BMKG Catat Suhu Maksimal Mencapai 39,2°C, Hawa Terasa Panas di Beberapa Wilayah Indonesia
Suara Pecari – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum yang mencapai 39,2°C di beberapa wilayah Indonesia pada pekan terakhir Oktober 2026, menyebabkan hawa terasa sangat panas dan gerah. Suhu tertinggi tercatat di Lampung pada tanggal 21 Oktober 2026, diikuti oleh Jawa Barat dan Kalimantan Selatan yang juga mengalami suhu udara mendekati 39°C.
Suhu Maksimal dan Penyebab Utama
Berdasarkan data BMKG, suhu maksimum yang tinggi ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain minimnya tutupan awan, curah hujan yang terbatas, serta pengaruh fenomena El Nino yang kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini memperkuat pemanasan udara di siang hari sehingga suhu meningkat signifikan.
Prof Thomas Djamaluddin, seorang ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan empat faktor utama yang membuat kota-kota di Jawa terasa panas, bahkan hingga malam hari. Pertama, posisi matahari yang berada tepat di atas kepala menyebabkan pemanasan intens. Kedua, minimnya tutupan awan di akhir musim kemarau diperparah oleh efek El Nino yang mengakibatkan kondisi kering dan terik. Ketiga, hilangnya efek pendinginan angin dari daerah musim dingin di selatan. Terakhir, efek pemanasan kota atau urban heat island yang disebabkan emisi CO2 dari aktivitas manusia seperti industri, transportasi, dan rumah tangga, yang menjebak panas agar tidak mudah lepas ke antariksa saat malam hari.
Dampak Terhadap Kebakaran Hutan dan Kabut Asap
Kondisi panas dan kering ini juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat adanya titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi selama 10 hari terakhir, terutama di Kalimantan Tengah (3.794 titik), Sumatera Selatan (1.595 titik), dan Papua Selatan (1.516 titik). Sebaran asap akibat karhutla masih terdeteksi di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Prakiraan Hujan dan Cuaca Pekan Depan
Meski kondisi kering mendominasi, beberapa daerah tetap mengalami hujan dengan intensitas tinggi, seperti di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan Barat, dan Papua Tengah. Hujan lebat ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta pertemuan angin dan suhu muka laut yang hangat.
BMKG merilis prakiraan cuaca untuk periode 23-29 Oktober 2026, dengan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan rendah hingga menengah (0-150 mm per dasarian). Wilayah yang cenderung kering meliputi sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.
Kesimpulan
Suhu udara maksimum yang mencapai 39,2°C dan kondisi hawa panas yang berlangsung beberapa pekan ini disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Dampaknya tidak hanya pada ketidaknyamanan masyarakat akibat hawa panas, tetapi juga pada meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada kualitas udara dan lingkungan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi karhutla dan menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca yang ada.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










