3 Ribu Hektare Sawah di Aceh Masih Rusak Berat Imbas Banjir Bandang Akhir 2025

Suara Pecari, Aceh – Sekitar 3 ribu hektare sawah di Aceh masih mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang yang melanda provinsi tersebut pada akhir November 2025. Lumpur setebal hingga dua meter masih menutupi sebagian lahan, sehingga petani belum dapat kembali menanam padi. Proses pemulihan diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027.

Fakta Utama Kerusakan Sawah

Menurut Agus Susanto, Penanggung Jawab Swasembada Pangan Aceh, sekitar 57 ribu hektare lahan pertanian terdampak oleh bencana hidrometeorologi tersebut. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 hektare mengalami kerusakan berat. Pemulihan lahan dilakukan melalui program optimalisasi lahan dan rehabilitasi, dengan beberapa lahan yang telah dibersihkan dan kembali ditanami, bahkan sudah memasuki masa panen.

Baca juga:

Penanganan Lahan Rusak Berat

Kerusakan berat masih ditemukan terutama di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Di Bireuen, sekitar 250 hektare lahan masih memerlukan penanganan lebih lanjut. Proses rehabilitasi memerlukan waktu, tenaga, anggaran, serta dukungan alat dan mesin pertanian, terutama karena kondisi lumpur yang sangat tebal di beberapa lokasi.

Penanganan awal telah dimulai di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya dengan pengerahan alat berat untuk mengangkat lumpur dan material yang menimbun sawah sebelum lahan dapat diolah kembali.

Alternatif Tanaman Jagung

Bagi petani yang lahan sawahnya belum bisa ditanami padi karena timbunan lumpur yang terlalu tebal atau bercampur material batuan, pemerintah menyiapkan alternatif berupa penanaman jagung. Bantuan benih jagung direncanakan akan disalurkan mulai akhir Oktober 2026. Penanaman jagung ini bersifat sementara dan tidak menggantikan fungsi sawah secara permanen, sebagai upaya menjaga keberlanjutan penghidupan petani.

Baca juga:

Prospek Produksi Padi

Meski sebagian lahan masih belum pulih, Agus Susanto optimistis hasil panen pada musim tanam rendeng dapat meningkat dibandingkan tahun 2025. Hal ini didukung oleh pulihnya lahan dan membaiknya pertumbuhan tanaman. Dengan metode konvensional, produktivitas padi biasanya mencapai 5-6 ton per hektare. Pemerintah menargetkan peningkatan hasil hingga 10-11 ton per hektare dengan penerapan sistem pertanian modern.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *