Latihan BEC 2026 Dongkrak Penjualan Pedagang Camilan Srono

Latihan BEC 2026 Dongkrak Penjualan Pedagang Camilan Srono

Suara Pecari, Banyuwangi – Gelaran latihan massal Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 yang digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rejoagung, Kecamatan Srono, tidak hanya menyajikan atraksi budaya yang memukau, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat. Ramainya peserta dan warga yang menyaksikan latihan membuat penjualan pedagang camilan di sekitar lokasi meroket. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa event budaya berskala besar mampu menjadi motor penggerak perekonomian lokal.

Dampak Ekonomi Langsung bagi Pedagang Kaki Lima

Kehadiran ratusan peserta latihan BEC 2026 yang didampingi oleh ribuan penonton dari berbagai desa di Kecamatan Srono dan sekitarnya menciptakan lonjakan permintaan terhadap makanan dan minuman ringan. Para pedagang kaki lima yang biasanya berjualan di kawasan sekolah dan ruang terbuka hijau, seperti Santoso (55), warga Desa Rejoagung, merasakan langsung dampak positif ini. “Saya sangat bersyukur dengan adanya kegiatan latihan di sini. Dagangan saya yang terjual sangat lumayan,” ujar Santoso saat ditemui di lokasi latihan, Minggu (12/7/2026).

Santoso yang telah berjualan camilan selama sekitar 20 tahun mengaku bahwa selama latihan BEC berlangsung, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan dagangannya. “Biasanya saya berjualan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Hari ini belum lama berjualan, dagangan sudah habis,” tambahnya. Lonjakan penjualan ini tidak hanya dialami oleh Santoso, tetapi juga oleh puluhan pedagang lain yang memanfaatkan momen latihan BEC. Berdasarkan pantauan di lapangan, omzet pedagang camilan meningkat hingga 300% dibandingkan hari biasa.

Daftar Camilan Favorit Pengunjung

  • Pisang goreng dan ubi goreng (paling laris)
  • Es campur dan es buah (melepas dahaga)
  • Siomay dan batagor (camilan gurih)
  • Kue tradisional seperti klepon dan cenil
  • Minuman kemasan dan air mineral

Jadwal dan Rangkaian Latihan BEC 2026

TanggalKegiatanLokasi
12 Juli 2026Latihan massal koreografiRTH Rejoagung, Srono
13-17 Juli 2026Gladi bersih dan persiapan akhirLokasi berbeda
18 Juli 2026Puncak BEC 2026Jalan Protokol Banyuwangi

Mengangkat Sejarah Blambangan, Menggerakkan Ekonomi Rakyat

BEC 2026 mengusung tema “Perang Bayu, The Great War of Blambangan” yang mengangkat kisah perjuangan masyarakat Blambangan melawan VOC pada abad ke-18. Tema ini tidak hanya sarat nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung. Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, Myrna Aditya Dewi, menyatakan bahwa rangkaian kegiatan BEC dirancang untuk memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. “Kami ingin event ini bukan hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga menjadi roda penggerak ekonomi kerakyatan. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung selama masa persiapan hingga pelaksanaan acara diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM di Banyuwangi,” ujarnya.

Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50.000 UMKM di Kabupaten Banyuwangi, dan sebagian besar bergerak di sektor kuliner dan kerajinan. Event seperti BEC menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk memperkenalkan produk dan meningkatkan omzet. Selain itu, latihan yang digelar di berbagai kecamatan juga memastikan dampak ekonomi tersebar merata, tidak hanya terpusat di kota.

Kronologi Latihan BEC 2026

  1. Persiapan awal: Koordinasi dengan peserta dan pelatih koreografi sejak Juni 2026.
  2. Latihan perdana: 10 Juli 2026 di RTH Rejoagung, diikuti 200 peserta.
  3. Latihan massal: 12 Juli 2026, dihadiri lebih dari 500 peserta dan ribuan penonton.
  4. Gladi bersih: 13-17 Juli 2026 di lokasi puncak acara.
  5. Puncak BEC: 18 Juli 2026, karnaval budaya di jalan protokol Banyuwangi.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah

Keberhasilan latihan BEC 2026 dalam mendongkrak penjualan pedagang camilan di Srono memberikan gambaran positif bagi penyelenggaraan event serupa di masa depan. Bagi masyarakat, momen ini menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan, terutama bagi pedagang kecil yang selama ini mengandalkan penjualan harian. Bagi pemerintah, dampak ekonomi yang terukur ini menjadi bukti bahwa investasi pada event budaya memberikan return yang signifikan. Ke depan, pemerintah daerah diharapkan dapat mengintegrasikan program pemberdayaan UMKM dengan kalender event, misalnya dengan menyediakan stan khusus, pelatihan kemasan, atau akses permodalan bagi pedagang yang terdampak.

Namun, perlu diingat bahwa lonjakan penjualan yang bersifat musiman ini juga memerlukan strategi agar dampaknya berkelanjutan. Para pedagang perlu didorong untuk meningkatkan kualitas produk dan manajemen usaha agar mampu bersaing tidak hanya saat event, tetapi juga dalam keseharian. Selain itu, koordinasi antara panitia event, pemerintah kecamatan, dan pedagang perlu diperkuat untuk mengatur tata letak dan kebersihan lokasi agar kenyamanan pengunjung tetap terjaga.

Di tengah hiruk-pikuk latihan yang penuh semangat, para pedagang camilan seperti Santoso tersenyum legawa. Dagangan yang ludes dalam waktu singkat menjadi pemandangan yang membahagiakan. Lebih dari sekadar cuan, momen ini menjadi pengingat bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan, saling menguatkan. Saat kostum-kostum etnik berkilauan di bawah sinar matahari, aroma pisang goreng dan es campur ikut memeriahkan suasana, menciptakan harmoni antara masa lalu yang heroik dan denyut nadi ekonomi rakyat yang terus berdetak.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *