Udara Palembang Masuk Level Berbahaya, Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan Warga

Udara Palembang Masuk Level Berbahaya

PALEMBANG – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali menjadi perhatian pada Minggu pagi (18/10/2026). Kabut asap dilaporkan menebal, sementara data pemantauan kualitas udara menunjukkan sejumlah titik berada pada kategori berbahaya.

Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan dalam laporan tersebut, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di kawasan Musi 2 mencapai 712. Angka serupa juga tercatat tinggi di Universitas Sriwijaya Bukit Palembang dengan AQI 702.

Baca juga:

Sementara itu, kawasan GP Plm mencatat AQI 591 dan Demang Lebar Daun mencapai 523. Adapun kawasan Sukarami berada pada angka 293, yang masih menunjukkan kondisi udara sangat tidak sehat.

Angka-angka tersebut mengindikasikan potensi risiko kesehatan yang serius apabila masyarakat terpapar polusi udara dalam kondisi tersebut. Namun, interpretasi data tetap perlu memperhatikan sumber pemantauan, waktu pengukuran, dan skala AQI yang digunakan.

Kondisi ini menjadi perhatian warga, terutama di tengah kekhawatiran terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat memperburuk kualitas udara serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Warga Diimbau Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Di tengah kondisi udara yang memburuk, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya ketika kabut asap terlihat pekat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan dan gangguan jantung perlu mendapat perhatian lebih.

Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95, untuk membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker kain biasa tidak memberikan tingkat perlindungan yang setara terhadap partikel halus.

Warga juga disarankan menutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan permukiman. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara dalam ruangan dan hindari aktivitas fisik berat di luar rumah selama kualitas udara masih buruk.

Pemantauan kualitas udara secara berkala juga penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan terkini.

Asap Karhutla Berpotensi Memicu Gangguan Pernapasan

Asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida. Partikel halus PM2.5 menjadi perhatian karena dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan.

Paparan asap dapat memicu atau memperburuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta gangguan pernapasan lainnya. Selain itu, asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru-paru atau gangguan kardiovaskular, berisiko mengalami dampak yang lebih berat.

Baca juga:

Karena itu, upaya mengurangi paparan asap menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat selama kualitas udara memburuk.

Paparan Partikel Halus Juga Berkaitan dengan Risiko Jantung

Dampak asap kebakaran hutan tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Paparan partikel halus juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.

American Heart Association (AHA) menyoroti sejumlah penelitian yang menunjukkan hubungan antara paparan asap kebakaran hutan dan gangguan jantung. Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association melaporkan peningkatan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen dalam kondisi paparan tertentu.

Meski demikian, angka tersebut tidak berarti setiap orang yang terpapar asap akan mengalami gangguan jantung. Besarnya risiko dapat berbeda-beda, bergantung pada tingkat dan durasi paparan, kondisi kesehatan, serta karakteristik individu.

Masyarakat tetap perlu waspada dan tidak mengabaikan gejala yang muncul selama kabut asap berlangsung.

Masyarakat Diminta Memantau Kualitas Udara

Masyarakat Palembang diharapkan terus mengikuti perkembangan kualitas udara melalui sumber pemantauan yang dapat dipercaya serta memperhatikan imbauan pemerintah dan otoritas kesehatan.

Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya, segera cari pertolongan medis. Warga yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung juga perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan apabila kondisinya memburuk.

Di tengah kondisi tersebut, penanganan sumber karhutla dan upaya pengendalian asap menjadi bagian penting untuk melindungi kesehatan masyarakat serta memulihkan kualitas udara di Kota Palembang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *