Harga Telur Anjlok, Peternak di Pandeglang Terancam Gulung Tikar

Harga Telur Anjlok, Peternak di Pandeglang Terancam Gulung Tikar

Suara Pecari | PANDEGLANG – Anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak membuat para peternak di Kabupaten Pandeglang, Banten, menjerit. Pendapatan dari penjualan telur kini tak lagi mampu menutup biaya operasional harian, sehingga banyak peternak terancam gulung tikar jika kondisi ini terus berlanjut.

Kronologi Penurunan Harga

Menurut Nuraeni, peternak ayam petelur asal Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, harga telur di tingkat peternak sebelumnya berada di angka Rp25.000 per kilogram. Namun dalam tiga pekan terakhir, harga merosot tajam menjadi sekitar Rp20.000 per kilogram. Penurunan sebesar Rp5.000 per kilogram ini terjadi secara bertahap, dimulai dari pekan ketiga Juni 2026.

“Setiap hari kami produksi, tapi bukannya untung malah nombok. Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin banyak peternak gulung tikar,” ujar Nuraeni saat ditemui di kandangnya, Kamis (2/7/2026).

Penyebab Anjloknya Harga

Nuraeni menjelaskan, turunnya harga telur dipicu oleh melimpahnya pasokan di pasar, sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Selain itu, penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut menekan permintaan telur di pasaran. “Sudah tiga pekan terakhir harga terus merosot. Selain stok melimpah, penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis juga ikut bikin harga turun,” ungkapnya.

Di sisi lain, harga pakan masih tinggi dan menjadi beban terbesar bagi peternak. Saat ini, harga pakan mencapai Rp380.000 per sak (50 kg), sementara harga jagung sebagai bahan baku pakan berada di level Rp7.500 per kilogram. Dengan harga jual telur yang hanya Rp20.000 per kilogram, peternak mengaku merugi besar.

Dampak bagi Peternak

Kondisi ini membuat banyak peternak khawatir usahanya tidak mampu bertahan. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Kabupaten Pandeglang, terdapat sekitar 1.200 peternak ayam petelur di wilayah tersebut. Sebagian besar adalah peternak skala kecil dengan kepemilikan 500–2.000 ekor ayam. Jika harga terus berada di level rendah, diperkirakan 30% peternak bisa bangkrut dalam tiga bulan ke depan.

Nuraeni sendiri memiliki 1.500 ekor ayam petelur. Setiap hari, ia memproduksi rata-rata 1.200 butir telur (sekitar 60 kg). Dengan selisih harga Rp5.000 per kg, ia kehilangan potensi pendapatan Rp300.000 per hari, atau sekitar Rp9 juta per bulan. “Uang itu seharusnya buat beli pakan dan bayar listrik, sekarang malah harus ambil tabungan,” keluhnya.

Perbandingan Harga dan Biaya Produksi

Komponen Harga per Unit Keterangan
Harga jual telur (peternak) Rp20.000/kg Turun dari Rp25.000/kg
Harga pakan (per sak 50 kg) Rp380.000 Biaya terbesar
Harga jagung (bahan baku pakan) Rp7.500/kg Masih tinggi
Biaya produksi per kg telur Rp22.000–Rp24.000 Estimasi
Kerugian per kg Rp2.000–Rp4.000 Bergantung skala usaha

Dampak Lebih Luas

Anjloknya harga telur tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi juga pada pekerja di sektor peternakan dan pedagang eceran. Banyak peternak yang terpaksa mengurangi jumlah karyawan atau bahkan menutup usahanya. Di pasar tradisional, harga telur juga ikut turun, namun pedagang tetap menjual dengan margin tipis karena permintaan lesu.

Dari sisi konsumen, penurunan harga telur seharusnya menguntungkan. Namun, jika peternak banyak yang gulung tikar, pasokan telur di masa depan bisa terganggu dan harga berpotensi melonjak tajam. Hal ini akan merugikan masyarakat luas, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang bergantung pada telur sebagai bahan baku.

Harapan Peternak

Nuraeni berharap pemerintah segera turun tangan untuk menjaga stabilitas harga telur sekaligus mengendalikan harga bahan baku pakan. “Harapannya harga telur bisa balik ke standar nasional sekitar Rp25.000 per kilogram, supaya kami enggak terus merugi dan usaha tetap jalan,” tutupnya.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan pemerintah antara lain: mengoptimalkan serapan telur melalui program bantuan pangan, menekan harga pakan dengan kebijakan impor jagung, dan memberikan subsidi langsung kepada peternak kecil. Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis yang sempat dihentikan sebaiknya segera dilanjutkan untuk menyerap kelebihan pasokan.

Di tengah tekanan ini, solidaritas antar peternak juga mulai terbangun. Beberapa kelompok peternak di Pandeglang berencana membentuk koperasi untuk membeli pakan secara grosir dan memasarkan telur bersama. Namun, upaya ini membutuhkan modal dan pendampingan dari pemerintah daerah.

Harga telur yang anjlok menjadi alarm bagi sektor peternakan di Indonesia. Tanpa intervensi yang tepat, bukan hanya peternak di Pandeglang yang akan merasakan dampaknya, melainkan seluruh rantai pasok telur nasional. Sudah saatnya pemerintah bergerak cepat sebelum kerugian semakin membengkak dan usaha peternakan rakyat runtuh.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan