Rupiah Dibuka Melemah Hari Ini Tertekan Eskalasi Perang di Timur Tengah
Suara Pecari | Rupiah dibuka melemah hari ini tertekan eskalasi perang di Timur Tengah LPP RRI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau turun pada pembukaan perdagangan Kamis, 11 Juni 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,11 persen atau 19 poin ke posisi Rp17.963 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup menguat 0,63 persen ke level Rp17.944 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak di kisaran 99,89-100,06.
Pelemahan rupiah ini sejalan dengan prakiraan para analis pasar uang. Analis dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperkirakan rupiah hari ini berpotensi terdepresiasi hingga kisaran Rp18.010 per dolar AS. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tekanan terhadap rupiah, terutama meningkatnya risiko geopolitik setelah serangan balasan antara AS-Iran dan Israel-Iran. Eskalasi konflik di Timur Tengah ini memicu ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Selain faktor eksternal, data inflasi AS yang dirilis baru-baru ini turut membebani rupiah. Inflasi umum AS pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,9 persen secara tahunan, masih di atas target bank sentral AS (The Fed) sebesar 2 persen. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Kenaikan suku bunga AS biasanya mendorong penguatan dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, kekhawatiran inflasi juga muncul setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax pada Selasa lalu. Kenaikan harga BBM berpotensi mendorong inflasi inti dan mengurangi daya beli masyarakat. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan rupiah. Pada Rabu kemarin, BI kembali menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan total penyerapan Rp15 triliun. Lelang tersebut diikuti dengan kenaikan yield sekitar 30 basis poin di seluruh tenor. Imbal hasil tenor 6 bulan menjadi 7,2 persen, tenor 9 bulan 7,4 persen, dan tenor 12 bulan 7,6 persen.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menilai, kenaikan imbal hasil SRBI merupakan bagian dari strategi BI untuk meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah. Langkah ini diharapkan dapat menarik arus modal masuk dan mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menariknya, tenor 12 bulan menjadi instrumen yang paling diminati dengan nilai awarded mencapai Rp14,5 triliun, atau 96 persen dari total penyerapan. Imbal hasil tenor tersebut telah meningkat 266 bps dalam tahun kalender. Sementara itu, kepemilikan asing pada tenor 0–1 tahun naik Rp34 triliun secara bulanan.
“Kondisi itu menunjukkan strategi BI dalam menarik arus masuk modal melalui penawaran yield yang lebih kompetitif mulai menunjukkan hasil,” ujar Tim Mirae. Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 7,34 persen, sementara tenor 2 tahun naik ke 7,34 persen.
Rupiah dibuka melemah hari ini tertekan eskalasi perang di Timur Tengah LPP RRI. Para pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik serta data ekonomi global. Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter The Fed dan langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan berbagai tekanan yang ada, rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam rentang yang lebar.
Rupiah dibuka melemah hari ini tertekan eskalasi perang di Timur Tengah LPP RRI. Meskipun demikian, intervensi BI melalui SRBI dan kebijakan lainnya diharapkan dapat meredam depresiasi yang terlalu dalam. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap risiko geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












