Foto Karhutla Kian Parah, Warga Gelar Salat Meminta Hujan di Surabaya
Suara Pecari, Surabaya – Warga Surabaya melaksanakan salat Istisqa di Lapangan Bangunsari pada Jumat, 23 Oktober 2026, sebagai bentuk doa dan permohonan agar hujan segera turun. Ibadah ini dilakukan untuk mengatasi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang semakin parah akibat fenomena El Nino.
Fakta Utama Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia
Berdasarkan data dari Zoom Earth, kebakaran hutan dan lahan saat ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau panjang memperparah kondisi kekeringan sehingga karhutla menjadi semakin sulit dikendalikan.
Pelaksanaan Salat Istisqa di Surabaya
Salat Istisqa yang digelar di Lapangan Bangunsari ini merupakan salah satu upaya warga untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Salat ini merupakan ibadah sunnah yang biasa dilakukan umat Islam ketika menghadapi bencana kekeringan atau musim kemarau berkepanjangan.
Konteks dan Dampak Karhutla
- Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerusakan lingkungan yang luas dan berdampak pada kualitas udara yang buruk.
- Fenomena El Nino yang sedang berlangsung memperpanjang musim kemarau, meningkatkan risiko kebakaran dan menghambat upaya pemadaman.
- Dampak karhutla juga dirasakan oleh masyarakat setempat, terutama dalam hal kesehatan dan perekonomian.
Peran Masyarakat dan Pemerintah
Selain melakukan doa bersama melalui salat Istisqa, peran aktif masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencegah dan mengendalikan karhutla. Langkah-langkah seperti pengawasan lahan, peningkatan kesiapsiagaan, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran menjadi bagian penting dalam penanganan masalah ini.
Upaya bersama diharapkan dapat membantu mempercepat berakhirnya musim kemarau dan mencegah kerusakan yang lebih parah akibat karhutla.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










