Mulai 10 Juni Pertamax Jadi Rp 16.250 per Liter, Media Asing Sorot Kenaikan 32%

Mulai 10 Juni Pertamax Jadi Rp 16.250 per Liter, Media Asing Sorot Kenaikan 32%

Suara Pecari | Mulai 10 Juni Pertamax jadi Rp 16.250 per liter, kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini resmi diberlakukan PT Pertamina Patra Niaga. Kenaikan dari harga sebelumnya Rp 12.300 per liter ini langsung mendapat sorotan luas, tak hanya di dalam negeri tetapi juga dari media negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Media Singapura The Straits Times menyoroti kenaikan hingga 32 persen tersebut, sementara The Star Malaysia memberitakan dengan judul “Indonesia’s non-subsidised RON92 petrol price jumps 32%, first hike in months.” Lonjakan harga ini terjadi di tengah tekanan inflasi tahunan Indonesia yang pada Mei mencapai 3,08 persen, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

Mulai 10 Juni Pertamax jadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green (RON 95) naik menjadi Rp 17.000 per liter. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa harga tersebut masih sekitar 50 persen dari harga keekonomian yang seharusnya. “Itu sebetulnya kita hanya 50 persen dari harga real-nya, dan sudah melewati proses dengan Menteri ESDM,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurut Dony, BBM nonsubsidi seperti Pertamax seharusnya mengikuti harga pasar. Kenaikan ini dinilai akan mengurangi beban Pertamina dalam menanggung fluktuasi harga minyak dunia. Ia juga menegaskan bahwa Pertamax umumnya digunakan oleh masyarakat menengah ke atas, sehingga dampaknya terhadap inflasi diperkirakan terbatas.

Namun, pengamat ekonomi dan energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kenaikan ini berpotensi mendongkrak inflasi karena jumlah konsumen Pertamax cukup besar. “Kenaikan Pertamax ini akan memberikan dampak terhadap inflasi. Karena jumlah konsumen dari Pertamax 92 dan 95 ini cukup besar,” katanya kepada JawaPos.com.

Fahmy juga menyoroti selisih harga yang besar antara Pertalite (Rp 10.000 per liter) dengan Pertamax (Rp 16.250 per liter). Perbedaan Rp 6.250 tersebut, menurutnya, akan memicu migrasi massal pengguna Pertamax ke Pertalite. Akibatnya, beban subsidi justru meningkat dan tujuan meringankan APBN tidak tercapai.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga memastikan stok BBM di Jawa Tengah dan DIY tetap aman. Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menyatakan bahwa konsumsi Pertalite masih dominan (73,3 persen), sedangkan Pertamax hanya 25,9 persen. “Sehingga dampaknya terhadap masyarakat secara luas relatif terbatas. Kami pastikan stok BBM di Jawa Tengah dan DIY masih sangat aman,” ujarnya.

Di tengah kebijakan ini, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada energi dalam tiga tahun ke depan. Dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional HIPMI ke-18, ia menekankan pentingnya hilirisasi dan pengolahan komoditas di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah dan kemandirian energi.

Mulai 10 Juni Pertamax jadi Rp 16.250 per liter, langkah ini menjadi ujian bagi pemerintah dalam menyeimbangkan kebutuhan fiskal, stabilitas harga, dan daya beli masyarakat. Dengan target swasembada energi yang ambisius, diharapkan ke depannya Indonesia tidak lagi rentan terhadap gejolak harga minyak global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan