Pasar Saham Global Tertekan, Danantara dan EPF Malaysia Justru Rajin Borong Saham Blue Chip RI

Pasar Saham Global Tertekan, Danantara dan EPF Malaysia Justru Rajin Borong Saham Blue Chip RI

Suara Pecari, Pasar saham global kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (23/7) waktu AS, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan aksi jual besar-besaran di sektor teknologi. Namun di tengah gejolak tersebut, investor institusi justru menunjukkan minat tinggi terhadap saham-saham unggulan Indonesia, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Indeks utama Wall Street ditutup di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97% ke 51.711,65, S&P 500 terkoreksi 1,21% menjadi 7.408,30, dan Nasdaq Composite anjlok 2,15% ke 25.137,69. Pelemahan Nasdaq dipicu oleh laporan keuangan dua raksasa teknologi, Alphabet dan Tesla, yang mengecewakan pasar. Saham Alphabet ambles 7% dan Tesla terjun 14% setelah merilis kinerja kuartalan. Kekhawatiran investor terhadap lonjakan belanja AI juga turut membebani saham-saham teknologi.

Di sisi lain, harga minyak melonjak setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, disusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang infrastruktur Iran. Minyak Brent naik 7% ke US$ 100,69 per barel, sementara WTI naik 6% ke US$ 92,19 per barel. Ketegangan ini semakin memperkuat sentimen risk-off di pasar saham global.

Meski pasar saham global bergejolak, pergerakan di bursa saham Indonesia justru diwarnai aksi akumulasi oleh investor institusi besar. CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengumumkan bahwa Danantara Asset Management (DAM) resmi mengambil alih empat perusahaan manajer investasi BUMN: PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, PT BNI Asset Management, dan PT PNM Investment Management. Akuisisi ini dilakukan melalui Perjanjian Pembelian Saham (SPA) yang ditandatangani pada Kamis (23/7). Keempat manajer investasi tersebut secara kolektif mengelola dana kelolaan (AUM) lebih dari Rp170 triliun per Juni 2026.

Langkah Danantara ini menunjukkan optimisme terhadap prospek saham-saham BUMN di Indonesia. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (kode saham: BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun per akhir Juni 2026, tumbuh 24,4% secara tahunan. Kinerja positif ini turut memperkuat daya tarik saham-saham perbankan di mata investor.

Tidak hanya investor domestik, investor asing pun gencar mengoleksi saham-saham blue chip Indonesia. Lembaga pengelola dana pensiun Malaysia, Employees Provident Fund Board (EPF), tercatat memegang 17 saham blue chip dengan porsi di atas 1% per 30 Juni 2026. EPF mengoleksi saham terbanyak di PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebanyak 1,78 miliar lembar (1,81%) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak 1,78 miliar lembar (1,18%). PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menjadi incaran dengan kepemilikan 1,17 miliar lembar (1,26%).

Selain sektor telekomunikasi dan perbankan, EPF juga mengoleksi saham di sektor pertambangan, consumer goods, dan infrastruktur. Misalnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebanyak 552,20 juta lembar (2,30%), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebanyak 562,31 juta lembar (1,35%), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebanyak 94,20 juta lembar (1,30%).

Di sisi lain, minat investor ritel terhadap saham-saham AS yang ditokenisasi juga meningkat. Platform aset kripto Pintu mencatat lonjakan trader aktif sebesar 18% dan volume perdagangan naik 11% pada kuartal II-2026. Token ETF Nasdaq-100 dan S&P 500 menjadi favorit, dengan volume perdagangan masing-masing naik 115% dan 74%. Hal ini menunjukkan investor Indonesia semakin tertarik pada diversifikasi global melalui instrumen saham tertokenisasi.

Pemerintah juga terus berupaya mendiversifikasi sumber pendanaan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penerbitan Panda Bond senilai sekitar 1 miliar dolar AS sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik di tengah gejolak global.

Kesimpulannya, meskipun pasar saham global sedang tertekan oleh faktor geopolitik dan aksi jual di sektor teknologi, saham-saham Indonesia justru menunjukkan daya tarik tersendiri. Aksi korporasi Danantara, akumulasi saham oleh EPF Malaysia, serta pertumbuhan aset tertokenisasi menjadi bukti bahwa investor tetap optimistis terhadap prospek investasi di Indonesia. Dengan fundamental ekonomi yang solid dan dukungan kebijakan yang tepat, pasar saham Indonesia berpotensi tetap resilien di tengah ketidakpastian global.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *