Kabut Asap Karhutla Menyelimuti Jalanan dan Sungai di Palangka Raya
Suara Pecari, Palangka Raya – Kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kondisi ini menyebabkan langit tampak kekuningan dan kualitas udara di kota tersebut masuk kategori bahaya.
Kondisi Kabut Asap dan Dampaknya
<pBerdasarkan data dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, jarak pandang pada pukul 11.00 WIB hanya berkisar antara 50 hingga 100 meter. Kabut asap juga terlihat pekat di kawasan Sungai Kahayan, tempat seorang nelayan bernama Udin mencari ikan.
Udin mengaku kabut asap yang telah berlangsung selama empat bulan ini sangat mengganggu kesehatannya dan juga pendapatannya sebagai nelayan. Ia menyebut jarak pandang di sungai bahkan hanya sekitar lima meter, sehingga aktivitasnya menjadi semakin sulit.
Harapan Masyarakat
Masyarakat setempat berharap kabut asap segera mereda agar kondisi lingkungan kembali normal dan aktivitas sehari-hari dapat berlangsung seperti sediakala. Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat, terutama yang bergantung pada sumber daya alam seperti nelayan.
Konteks Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Tengah
Kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah berulang di Kalimantan Tengah yang biasanya terjadi pada musim kemarau. Faktor cuaca yang kering dan aktivitas manusia sering kali menjadi pemicu utama karhutla. Kabut asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu kualitas udara lokal, tetapi juga dapat membawa dampak kesehatan serius bagi penduduk.
Upaya Penanggulangan dan Informasi Tambahan
Pemerintah dan berbagai instansi terkait biasanya melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla, seperti patroli, pemadaman api, dan sosialisasi kepada masyarakat. Namun, kondisi kabut asap yang terus berlangsung menunjukkan perlunya langkah lebih intensif dan kolaboratif.
Kualitas udara yang masuk kategori bahaya menurut BMKG menunjukkan perlunya perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah untuk mengurangi risiko kesehatan dan menjaga kelangsungan aktivitas ekonomi di Palangka Raya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










