Industri Kelapa Sawit Pangkalan Bun Sumbang Rp 1,7 Triliun ke Negara hingga Juli 2026

Industri Kelapa Sawit Pangkalan Bun Sumbang Rp 1,7 Triliun ke Negara hingga Juli 2026

Suara Pecari, Pangkalan Bun – Industri kelapa sawit di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara. Hingga Juli 2026, sektor ini tercatat menyumbang Rp 1,7 triliun melalui berbagai pungutan, termasuk bea keluar dan dana sawit.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Selatan, Muhtadi, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi dari ekspor produk sawit dan turunannya serta pungutan dana sawit. “Ekspor sawit sekitar Rp 882 miliar untuk tahun 2026 ini, sementara penerimaan dari dana sawit mencapai Rp 860 miliar. Totalnya hampir Rp 1,7 triliun lebih,” jelas Muhtadi saat ditemui di kawasan berikat PT Citra Borneo Utama, Kamis (30/7/2026).

Kontribusi Terbesar di Kalimantan Bagian Selatan

Muhtadi menambahkan bahwa Pangkalan Bun menjadi penyumbang terbesar dari sisi penerimaan ekspor di wilayah Kalimantan Bagian Selatan. Rata-rata ekspor produk sawit dari daerah ini ditujukan ke India. Kontribusi tersebut mencerminkan peran vital industri kelapa sawit dalam perekonomian daerah dan nasional.

Tantangan Logistik dan Pengawasan

Meskipun memberikan kontribusi besar, aktivitas ekspor sawit dari Pangkalan Bun menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah metode ekspor Ship to Ship (STS) dari kapal tongkang ke mother ship. Jarak tempuh sekitar 40 mil laut memakan waktu hingga 12 jam, yang secara otomatis meningkatkan biaya logistik. “Itu jaraknya cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Otomatis biaya logistik pasti naik,” ujar Muhtadi.

Selain itu, ketersediaan kontainer yang layak juga menjadi kendala dalam ekspor menggunakan kontainer. Muhtadi juga tidak menutup kemungkinan masih adanya praktik penyelundupan dalam kegiatan ekspor. Namun, ia menegaskan komitmen Bea Cukai untuk terus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan aparat penegak hukum. “Kami bersinergi dengan Kepolisian, TNI, dan Kejaksaan untuk melakukan pengawasan,” pungkasnya.

Dengan kontribusi yang besar dan tantangan yang ada, industri kelapa sawit Pangkalan Bun tetap menjadi sektor andalan yang perlu didukung melalui kebijakan yang tepat dan pengawasan yang ketat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *