Dukung Program MBG, Kemenperin Dorong Implementasi UBC Collection untuk Ekonomi Sirkular
Suara Pecari | Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara resmi mendukung pelaksanaan Program Used Beverage Carton (UBC) Collection sebagai langkah strategis memperkuat ekonomi sirkular dan industri berkelanjutan. Program ini juga menjadi bentuk konkret dukungan terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Inisiatif ini dijalankan oleh PT Lami Packaging Indonesia bersama PT Frisian Flag Indonesia di Kabupaten Serang, Banten, dan diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan serta pemanfaatan kembali kemasan karton pascakonsumsi sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Latar Belakang dan Urgensi Program UBC Collection
Program UBC Collection lahir dari kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah kemasan, khususnya kemasan karton aseptik yang banyak digunakan untuk produk susu dan minuman. Seiring dengan pertumbuhan industri pengolahan susu nasional, volume kemasan pascakonsumsi pun meningkat. Tanpa sistem pengelolaan yang efektif, kemasan-kemasan ini berpotensi menjadi sampah yang sulit terurai. Oleh karena itu, Kemenperin mendorong penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), di mana produsen turut bertanggung jawab mengelola kemasan pascakonsumsinya agar kembali masuk ke dalam rantai nilai industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pengembangan industri susu nasional harus diiringi dengan pengelolaan dampak lingkungan yang bertanggung jawab. “Peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring dengan penguatan prinsip keberlanjutan,” ujarnya di Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa Program UBC Collection merupakan contoh konkret penerapan ekonomi sirkular dan EPR.
Sinergi Multipihak dalam Ekosistem Ekonomi Sirkular
Kemenperin mendorong sinergi multipihak yang melibatkan industri pengolahan susu, industri kemasan, pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan komunitas pengelola sampah. Kolaborasi ini diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi sirkular yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Sebagai langkah awal, Program UBC Collection melibatkan sejumlah sekolah di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Para siswa diberikan edukasi untuk membiasakan pemilahan dan pengumpulan kemasan karton pascakonsumsi secara mandiri. Program ini tidak hanya membangun gaya hidup ramah lingkungan sejak usia dini, tetapi juga mendukung ketersediaan bahan baku daur ulang bagi industri dalam negeri.
| Pihak | Peran |
|---|---|
| Kemenperin | Regulator dan fasilitator kebijakan |
| PT Lami Packaging Indonesia | Produsen kemasan aseptik lokal |
| PT Frisian Flag Indonesia | Produsen susu, mitra pengumpulan |
| Pemerintah Daerah | Dukungan infrastruktur dan regulasi lokal |
| Sekolah | Edukasi dan pengumpulan kemasan |
| Komunitas Pengelola Sampah | Sortasi dan daur ulang |
Dampak Program MBG terhadap Industri Susu dan Lingkungan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi industri makanan dan minuman, khususnya industri pengolahan susu. Peningkatan serapan produk diperkirakan dapat memacu investasi baru dan meningkatkan utilisasi kapasitas produksi. Namun, pertumbuhan konsumsi susu juga perlu diantisipasi melalui sistem pengelolaan limbah kemasan yang efektif. Menteri Agus menekankan, “Kita harus memastikan Program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Program tersebut juga harus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui penerapan konsep zero waste.”
Dengan adanya Program UBC Collection, kemasan karton susu yang sebelumnya menjadi limbah kini dapat dikumpulkan dan didaur ulang menjadi bahan baku baru, seperti kertas daur ulang dan bahan baku produk lainnya. Hal ini mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menekan emisi gas rumah kaca dari proses dekomposisi sampah.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
- Mengurangi ketergantungan impor bahan baku: Daur ulang kemasan karton menyediakan bahan baku lokal bagi industri kertas dan lainnya.
- Menciptakan lapangan kerja hijau: Proses pengumpulan, sortasi, dan daur ulang membutuhkan tenaga kerja.
- Meningkatkan kesadaran lingkungan: Edukasi di sekolah membentuk generasi yang peduli lingkungan.
- Mendukung target nasional pengelolaan sampah: Sejalan dengan Perpres No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah.
Peran PT Lami Packaging dalam Rantai Pasok Nasional
Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengapresiasi investasi PT Lami Packaging Indonesia. Perusahaan ini merupakan produsen kemasan aseptik lokal pertama di Indonesia. “Kehadiran produsen kemasan domestik seperti PT Lami Packaging memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional. Perusahaan tersebut juga meningkatkan daya saing sektor pengolahan susu dan mengurangi ketergantungan industri pada impor,” ujar Putu.
Dengan adanya produsen kemasan dalam negeri, industri pengolahan susu tidak perlu lagi bergantung pada kemasan impor yang biayanya lebih tinggi dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Hal ini pada gilirannya akan menekan biaya produksi dan membuat produk susu lokal lebih kompetitif.
Kronologi dan Rencana Pengembangan
- Tahap Awal (2026): Peluncuran program di Kecamatan Cikande, Serang, Banten, melibatkan beberapa sekolah.
- Edukasi dan Sosialisasi: Siswa diberikan pemahaman tentang pemilahan sampah dan pentingnya daur ulang.
- Pengumpulan Rutin: Kemasan karton dikumpulkan secara berkala oleh mitra pengelola sampah.
- Daur Ulang: Kemasan dikirim ke fasilitas daur ulang untuk diolah menjadi bahan baku.
- Rencana Ekspansi: Program akan diperluas ke daerah lain di Banten dan provinsi lainnya seiring dukungan pemerintah daerah.
Implikasi bagi Masyarakat, Industri, dan Pemerintah
Program UBC Collection memberikan dampak positif yang luas. Bagi masyarakat, terutama siswa, program ini menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini. Bagi industri, tersedianya bahan baku daur ulang lokal mengurangi biaya dan ketergantungan impor. Bagi pemerintah, program ini mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12) serta penanganan perubahan iklim (SDG 13).
Program ini juga menjadi model bisnis sirkular yang dapat direplikasi oleh sektor lain. Dengan kolaborasi multipihak, ekonomi sirkular bukan lagi sekadar wacana, melainkan implementasi nyata yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Di tengah gencarnya program MBG yang menyedot perhatian publik, inisiatif seperti UBC Collection menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan beriringan. Melalui langkah kecil namun sistematis, Indonesia bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan berdaya saing.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












