Kemeriahan Ritual Tumpeng Sewu, Tradisi Gotong Royong Warga Osing yang Dikenal Dunia

Kemeriahan Ritual Tumpeng Sewu, Tradisi Gotong Royong Warga Osing yang Dikenal Dunia

Suara Pecari |

KabarBaik.co, Banyuwangi Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menyelenggarakan tradisi Tumpeng Sewu pada Kamis malam (21/5). Tradisi yang melibatkan gotong royong ini menarik perhatian banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang ikut merayakan upacara selamatan desa tersebut.

Di antara para pengunjung, seorang wisatawan dari Republik Ceko, Adam, mengungkapkan kegembiraannya bisa menikmati menu pecel pitik, yang menjadi hidangan utama dalam acara tersebut. “Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” ujarnya.

Selain Adam, ribuan pengunjung lainnya memadati jalan desa untuk merasakan momen kebersamaan dalam menikmati makan tumpeng. Seorang pengunjung dari Semarang, Ati, juga berbagi pengalaman positifnya, menilai kerukunan masyarakat Kemiren dan kelezatan masakan yang disajikan, bahkan sampai menambah dua kali.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa tradisi Tumpeng Sewu merupakan simbol kekuatan budaya lokal Banyuwangi. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai gotong royong yang telah diwariskan oleh masyarakat Osing. “Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan terus kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan,” ungkap Ipuk.

Ipuk juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat Osing dalam menyiapkan ribuan tumpeng untuk dinikmati bersama. Hal ini menunjukkan solidaritas sosial yang kuat di antara warga. Tumpeng Sewu adalah ritual yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan dilaksanakan setiap tahun seminggu sebelum Hari Raya Idul Adha.

Ritual ini melibatkan penyajian ribuan tumpeng dengan lauk khas Osing, yaitu pecel pitik dan lalapan. Pecel pitik, yang merupakan olahan ayam kampung panggang dengan parutan kelapa dan bumbu khas, menjadi sajian wajib dalam tradisi ini. Sebelum makan bersama, warga melaksanakan ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa dan berdoa bersama untuk keselamatan dan perlindungan dari bencana.

Rangkaian tradisi juga mencakup ritual mepe kasur dan Mocoan Lontar Yusup yang berlangsung semalam suntuk. Pembacaan naskah kuno tentang kisah Nabi Yusuf ini diyakini sebagai bentuk selamatan dan tolak bala. Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin, menjelaskan, “Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala.”

Pelestarian budaya yang konsisten membuat Desa Kemiren mendapatkan berbagai penghargaan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, desa ini meraih The 5th ASEAN Homestay Award di Malaysia dan juga menjadi bagian dari jaringan desa wisata terbaik PBB. Selain itu, Kemiren meraih juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 dalam kategori Kelembagaan dan SDM dari Kementerian Pariwisata RI.

Dengan semangat gotong royong dan pelestarian budaya, Desa Kemiren terus memperlihatkan kekayaan tradisi yang dapat menarik perhatian dunia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan