BGN Masih Kaji soal Murid Desil 8-10 Tak Lagi Terima MBG, Target Rampung 1 Bulan
Suara Pecari, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji rencana penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan desil 8, 9, dan 10. Kajian ini ditargetkan rampung dalam waktu maksimal satu bulan ke depan. Keputusan tersebut diambil dalam rangka penajaman sasaran penerima manfaat agar bantuan benar-benar tepat sasaran bagi kelompok yang membutuhkan.
Latar Belakang Kebijakan
Program MBG yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto sejak awal tahun ini telah menjangkau puluhan juta siswa di seluruh Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul kekhawatiran bahwa program ini tidak hanya dinikmati oleh siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga oleh mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa desil 8 hingga 10 merupakan kelompok dengan pengeluaran per kapita tertinggi, sehingga dianggap tidak memerlukan bantuan pangan dari pemerintah.
Wakil Kepala BGN, Trenggono, menegaskan bahwa pihaknya masih melakukan kajian mendalam terkait mekanisme penghentian ini. “Ya itu masih kita lagi kaji lagi. Memang sudah ada wacana, tapi masih kita kaji lagi,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/7). Ia menambahkan bahwa hasil kajian akan disampaikan setelah selesai, dan target penyelesaiannya adalah satu bulan.
Dinamika di Lapangan
Salah satu tantangan terbesar dalam implementasi kebijakan ini adalah adanya sekolah-sekolah yang memiliki komposisi siswa dari berbagai latar belakang ekonomi. Di satu sisi, ada siswa yang berhak menerima MBG, sementara di sisi lain ada siswa yang tidak lagi memenuhi kriteria. Wakil Kepala BGN lainnya, Agustina Arumsari, menyebutkan bahwa Presiden Prabowo meminta agar kebijakan ini dikaji secara hati-hati dengan mempertimbangkan aspek psikologis siswa.
“Jadi seperti tadi, misalnya ada sekolah negeri atau sekolah apa, yang ada muridnya katakanlah 50 persen desilnya menengah sedikit ke bawah, menengah sedikit ke atas, kan berarti nanti jangan sampai ada yang menerima, ada yang tidak. Pertimbangkan secara psikologis, pertimbangkan dari aspek ini, pertimbangkan dari aspek ini,” ujar Agustina usai rapat terbatas dengan Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/7).
Rencana dan Target Waktu
BGN menargetkan kajian ini selesai dalam waktu satu bulan. Setelah itu, pemerintah akan mengumumkan mekanisme pelaksanaan yang jelas, termasuk kriteria sekolah yang akan menerapkan kebijakan tersebut. Trenggono menekankan bahwa penerima manfaat tetap menjadi prioritas utama. “Ya kan tadi sudah disampaikan sudah diberikan waktu maksimal 1 bulan. Yang jelas penerima manfaat itu adalah prioritas jadi apanya disesuaikan nanti ya,” pungkasnya.
Dampak dan Implikasi
Kebijakan ini diprediksi akan berdampak signifikan bagi jutaan siswa dari keluarga desil 8 hingga 10 yang selama ini menikmati MBG. Mereka harus mencari alternatif makanan bergizi di luar program pemerintah. Di sisi lain, penghematan anggaran dari penghentian ini dapat dialokasikan untuk memperluas jangkauan program kepada siswa yang benar-benar membutuhkan.
Dari segi psikologis, kekhawatiran muncul mengenai potensi stigma atau kecemburuan sosial di antara siswa. Namun, pemerintah berjanji akan mempertimbangkan aspek ini secara matang. Beberapa opsi yang mungkin diambil antara lain pemberian MBG dalam bentuk berbeda, seperti paket makanan kering atau bantuan gizi tidak langsung di sekolah dengan komposisi siswa campuran.
Kronologi Peristiwa
- 15 Juli 2026: Rapat terbatas antara Presiden Prabowo, BGN, dan kementerian terkait di Istana Kepresidenan. Agustina menyampaikan wacana penghentian MBG bagi desil 8-10.
- 17 Juli 2026: Rapat BGN dengan Komisi IX DPR di Senayan. Trenggono mengonfirmasi kajian sedang berlangsung dengan target satu bulan.
- Agustus 2026 (estimasi): Hasil kajian diumumkan dan kebijakan mulai diimplementasikan secara bertahap.
Data Pendukung
| Desil | Tingkat Kesejahteraan | Status Penerima MBG (Rencana) |
|---|---|---|
| 1-7 | Menengah ke bawah | Tetap menerima |
| 8 | Menengah ke atas | Tidak menerima |
| 9 | Kaya | Tidak menerima |
| 10 | Kaya sekali | Tidak menerima |
Tanggapan Publik
Sejumlah kalangan menyambut positif kebijakan ini karena dianggap lebih adil dan tepat sasaran. Namun, ada pula yang khawatir akan timbulnya kesenjangan di lingkungan sekolah. Kepala Sekolah SMP Negeri 12 Jakarta, Budi Santoso, mengatakan, “Kami berharap pemerintah memberikan solusi yang tidak membeda-bedakan siswa secara kasat mata, misalnya dengan sistem kupon atau pembagian secara tertutup.”
Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wijaya, menilai langkah BGN sudah tepat. “Program MBG harus difokuskan pada kelompok rentan. Jika terus diberikan kepada semua lapisan, anggaran akan membengkak dan efektivitasnya menurun,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, BGN diharapkan dapat merumuskan mekanisme yang paling tepat, termasuk kemungkinan pemberian MBG dalam bentuk lain seperti paket makanan bergizi yang dibawa pulang. Keputusan akhir tetap menunggu rampungnya kajian yang kini tengah berjalan.
Di tengah proses ini, pemerintah terus berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup, tanpa meninggalkan prinsip keadilan dan efektivitas. Masyarakat pun menanti dengan harap-harap cemas, apakah kebijakan ini akan membawa perubahan signifikan bagi masa depan program MBG yang telah menjadi salah satu andalan pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










