Ancaman Trump ke Iran Bikin Wall Street Ambles Nyaris 2 Persen, IHSG Justru Meroket
Suara Pecari | Ancaman Trump ke Iran bikin Wall Street ambles nyaris 2 persen pada perdagangan Rabu (10/6/2026), mengguncang pasar saham global dan memicu aksi jual besar-besaran di bursa Amerika Serikat. Pernyataan agresif Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan meluncurkan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran jika tidak tercapai kesepakatan damai menjadi pemicu utama kepanikan investor. Dow Jones Industrial Average merosot 953,33 poin atau 1,87% ke level 49.918,78, S&P 500 terkoreksi 1,62%, dan Nasdaq Composite ambles 1,98%.
Tekanan di Wall Street diperparah oleh rilis data inflasi inti AS bulan Mei yang masih tinggi di level 2,9% secara tahunan, meskipun sesuai ekspektasi. Angka ini masih di atas target The Fed sebesar 2%, sehingga membatasi ruang pelonggaran moneter dan memicu kekhawatiran suku bunga tinggi dalam jangka panjang. Sektor teknologi menjadi yang paling terpukul, dengan indeks semikonduktor (.SOX) turun 3,6%. Saham Nvidia dan Broadcom menjadi kontributor utama penurunan S&P 500, sementara sektor teknologi secara keseluruhan telah turun 11% dari rekor penutupan tertinggi pada 2 Juni dan resmi masuk wilayah koreksi.
Ancaman Trump ke Iran bikin Wall Street ambles nyaris 2 persen juga memicu gelombang aksi jual di pasar Asia pada hari yang sama. Mayoritas bursa regional ditutup di zona merah: Nikkei Jepang turun 1,9%, Kospi Korea Selatan ambles 4,5%, Taiex Taiwan jatuh 3,3%, dan Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,6%. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia naik, yang berpotensi meningkatkan inflasi global dan memperpanjang periode suku bunga tinggi. Investor beralih ke aset defensif sembari menanti rilis data inflasi tahunan AS yang diperkirakan naik ke 4,2%.
Namun, di tengah kepanikan global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia justru mencatat anomali dengan penguatan signifikan. Meskipun investor asing melakukan aksi jual bersih cukup masif, IHSG berhasil meroket, menunjukkan sentimen positif dari investor domestik atau faktor fundamental lain yang mendukung pasar modal Indonesia. Hal ini menjadi kejutan di tengah ancaman Trump ke Iran bikin Wall Street ambles nyaris 2 persen dan pasar Asia tertekan.
Indeks volatilitas Cboe (VIX) yang dijuluki sebagai indikator ketakutan Wall Street melanjutkan tren kenaikan, mengonfirmasi meningkatnya kekhawatiran investor. Tom Hainlin, Ahli Strategi Investasi di U.S. Bank Wealth Management, menilai investor masih melakukan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi, sementara pasar mulai mengantisipasi kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi seiring rilis data ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.
Kesimpulannya, ancaman Trump ke Iran bikin Wall Street ambles nyaris 2 persen dan memicu gejolak di pasar global, namun IHSG justru menunjukkan ketahanan. Investor global kini dihadapkan pada ketidakpastian tinggi akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan prospek suku bunga yang masih ketat. Sementara itu, pasar Indonesia perlu dicermati lebih lanjut apakah penguatan IHSG dapat bertahan di tengah tekanan eksternal.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












