ikan | Harga per Ekor | Tingkat Permintaan |
|---|---|---|
| Ikan Cupang | Rp10.000 – Rp25.000 | Tinggi |
| Ikan Koki | Rp15.000 – Rp50.000 | Sedang |
| Glofish | Rp20.000 – Rp40.000 | Sedang |
Proses Karantina: Kunci Kualitas Ikan
Sebelum dijual, semua ikan di lapak Mita menjalani proses karantina menggunakan air daun ketapang. Metode ini dikenal efektif untuk menjaga kesehatan ikan dan mengurangi stres selama transportasi. “Air daun ketapang mengandung tanin yang bisa menyembuhkan luka dan mencegah infeksi. Saya karantina minimal tiga hari sebelum dijual,” jelas Mita. Praktik ini menjadi nilai tambah bagi pelanggan yang mengutamakan kualitas.
Penurunan Penjualan: Tantangan dan Peluang
Mita mengakui bahwa penjualan saat ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, ia menilai hal ini wajar mengingat banyaknya alternatif hiburan baru. “Kalau dibanding tahun lalu, memang agak menurun. Tapi peminat ikan hias masih tetap ada. Anak-anak dan orang dewasa masih suka,” katanya. Untuk mengatasi penurunan, Mita berencana menambah variasi jenis ikan, seperti ikan arwana mini dan ikan mas koki oranda yang sedang tren.
Dampak Perubahan Tren terhadap UMKM Ikan Hias
Perubahan tren hobi tidak hanya dialami Mita, tetapi juga pelaku UMKM ikan hias lainnya di Palembang. Beberapa pedagang di Pasar 16 Ilir dan Pasar Kuto mengaku omzet mereka turun sekitar 20-30% dalam dua tahun terakhir. Namun, mereka tetap optimis karena pasar ikan hias masih memiliki basis pelanggan setia, terutama dari kalangan penghobi dan kolektor.
- Faktor pendukung: Harga ikan yang relatif stabil, biaya perawatan rendah, dan nilai estetika yang tinggi.
- Tantangan: Persaingan dengan hobi digital, kurangnya promosi, dan keterbatasan modal untuk ekspansi.
Harapan Pelaku UMKM: Dukungan Pemerintah
Mita berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku UMKM ikan hias. “Kami butuh pelatihan, bantuan modal, atau mungkin pameran untuk memperkenalkan produk kami. Jangan sampai usaha kecil seperti kami mati karena tidak ada dukungan,” ujarnya. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu UMKM bertahan dan bahkan berkembang di tengah perubahan tren.
Implikasi bagi Industri Ikan Hias Lokal
Keberlangsungan usaha ikan hias di Palembang memiliki dampak positif bagi ekonomi lokal. Selain menyerap tenaga kerja, usaha ini juga mendorong pertumbuhan usaha terkait seperti pakan ikan, akuarium, dan aksesoris. Jika pemerintah serius mendukung, bukan tidak mungkin Palembang bisa menjadi pusat ikan hias di Sumatera Selatan.
Penutup: Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Di balik penurunan penjualan, semangat para pedagang ikan hias di Palembang tidak pernah padam. Mereka terus berinovasi, menjaga kualitas, dan beradaptasi dengan permintaan pasar. Mita dan rekan-rekannya adalah contoh nyata bahwa usaha tradisional bisa bertahan jika dikelola dengan hati dan strategi yang tepat. Dengan dukungan semua pihak, industri ikan hias di Palembang diyakini akan terus berkilau, meski tren datang dan pergi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










