Nunukan: Gerbang Perbatasan yang Mengukir Prestasi di Hari Anak Nasional

Nunukan: Gerbang Perbatasan yang Mengukir Prestasi di Hari Anak Nasional

Suara Pecari, Nunukan, kabupaten di ujung utara Kalimantan, kembali mencuri perhatian. Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Anak Nasional ke-42 pada 23 Juli 2026, Kecamatan Sebatik Tengah, Nunukan, justru menjadi sorotan karena inovasi pelayanan publik yang menyentuh langsung warganya. Mulai dari perekaman Kartu Identitas Anak (KIA) hingga program kesehatan gratis, Nunukan membuktikan bahwa daerah perbatasan mampu menjadi pelopor dalam pemenuhan hak anak dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Di Desa Bukit Harapan, Sebatik Tengah, puluhan anak dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sekolah dasar antusias mengikuti perekaman KIA. Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, menyebut kegiatan ini sebagai kado spesial Hari Anak Nasional. “Setiap anak berhak memiliki identitas kependudukan. Kami jemput bola ke sekolah-sekolah agar tidak ada anak yang tertinggal,” ujarnya. Program Lumbung Penanganan Sosial Terpadu Kecamatan (LuPaSiDuKa) menjadi motor penggerak, terutama bagi anak-anak pekerja migran Indonesia yang pulang dari Malaysia untuk bersekolah. Banyak dari mereka belum memiliki akta kelahiran atau KK. Melalui koordinasi dengan Disdukcapil Nunukan, pemerintah kecamatan mengurus dokumen secara gratis, menghemat biaya dan waktu yang biasanya harus ditempuh dengan kapal ke ibukota kabupaten.

Tak hanya administrasi, sektor kesehatan juga mendapat perhatian serius di Nunukan. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) kini tidak lagi terbatas pada balita. Seluruh siklus kehidupan—bayi, anak, remaja, dewasa, hingga lansia—dapat memeriksakan kesehatannya. “Hipertensi menjadi keluhan utama pada lansia. Kami berikan edukasi pola makan dan gaya hidup sehat,” jelas Aris. Bagi warga yang tidak bisa hadir, petugas puskesmas melakukan kunjungan rumah. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan yang mengedepankan promotif dan preventif.

Di sisi lain, Nunukan juga menjadi pusat perhatian nasional terkait pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Seimanggaris. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI mempercepat persiapan pembangunan PLBN yang ditargetkan menjadi gerbang resmi Indonesia-Malaysia. Deputi BNPP, Nurdin, meninjau dua alternatif lokasi untuk memastikan kesesuaian dengan titik perlintasan di sisi Malaysia. PLBN Seimanggaris diharapkan bukan hanya memperkuat kedaulatan, tetapi juga membuka koridor ekonomi melalui konektivitas BIMP-EAGA.

Cuaca di Nunukan pada Kamis (23/7/2026) diprediksi cerah pada pagi hingga siang, namun waspada hujan petir di malam hari. Meski demikian, semangat warga Sebatik Tengah tidak surut. Forum Anak yang telah dibentuk menjadi wadah aspirasi, di mana anak-anak menyampaikan kebutuhan seperti dokumen kependudukan dan keamanan dunia digital. “Mereka adalah masa depan Nunukan. Suara mereka harus didengar,” tegas Aris.

Kesimpulannya, Nunukan menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan halangan untuk berinovasi. Melalui sinergi pemerintah kecamatan, puskesmas, dan partisipasi warga, hak anak dan kesehatan masyarakat di perbatasan dapat terpenuhi. Pembangunan PLBN Seimanggaris pun menjadi harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi. Nunukan bukan lagi sekadar tapal batas, melainkan cermin pelayanan publik yang inklusif dan berkeadilan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *