Harga Sawit Turun: Pengamat Ungkap Masalah Rantai Produksi LPP RRI, Petani Terjepit

Harga Sawit Turun: Pengamat Ungkap Masalah Rantai Produksi LPP RRI, Petani Terjepit

Suara Pecari | Jakarta – Fenomena penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani menjadi sorotan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Kondisi ini tidak sejalan dengan teori ekonomi yang seharusnya menguntungkan sektor ekspor. Harga Sawit Turun Pengamat Ungkap Masalah Rantai Produksi LPP RRI menjadi topik hangat yang mengungkap ketimpangan dalam rantai industri sawit nasional.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, Rumayya, PhD, dalam wawancara dengan PRO3 RRI, Selasa (9/6/2026), menjelaskan bahwa penurunan harga terjadi di level petani, sementara harga crude palm oil (CPO) di pasar global relatif stabil. “Jadi di level petani itu yang harganya turun, padahal penerimaannya seharusnya meningkat. Penerimaan dari penjualan CPO-nya, nah ini memang masalah rantai produksi ya,” ujarnya.

Selain itu, terdapat indikasi penahanan margin keuntungan di tingkat tengah akibat ketidakpastian kebijakan pemerintah. Pelaku industri disebut mengambil langkah menunggu sambil menahan distribusi keuntungan ke petani. “Ini sepertinya ada penahanan, penahanan margin di level di tengah ini. Nah itu perlu diinvestigasi, tapi salah satu indikasinya adalah karena adanya perubahan-perubahan kebijakan,” kata Rumayya. Harga Sawit Turun Pengamat Ungkap Masalah Rantai Produksi LPP RRI juga menyoroti faktor global seperti minyak nabati lain yang tidak terlalu memengaruhi harga sawit secara signifikan. Sawit tetap menjadi komoditas dengan harga paling kompetitif di pasar internasional.

Namun, keuntungan dari selisih kurs lebih banyak dinikmati oleh eksportir dibandingkan petani di tingkat bawah. Kondisi ini menunjukkan distribusi margin belum merata dalam rantai industri kelapa sawit nasional. Ia menambahkan petani sering tidak memiliki kontrak resmi dengan pabrik sehingga posisi mereka semakin lemah. Pemerintah perlu mendorong kemitraan agar harga lebih transparan dan adil bagi petani.

Penurunan harga sawit ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Tanpa intervensi yang tepat, ketimpangan dalam rantai produksi akan terus berlanjut. Pemerintah diharapkan segera menginvestigasi praktik penahanan margin dan mendorong kemitraan yang lebih adil antara petani dan pabrik. Dengan demikian, petani dapat menikmati keuntungan yang lebih layak dari komoditas yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan