Ekosistem MBG Mampu Ciptakan Pelaku Usaha Baru dan Stabilkan Harga Pangan
Suara Pecari | Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden RI tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga telah menjelma menjadi motor penggerak ekonomi baru di tingkat akar rumput. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, dalam pernyataannya di Jakarta pada Kamis, 11 Juni 2026, menegaskan bahwa MBG berhasil menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan petani, peternak, dan pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Program ini dinilai mampu menumbuhkan pelaku usaha baru sekaligus menstabilkan harga komoditas pangan yang selama ini rentan berfluktuasi.
Ekosistem Ekonomi dari Hulu ke Hilir
Menurut Muhaimin, salah satu dampak paling nyata dari MBG adalah terbentuknya rantai pasok yang menghubungkan produsen lokal—seperti petani sayur dan peternak ayam—dengan dapur-dapur penyedia makanan bergizi untuk anak sekolah. “Salah satu ekosistem yang paling terbentuk adalah bagaimana menumbuhkan pelaku usaha baru, sekaligus menstabilkan harga. Sehingga petani untung dari proses MBG,” ujarnya. Dengan adanya permintaan tetap dalam jumlah besar dari program MBG, petani tidak lagi khawatir akan anjloknya harga saat panen raya, sementara pelaku usaha kecil seperti katering dan pengolah makanan mendapat kepastian pesanan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana sebelumnya juga menyampaikan bahwa MBG telah membantu mengatasi gejolak harga telur dan sejumlah komoditas sayuran di Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui program pangan berskala nasional dapat menjadi alat stabilisasi pasar yang efektif. Berikut adalah gambaran dampak MBG terhadap beberapa komoditas:
| Komoditas | Fluktuasi Harga Sebelum MBG | Kondisi Setelah MBG |
|---|---|---|
| Telur Ayam | Sering naik-turun hingga 20% per bulan | Harga lebih stabil, penurunan volatilitas hingga 10% |
| Sayuran (bayam, kangkung) | Harganya anjlok saat panen raya | Permintaan tetap, harga di tingkat petani terjaga |
| Beras | Rentan spekulasi pasar | Diserap untuk MBG, mengurangi tekanan harga |
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Bawah
Muhaimin menekankan bahwa tujuan utama MBG adalah mendorong pemberdayaan ekonomi lapisan masyarakat terbawah. Dana yang beredar melalui program ini sangat besar dan harus memberikan manfaat langsung bagi mereka. “Konsentrasi utama dari BGN ini adalah ekosistem pemberdayaan ekonomi di bawah. Uang yang beredar di bawah jumlahnya sangat besar dan harus berdampak kepada mereka,” ujarnya. Untuk memastikan hal tersebut, pemerintah mengintegrasikan MBG dengan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025.
Data tunggal ini memungkinkan penyaluran manfaat MBG lebih tepat sasaran, terutama bagi masyarakat miskin, miskin ekstrem, dan wilayah tertinggal. Selain itu, Inpres Nomor 8 Tahun 2025 tentang Percepatan Pengentasan Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem juga menjadi pedoman, di mana penerima manfaat program diprioritaskan dari kelompok tersebut dan dilibatkan dalam ekosistem pemberdayaan ekonomi. Artinya, mereka tidak hanya menerima makanan gratis, tetapi juga berpeluang menjadi pemasok atau tenaga kerja dalam rantai pasok MBG.
- Dampak terhadap petani: Kepastian pasar, harga yang lebih stabil, dan peningkatan pendapatan.
- Dampak terhadap pelaku UMKM: Munculnya usaha katering, pengolahan pangan, dan logistik skala kecil.
- Dampak terhadap tenaga kerja: Terciptanya lapangan kerja baru di dapur komunitas dan distribusi.
- Dampak terhadap inflasi daerah: Berkurangnya gejolak harga pangan yang menjadi salah satu pemicu inflasi.
Tata Kelola Baru yang Lebih Baik
Muhaimin mengapresiasi langkah BGN yang terus memperbaiki manajemen program. Ia optimistis bahwa dengan tata kelola yang benar, akal sehat, dan tangan dingin, program unggulan Presiden ini akan berjalan semakin baik. “Kesimpulannya, saya sangat bahagia dengan manajemen baru ini. Saya optimistis program-program Presiden yang sangat bagus ini, kalau dikelola dengan manajemen yang benar, akal sehat, dan tangan dingin, maka akan bisa berjalan dengan baik,” ucapnya.
Perbaikan manajemen mencakup penggunaan data tunggal, digitalisasi proses, dan pengawasan ketat untuk mencegah kebocoran. Dengan demikian, MBG tidak hanya menjadi program sosial, tetapi juga instrumen pembangunan ekonomi yang inklusif.
Implikasi dan Prospek ke Depan
Keberhasilan MBG dalam menciptakan ekosistem ekonomi baru menunjukkan bahwa program bantuan sosial dapat dirancang untuk memiliki efek berganda (multiplier effect). Jika dikelola secara berkelanjutan, MBG berpotensi menjadi katalis transformasi ekonomi pedesaan, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, tantangan tetap ada, seperti memastikan partisipasi petani kecil, menjaga kualitas gizi, dan menghindari ketergantungan berlebih pada program pemerintah.
Dengan komitmen pemerintah dan dukungan semua pihak, MBG dapat menjadi model pemberdayaan yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memberdayakan ekonomi rakyat. Seperti yang ditegaskan Muhaimin, uang yang beredar di bawah harus berdampak langsung kepada mereka yang membutuhkan. Program ini adalah bukti bahwa kebijakan pangan yang tepat dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












